Berita Kudus
Muthofa Pengrajin Bedug Asal Demak: Pernah Kirim ke Yoguslavia, Garap Pesanan Soeharto dan SBY
H Musthofa (60) terjun bisnis pembuatan dan perbaikan bedug sejak 1969, saat dia masih berusia 9 tahun.
Penulis: Muhammad Yunan Setiawan | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - H Musthofa (60) terjun bisnis pembuatan dan perbaikan bedug sejak 1969, saat dia masih berusia 9 tahun. Saat dia masih membantu bapaknya. Kini dia adalah generasi ketiga yang menjalankan bisnis ini sepeninggal kakek dan ayahnya.
Pria yang bermukim di Tanubayan, Kelurahan, Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak ini bercerita, sejak puluhan tahun menekuni bisnis sudah berkali-kali terima pesanan dari luar pulau Jawa. Bahkan juga pernah kirim hingga Yogoslavia.
"Ini lagi garap pesanan bedug dari Maluku," kata Mustofa kepada Tribun Jateng, Minggu, (25/4/2021).
Bapak lima anak ini menambahkan, satu hal yang terus dipertahankan sehingga banyak orang pesan bedug kepada dirinya adalah kualitas. Untuk soal itu, dia tidak bisa ditawar. Segala bahan pembuatan berasal dari kualitas terbaik.
"Saya kasih kulit kerbau yang tidak pernah sakit. Kayunya pun ada dari pohon Nangka, Mahoni, Trembesi," tuturnya.
Pria kelahiran 11 Agustus 1960 itu menyatakan dirinya berani memberi garansi hingga lima tahun kepada pemesan bedug. Jaminan itu, tutur dia, yang membedakan dirinya dengan pengrajin bedug di Demak. Menurutnya pengrajin lain tidak ada yang berani memberi garansi sampai selama itu.
"Ini saya baru saja terima perbaikan bedug. Dulu dia pesan ke saya pada 6 Desember 1990, terus dikembalikan di sini karena rusak baru kemarin 21 April 2021. Baru 30 tahun baru rusak. Ini pesanan asal Purwodadi," ujar Musthofa sembari menunjuk satu Bedug rusak yang akan ia perbaiki.
Menurutnya, jaminan kualitas bedug buatannya itu yang membuat sejumlah pejabat tidak ragu memesan bedug kepadanya. Dia menyebut dari pejabat tingkat daerah hingga pusat pernah ia layani. Bahkan setingkat presiden.
"Hanya Gus Dur dan Jokowi, presiden yang belum pernah pesan di sini," ucapnya.
Dikatakan Musthofa, Presiden Soeharto pernah pesan 1 stel bedug ukuran 1 meter. Presiden Habibie pesan 8 stel bedug ukuran 80 cm, Megawati pernah pesan 1 stel bedug ukuran 65 cm. Begitu juga dengan presiden selanjutnya SBY.
Musthofa meyakini kepopuleran bedug buatannya hanya berasal dari mulut ke mulut. Banyak orang yang pecaya kualitas kerjanya karena dalam menjalankan bisnis ini, kata dia, prinsip teken, tekun, dan jujur wajib dilakukan.
"Sama satu lagi. SNI. Sabar, nrima, lan ikhlas."
Untuk itu, ujar dia, proses pembuatannya memang tidak main-main. Satu bedug bisa dikerjakan hingga 15 hari. Dalam sebulan, ucap dia, rata-rata menerima pesanan 3 hingga 4 bedug. Kata Musthofa, bedug buatannya harganya beragam, dari yang termurah ukuran 65 cm dipatok harga Rp13,5 hingga yang paling mahal Rp170 juta ukuran 160 meter.
"Itu harga satu stel. Satu bedug. Satu tiang penyangga, satu kentongan, dan dua alat pukul bedug," imbuhnya.
Ditanya terkait rahasia kualitas bedug buatannya, Musthofa hanya menjawab ringkas.
"Modal saya cuma mutu. Mutu kalau saya jaga Insya Allah sedulurnya banyak," tandasnya. (*)