Minggu, 19 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Video

Video Menelusuri Jejak Kiai Sholeh Darat Ulama Besar di Semarang

Jejak ulama penting dalam penyiaran islam Nusantara asal Semarang yakni Kiai Sholeh Darat.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: abduh imanulhaq

Namun Kiai Sholeh akhirnya memilih pulang ke Nusantara. 

Kiai Sholeh mengajar di Pondok Pesantren Darat milik sang mertua, KH Murtadlo di Kampung Darat yang kini bernama Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. 

Sebutan Darat yang disematkan  berasal dari masyarakat yang merujuk pada tempat tinggalnya.

Kiprah Kiai Sholeh semakin moncer dengan perkembangan pesat pondok pesantrennya. 

Santri dari penjuru nusantara datang untuk belajar Ngaji ke Kiai Sholeh. 

Sejumlah nama ulama besar pernah nyantri di pondok tersebut. 

Di antaranya pendiri NU KH Hasyim Asy'ari , pendiri Muhamadiyah KH Ahmad Dahlan, KH Munawir, KH Mahfudz  Kiai Amir Pekalongan yang selanjutnya menjadi menantu Kiai Sholeh Darat, dan pejuang emansipasi wanita Indonesia RA Kartini. 

Khusus RA Kartini tidak mondok di situ, cerita Kartini Ngaji ke Kiai Sholeh lantaran sering diundang orangtua Kartini memberikan pengajian di Pendopo dari situlah cocok dengan gaya dakwah sang kiai sehingga  Kartini memilih mengaji secara pribadi ke Kiai. 

"Ajaran ayat-ayat dari Mbah Sholeh kepada Kartini menginspirasinya membuat buku Habis Gelap Terbitlah Terang berasal dari ajaran ayat suci yang disampaikan Mbah Sholeh Dari Kegelapan Menuju Terang," ujarnya. 

Dia mengungkapkan, masih menyimpan satu kitab peninggalan Kiai Sholeh Darat berupa Majemuk Syariah yang menyampaikan hukum-hukum Islam. 

Kitab tersebut masih tersimpan rapi dengan kondisi baik. 

Ciri-ciri karya Kyai Sholeh Darat ada tulisan warna merah di tiap halaman. 

Maksut tanda merah sebagai penekanan, penegasan maupun koreksi dari tiap pembahasan di halaman tersebut. 

Total ada sekira 39 karya Kiai Sholeh namun sudah tersebar entah kemana lantaran beliau hobi memberikan kitab-kitab karyanya kepada para murid. 

"Keluarga Mbah Sholeh darat  atau Lukman Hakim Saktiawan, cicit Kiai Sholeh Darat atau Gus Lukman mempercayakan  saya untuk menyimpannya," terangnya. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved