Opini
OPINI DR Agung Sudarmanto: "Titanic" di Kedung Ombo
ENTAH karena kepiawaian James Cameron penulis skenario dan sekaligus sutradara film layar lebar Titanic yang mengisahkan tragedi tenggelamnya RMS
Namun karena tekadnya ingin terkenal, maka kapal dipacu lebih cepat agar lebih cepat pula kapal mencapai tujuan, surprise !,(3) Adanya informasi gunung es juga tidak ditanggapi dengan langkah antisipasi, bahkan alat pendeteksi gunung es sengaja tidak dimanfaatkan. Dan masih banyak contoh lain dalam film tersebut sebagai guide dalam bidang safety.
Wisata Kreatif
Wisata rekreatif adalah kebutuhan pelancong masa lampau, sekarang mulai begeser ke wisata kreatif. Pergeseran tersebut menggiurkan pelaku industri wisata, baik pemain lama maupun pendatang baru.
Saat ini, venue wisata kreatif banyak bertebaran di berbagai tempat, berlomba menampillan “keunggulan-keunikannya” untuk menyedot wisatawan. Keinginan pengunjung menonjolkan eksistensinya banyak diakomodasi dengan menyediakan game – game menantang, semacam “uji nyali”.
Demikian juga, semakin unik venue wisata, juga semakin menggoda peminatnya. Barangkali hal ini berlaku untuk warung apung di waduk Kedungombo, Boyolali. Namun nampaknya kurang diimbangi dimensi safetynya.
Sekedar catatan, meski jarak tempuh perahu ke warung apung Kedung Ombo hanya 50 meter, kedalaman antara 20-25 meter, namun perahu nahas itu membawa penumpang melebihi kapasitas, ditambah perilaku penumpang yang selfie di ujung perahu sehingga berpengaruh pada “keseimbangan” perahu.
Tidak ada yang memberi informasi kepada penumpang tentang peraturan keselamatan ketika akan menaiki perahu, tidak ada pelampung yang memadai, dan barangkali juga tidak ada yang secara serius menegur apabila penumpangnya melebihi kapasitas perahu dan atau yang melakukan selfie di ujung perahu.
Apakah “nahkoda” perahu mampu mengatur penumpangnya agar selamat sampai tujuan? dan ketika perahu terbalik, apakah “nahkoda” mampu mengambil langkah penyelamatan yang bertanggungjawab?
Saya kira jawabnya sudah dapat diduga, karena “nahkoda” yang membawa perahu naas itu masih tergolong anak – anak dengan usia 13 tahun.
Barangkali motto “utamakan selamat” perlu segera digaungkan untuk memperbaiki manajemen tempat – tempat wisata agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. (*)
Baca juga: FOKUS : Klaster Aneh Tepian Kendal
Baca juga: OPINI HAMIDULLOH IBDA: Zakat Produktif untuk Pendidikan
Baca juga: OPINI Guru: Makna Idulfitri di Masa Pandemi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/agung-sudarmanto-ketua-lembaga-kebudayaan-nasional-kota-semarang.jpg)