Breaking News:

Berita Semarang

LPPM Upgris Gandeng APPPI Jateng Gelar Srawung Ilmiah Nasional

LPPM Universitas PGRI Semarang (Upgris) menggelar srawung ilmiah nasional secara virtual.

Istimewa
Rektor Upgris, Muhdi, menyampaikan sambutan dalam acara srawung ilmiah nasional secara virtual melalui platform zoom, kemarin. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pusat Pendidikan dan Humaniora Lembaga Penelitian dan Pengabdaian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas PGRI Semarang (Upgris) menggelar srawung ilmiah nasional secara virtual melalui platform zoom.

Acara yang digelar bekerja sama dengan Asosiasi Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia (APPPI) Provinsi Jawa Tengah itu diikuti sekitar 600 peserta dari kalangan mahasiswa, guru, dosen, serta praktisi pendidikan.

Ketua panitia, Iin Purnamasari menjelaskan, latar belakang kegiatan srawung ilmiah nasional di antaraya hakikat dari tujuan pendidikan adalah mencetak manusia yang beradab.

"Masalah mendasar yang harus dirumuskan dalam tujuan pendidikan adalah mengembalikan adab yang hilang dalam sistem pendidikan kehidupan ummat," kata Iin, dalam keterangannya, Kamis (27/5/2021).

Menurutnya, manusia yang kehilangan adab akan kehilangan arah dan tujuan asasi serta keteraturan dalam membangun jasmani, rohani dan pemikiran.

Rektor Upgris, Muhdi mengaku bangga dengan kegiatan srawung ilmiah nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Humaniora LPPM.

"Hal ini menunjukan bentuk tanggung jawab sebagai lembaga pendidikan yang memperhatikan perkembangan dunia Pendidikan di tanah air," katanya.

Ia menuturkan, Upgris selalu memberikan ruang kepada praktisi agar mampu berkolaborasi mewujudkan pendidikan yang bermutu. Kerjasama yang apik menjadikan kualitas pendidikan di Indonesia menjadi tertata dengan baik dan berkualitas.

Beberapa narasumber yang hadir di antaranya, Prof Hafidz Abbas dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang menyampaikan materi Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035.

Kemudian, Prof Cahyono Agus DK dari Universitas Gadjah Mada (UGM), yang menyampaikan materi Restorasi Pendidikan Nasional Menuju Indonesia Maju. Dan, Isnandar dari Universitas Negeri Malang (UNM), yang menyampaikan materi Pendidikan dan Industri 4.0, Society 5.0.

Prof Hafidz Abbas mengatakan, sebagai pendidik tidak mengharapkan pendidikan di Indonesia diarahkan pada tujuan-tujuan jangka pendek yang hanya memperhatikan urusan yang bersifat profan saja.

"Akan tetapi, jangan lupa ilmu dan pengetahuan yang membangun hakikat dan jati diri sebuah bangsa yang besar tidak boleh dilupakan, sehingga anggapan bangsa kita sekarang laksana raksasa yang terlupakan (forgetfull giant), sehingga tidak mampu mengidentifikasi potensi dan kekuatan dirinya adalah hal yang keliru," katanya.

Adanya kesesuaian antara konten pendidikan dan tantangan praktis yang dihadapi di dunia kerja, katanya, memerlukan kebijakan yang berkesinambungan dan terintegrasi dalam sebuah road map kebijakan besar membangun perubahan bangsa dan negara ke arah yang lebih positif dan berdaya saing tinggi.

Namun, lanjutnya, kesejatian dalam membangun tradisi ilmu dan belajar yang menjadi ciri sebuah bangsa yang besar harus terus digaungkan oleh kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta dilaksanakan oleh para pejuang pendidikan, baik di rumah, sekolah, madrasah, pondok pesantren, dan perguruan tinggi. (*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved