Berita Video
Video Menelusuri Jejak Kiai Sholeh Darat Ulama Besar di Semarang
Jejak ulama penting dalam penyiaran islam Nusantara asal Semarang yakni Kiai Sholeh Darat.
Penulis: iwan Arifianto | Editor: abduh imanulhaq
Dalam perjalanannya, ajaran sang kiai sempat tak populer lagi dan namanya kian redup.
Chomsin menilai, hal itu lantaran berasal dari faktor internal keluarga keturunan sang kiai yang ada perpecahan internal.
Namun dia urung menyebut detail persoalan tersebut.
Selanjutnya, cicit sang kiai, yang tak lain adalah putra KH Ali Cholil mendeklarasikan diri untuk kembali ke ajaran kiai Sholeh Darat.
"Saya tidak akan mengikuti ajaran bapak tapi saya akan mengikuti ajarannya Mbah Sholeh," terang Chomsin Basri menirukan Gus Lukman.
Upaya kembali ke ajaran sang kiai adalah dengan menata kepengurusan masjid.
Dia mengatakan, semangat dan perjuangan Kiai Sholeh Darat dihidupkan lagi.
Beragam aktivitas khas Kiai Sholeh Darat rutin dilakukan seperti pengajian rutin dan kajian kitab seperti kajian kitab majemuk syariah dan amalan Burdah.
Kegiatan membedah kitab-kitab karya Kiai Sholeh Darat diaktifkan kembali.
Petilasan makam Kiai Darat di samping Masjid di tata, haul atau peringatan wafat sang kiai pada 10 Syawal (tepatnya 18 Desember 1903) kembali diselenggarakan.
Lokasi makam tepatnya berada di sisi selatan Masjid dengan bangunan sederhana.
Kondisi makam kini sudah berupa bangunan permanen luas sekira 6 meter x 6 meter dengan dominasi cat warna putih.
Sebelum Pandemi Covid-19,Masjid selalu ramai dikunjungi petakziah.
Rombongan petakziah berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.
Bahkan pernah satu kali rombongan peziarah ada 15 bus dengan ratusan jemaah.
"Hal itu menunjukan pamor Kiai Sholeh Darat memang hidup di masyarakat Islam Nusantara," terangnya.
Meski aktivitas di Majid peninggalan Kiai Sholeh kembali menggeliat.
Takmir Masjid tak memanfaatkan hal itu secara ekonomi.
Ribuan peziarah yang datang dipersilahkan saja tanpa dipungut biaya apapun.
"Sebenarnya di samping Masjid itu hanya petilasan. Makam aslinya disebut ada di Bergota Semarang.
Namun para peziarah lebih suka datang ke sini alasannya fasilitas lebih memadai seperti tempat parkir, Masjid, dan lainnya," paparnya.
Menurut Chomsin, pihak keluarga memang mencoba menyusun kembali peninggalan-peninggalan Kiai Sholeh Darat.
Mulai dari menemukan foto sosok Kiai dan mengumpulkan kitab-kitab karyanya.
Terkait foto pihak keluarga memang sudah tak menemukannya lagi.
Dia juga sempat meminta tolong kepada temannya saat berada di Belanda untuk mencari foto Kiai Sholeh Darat pada 2019 lalu.
"Hasilnya nihil padahal foto ulama seangkatan beliau atau ulama lainnya ada di museum-museum Belanda," terangnya.
Selanjutnya terkait Karya, dia meminta kepada semua pihak yang masih memiliki kitab karya Kiai Sholeh Darat kalau ada keikhlasan atau kerelaan hati untuk menyerahkan kitab tersebut ke Masjid Kiai Sholeh Darat.
"Kami memang kesulitan melacaknya sehingga mungkin dari pihak yang merasa memilikinya untuk menyerahkan ke pihak Masjid sebagai upaya melestarikan karya Mbah Sholeh," tandasnya. (*)
TONTON JUGA DAN SUBSCRIBE :