Opini
OPINI DR Agung Sudarmanto: "Titanic" di Kedung Ombo
ENTAH karena kepiawaian James Cameron penulis skenario dan sekaligus sutradara film layar lebar Titanic yang mengisahkan tragedi tenggelamnya RMS
Oleh DR Agung Sudarmanto, MM
Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional Kota Semarang
ENTAH karena kepiawaian James Cameron penulis skenario dan sekaligus sutradara film layar lebar Titanic yang mengisahkan tragedi tenggelamnya RMS (Royal Mail Ship) Titanic di Atlantik Utara dalam pelayaran perdananya tanggal 15 April 1912.
Atau karena peristiwa tenggelamnya Titanic bersama penumpangnya yang tergolong kaum papan atas/ ningrat bangsawan. Atau karena keduanya, sehingga setiap kali terjadi kecelakaan transportasi air nama Titanic “muncul” ke permukaan. Ingat kecelakaan transportasi air , ingat tragedi Titanic !
Saking populernya tragedi RMS Titanic mengakibatkan setiap kejadian kecelakaan transportasi air, meski tidak harus di samudra luas, di lautan, di selat atau di danau, kecelakaan di waduk pun nama Titanic ikut serta dibincangkan, termasuk kejadian di waduk Kedung Ombo.
Bercermin ke Titanic
Sejarah film layar lebar pernah menganugerahkan banyak penghargaan piala Oscar kepada film Titanic dalam ajang Academic Award ke-70. Gelar yang “disabet” antara lain perhargaan untuk Best Picture, Best Director, Original Dramatic Score, Art Direction, Makeup, Costume Design, Film Editing, Visual Effects, Sound, Sound Effects Editing, dan Original Song dengan lagu "My Heart Will Go On."
Namun di balik kesuksesannya, Film tersebut juga dapat dijadikan “cermin” pelajaran bagi dunia keselamatan, karena di dalamnya sarat dengan pesan – pesan yang perlu diindahkan agar kecelakaan tidak terjadi, atau paling tidak diminimalisir potensi risikonya.
Terdapat 3 (tiga) variabel penyebab kecelakaan yang banyak dikenal selama ini yakni variabel kebijakan (antara lain berwujud kebijakan perusahaan, standar kerja, budaya keja), kondisi tidak aman/ selamat (unsafe condition) dan perilaku tidak selamat (unsafe act). Dari ketiga variable tersebut nampaknya perilaku tidak selamat menempati porsi terbesar penyumbang kecelakaan.
Kondisi Titanic yang serba mewah, indah dan modern untuk ukuran kapal waktu itu membuat manajemen Titanic sangat percaya diri. Peralatan keselamatan seperti sekoci dan pelampung, baik kualitas, jumlah maupun peletakannya tidak menjadi prioritas karena adanya keyakinan bahwa Titanic yang modern itu tidak bakal tenggelam. Perlengkapan keselamatan apabila disediakan sesuai standar safety malahan dapat dianggap akan mengurangi “kewibawaan” Titanic atau mengganggu segi estetika kapal. Bahkan,“Tuhanpun tidak bisa menenggelamkan kapal ini”, kata salah seorang pemeran dalam film tersebut.
Meski sebagian besar badan kapal tersebut terbuat dari besi yang dapat tenggelam, namun keyakinan akan “kesempurnaan dan kecanggihan” Titanic mampu membuang jauh – jauh kosa kata “tenggelam” apabila bicara tentang Titanic.
Nakhoda Berpengalaman
Tenggelamnya Titanic tidak dikarenakan nahkoda yang kurang “jam layar”nya, yang masih “bau kencur”, atau yang masih kategori anak. Personal yang menahkodai Titanic waktu itu adalah nahkoda senior yang sudah banyak makan “asam garam”, mengerti benar tentang langkah yang harus diambil apabila terjadi kecelakaan, termasuk penyelamatan penumpang, serta tanggungjawab yang harus dipikulnya. Dan ternyata banyaknya “jam layar” tidak menjamin kecelakaan bisa dicegah.
Tetap ada celah penyebab kecelakaan. Jikalau “bercermin” pada film Titanic, maka celah – celah penyebab kecelakaan antara lain : (1) Ketika datang informasi perihal datangnya badai, nahkoda tidak mengambil langkah antisipasinya. Informasi bahaya tersebut malah dijawab dengan perintah kepada stafnya agar menambah kecepatan kapal.
Nahkoda menganggap informasi bahaya itu hal yang biasa, rutinitas belaka, (2) Kapal Titanic waktu itu adalah kapal mewah yang masih dalam taraf uji coba atau inreyen, belum teruji kehebatannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/agung-sudarmanto-ketua-lembaga-kebudayaan-nasional-kota-semarang.jpg)