Mantan Teroris Isi Dakwah Ramadan Pondok Pesantren Darul Falah Be-Songo Semarang
Mantan narapidana terorisme (Napiter) tergabung dalam komunitas Persadani lakukan safari Ramadan pondok pesantren yang ada di Kota Semarang.
Penulis: rahdyan trijoko pamungkas | Editor: Daniel Ari Purnomo
Penulis: Rahdyan Trijoko Pamungkas
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Mantan narapidana terorisme (Napiter) tergabung dalam komunitas Persadani lakukan safari Ramadan pondok pesantren yang ada di Kota Semarang.
Pondok pesantren yang dikunjungi saat melakukan safari Ramadan adalah Pondok Pesantren Darul Falah Be-Songo, Kamis (29/4/2021).
Safari Ramadan bertajuk Deradikalisasi Goes To Ponpes diisi oleh mantan napiter Badawi Rahman alias Yusril.
Selain itu Kasat Binmas Polrestabes Semarang AKBP Samdani, Rektor UIN Walisongo yang juga pengasuh pondok pesantren Prof. Dr. Imam Taufiq, M.Ag ikut mengisi kegiatan tersebut.
Pada kegiatan tersebut Badawi menceritakan sejarah kelamnya selama terpapar radikalisme hingga tukang rakit senjata di Klaten. Ia pun menceritakan bagaimana dalil-dalil yang membuat orang terpapar radikalisme.
Menurut Badawi, Deradikalisasi diadakan di pondok pesantren sangatlah strategis. Sebab banyak santri di Pondok Pesantren yang terpapar radikalisme.
"Banyak santri di Pondok Pesantren yang terpapar radikalisme," ujar dia.
Pada kegiatan safari Ramadan, Badawi memberikan materi mengenai netral dari orang-orang yang terpapar radikalisme. Netral yang dipahami para teroris berbeda dengan pondok pesantren.
"Namun tidak menutup kemungkinan jika pondok pesantren pemahamannya tidak runtut akan bisa terpapar," tuturnya.
Menurutnya, faham radikalisme sangat mudah disebarkan melalui media sosial. Faham tersebut saat ini menyasar kaum milenial.
"Kaum milenial di Pondok Pesantren sangat mudah terpapar. Karena masih muda, energik, dan masih mencari jati diri," imbuhnya.
Dikatakannya, keilmuan Pondok Pesantren sangatlah mudah dimanfaatkan untuk mempaparkan faham radikalisme. Hal inilah yang membuat santri di Pondok pesantren rentan terpapar faham radikalisme.
"Jadi penangkal radikalisme dilakukan dengan keilmuan," tuturnya.
Ia menuturkan aksi dilakukan oleh terorisme menggunakan dasar. Namun cara menafsirkannya tersebut menggunakan penafsiran sendiri.
" Jadi kalau di pondok pesantren yang menafsirkan ulama. Kalau ulamanya salah santrinya juga bisa ikut salah," tandasnya.
Sementara itu, Rektor UIN Walisongo Imam Taufiq mengatakan fenomena tindakan kekerasan, radikalisme dan terorisme perlu dipahami seluruh elemen masyarakat. Adanya safari Ramadan bagian strategis untuk menyampaikan ke publik bahwa tindakan tersebut merupakan masalah bersama.
"Safari Ramadan merupakan kegiatan paling pas melakukan refleksi diri," tutur dia.
Menurut dia, penyebaran gagasan kekerasan, radikalisme, dan terorisme dilakukan secara simultan dan sistemik. Gagasan tersebut disebarkan di media sosial.
"Oleh sebab itu salah satu cara yang harus dilakukan adalah memberikan informasi, pegangan, dan arahan kepada kaum milenial agar lebih berhati-hati," ujarnya.
Ia menghimbau kepada kaum milenial agar tidak mencari ilmu agama dari media sosial. Ilmu tersebut dapat dicari melalui guru dengan syarat yang jelas.
"Hal ini perlu disampaikan karena mereka masa depan bangsa, mereka yang menguasai media sosial," tuturnya.
Kasat Binmas Polrestabes Semarang, AKBP Samdani, menturkan Safari Ramadan yang dilakukannya merupakan upaya untuk mengurangi faham radikalisme, dan terorisme.
"Kami bersama Kemenag Kota Semarang mengajak para Kiai, pondok pesantren untuk bersama-sama agar para santri bisa memimilih-milih antara keyakinan yang benar dan salah," ujarnya.
Ia menuturkan Safari Ramadan telah dua kali dilaksanakan. Kegiatan tersebut akan diadakan berkelanjutan selama bulan ramadan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/mantan-terosi-badawi-rahman.jpg)