Breaking News:

Liputan Khusus

UPDATE Proyek Tol Semarang-Demak di Wonosalam, Ganti Untung dan Tanah Musnah

Ada sejumlah bidang lahan yang saat ini kondisinya berupa laut atau pantai karena abrasi dan rob bertahun-tahun.

Editor: iswidodo

Total ia melepas tanah waris tegalan miliknya berukuran 20x40 meter dengan harga Rp 450 juta. Nilai tersebut menurutnya jauh lebih tinggi dibanding belum ada proyek tol Semarang-Demak.
"Kalau belum ada tol untuk tanah tegalan ukuran 20x40 milik saya paling hanya laku Rp50 juta, tapi ini karena ada jalan tol bisa terjual Rp 450 juta," imbuhnya.

Dijelaskannya, proses transaksi tersebut sudah selesai sejak dua bulan lalu. Selain dibagi kepada anak-anaknya hasil penjulan tanah tegalan tersebut sudah terpakai untuk membeli sepeda motor.

Menurut Dul, demikian sapaan akrab Abdul Manaf, tidak semua pemilik lahan sama harganya. Tergantung jenis tanah dan kesepakatan masing-masing. Ia mencontohkan untuk harga jenis tanah persawahan pasti akan dihargai lebih mahal dibanding tanah tegalan seperti miliknya. Begitu juga dengan tanah yang sudah dibangun rumah, lebih mahal lagi.

Namun dirinya tidak mengetahui secara jelas berapa masing-masing besaran ganti untung. Sebab semua kembali lagi pada si punya tanah, dan kesepakatan dua belah pihak.

"Ada satu dua orang di desa saya yang belum melepas tanahnya, mereka beralasan yang butuh proyeknya bukan saya. Mungkin belum terjadi kesepakatan harga," pungkas Dul.

Minta Rp 820 Ribu
Persoalan belum cocok harga untuk lahan milik warga di Desa Karangrejo dan Desa Kendaldoyong di Kecamatan Wonosalam, serta Desa Loireng di Kecamatan Sayung akan terus diupayakan biar tuntas.

Sukarman, warga Desa Karangrejo, mengatakan tanah yang dimilikinya dihargai oleh appraisal dan KJPP (Kantor Jasa Penilai Publik) yang ditunjuk oleh PT PP, seharga Rp 140 ribu per meter. Padahal menurut pemahamannya, ganti untung minimal 10x dari NJOP (Nilai Jual Objek Pajak).

"Lahan saya dihargai Rp 140 ribu permeter. Kalau sesuai Undang Undang seharusnya kan minimal 10 dikali NJOP. Kalau dihargai sesuai aturan, seharusnya tanah saya dihargai Rp 820 ribu permeter," ucapnya.

Sejatinya, Sukarman tidak berkeberatan apabila tanahnya digunakan untuk pembangunan tol Semarang-Demak. Namun, ia hanya meminta kesesuaian ganti untung yang tidak merugikan pihaknya.

"Kami mendukung program tersebut, namun harusnya nasib kami juga diperhatikan. Karena lahan yang terdampak jalan tol Semarang-Demak seksi II ini dibeli dengan harga yang tidak sesuai. Kami sudah ajukan surat permohonan audiensi kepada wakil rakyat dan gubernur kami. Kami harap bisa mendapatkan solusi nantinya," tambahnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved