Berita Duka
Innalillahi Wa Innailahi Rojiun Kiai Jadzab asal Rembang KH Abdullah Afif bin Zubaidi Tutup Usia
Sosok ulama kharismatik asal Rembang, KH Abdullah Afif bin Zubaidi, wafat pagi ini, Rabu (2/6/2021) sekira pukul 05.00 WIB.
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: rival al manaf
Penulis : Mazka Hauzan Naufal
TRIBUNJATENG.COM, REMBANG - Innalillahi Wa Innailahi Rojiun sosok ulama kharismatik asal Rembang, KH Abdullah Afif bin Zubaidi, wafat pagi ini, Rabu (2/6/2021) sekira pukul 05.00 WIB.
Beliau tutup usia di kediamannya, Desa Karas, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang.
Wakil Katib Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Rembang, Fahruddin, mengatakan jenazah akan dimakamkan sekira pukul 14.00.
Dia menyebut, KH Abdullah Afif merupakan sepupu dari Almarhum KH Maimoen Zubair.
Baca juga: BREAKING NEWS : Laka Maut di Pantura Rembang, Bus Sinar Mandiri Vs Sepeda
Baca juga: Semen Gresik Bagikan Masker dan APD untuk Dukung Rembang Bebas Covid-19
Baca juga: Kisah Irzan Kayuh Sepeda 3 Hari, Mudik dari Rembang ke Pemalang, Paling Berat Jalur Pati-Demak
Fahruddin mengenang KH Abdullah Afif sebagai sosok yang punya kelebihan khusus. Menurut dia, banyak yang mengenal almarhum sebagai sosok Kiai Jadzab (nyeleneh/nyentrik).
“Beliau terkenal sebagai ulama khash, ahlul hikmah, cenderung banyak diam tetapi banyak yang sowan pada beliau. Tapi yang sowan pada beliau hanya sekadar mendapatkan oleh-oleh isyarat. Jadi beliau tidak banyak ngendikan. Namun, apa yang menjadi laku-lampah beliau cenderung pada isyarat-isyarat tertentu,” papar Fahruddin ketika dihubungi Tribunjateng.com via sambungan telepon, Rabu (2/6/2021) pagi.
Ia menambahkan, banyak orang yang kemudian menafsirkan apa yang beliau lakukan sebagai tanda-tanda alam.
Misalnya, ada seseorang yang mengalami kesulitan ekonomi sowan pada beliau.
“Kemudian tidak dingendikani (dinasihati) apa-apa, melainkan dikasih minuman yang rasanya pahit atau apa. Kemudian orang menafsirkan bahwa ‘oh, memang kami sedang mengalami masa pahit,’ kadang begitu,” jelas Fahruddin.
Dia menuturkan, suatu ketika, pernah pula ada beberapa tamu datang sowan. Oleh almarhum, tiap-tiap mereka diberi minuman dengan kadaer berbeda. Ada yang penuh satu gelas, ada yang sedikit.
“Memang aneh-aneh, kadang tidak logis. Demikianlah kami mengenal beliau sebagai kiai jadzab,” ujar Fahruddin.
Ia menyebut, dirinya sendiri punya pengalaman personal dengan KH Abdullah Afif yang membuatnya mantap menentukan pilihan hidup.
“Waktu itu saya masih dalam keadaan bimbang, awal berumah tangga harus ke mana. Dulu namanya darah muda saya pengen jadi pengusaha. Tapi saya dapat isyarat, beliau sering datang ke rumah tiba-tiba saya dikasih kitab. Saya memahaminya ya saya diminta belajar lagi, kemudian mengajar ilmu agama, akhirnya saya memutuskan untuk mau mengajar mengaji,” ungkap dia.
Sebagai ulama, sebut Fahruddin, KH Abdullah Afif tidak mengajar secara formal. Namun, riwayatnya, saat muda dulu almarhum pernah mengajar di sebuah madrasah di Sarang.