Berita Semarang
Dua Bocil Semarang Pencuri Motor, Buat Keliling Sampai Kota Lama, Spion dan Pelat Nomor Dipreteli
Muhammad Yupiter (25) tidak mengira motor maticnya dicuri oleh anak-anak yang masih ingusan. Saat dicek, spion dan pelat nomor sudah dipreteli.
Penulis: rahdyan trijoko pamungkas | Editor: moh anhar
Penulis: Rahdyan Trijoko Pamungkas
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Karyawan barbershop Dapper di Jalan Kenconowungu Tengah 1 RT 1/4 Karangayu, Muhammad Yupiter (25) terlihat sumringah saat menjemput sepeda motor matic Honda Beat-nya di Polsek Semarang Barat, Senin (7/6).
Sebelumnya motor milik Yupiter ini dicuri dua bocil (bocah cilik) NDW dan SR saat sedang membuka usaha pangkas rambutnya pada Minggu (30/5) lalu.
Dua bocil itu diketahui masih duduk di bangku sekolah kelas 6 SD.
Saat dihadirkan di Polsek Semarang Barat, sepeda motornya sudah dalam kondisi pretelan tanpa pelat nomor dan spion.
Yupiter mengaku mencari motornya terlebih dahulu sebelum melaporkan ke kepolisian.
Dia tidak mengira ketika motornya itu dicuri oleh anak-anak yang masih ingusan.
"Waktu itu kunci saya letakkan di meja kasir. Saya tidak tahu kapan datangnya dua bocil itu. Ngerti sepeda motor hilang pukul 10.00 pagi, saat akan membuka barbershop. Motor diambil waktu karyawan sedang tidur," jelasnya.
Menurutnya, motornya tersebut ditemukan oleh temannya yang mengetahui ada dua bocil mengendarai Beat-nya itu.
Dia dihubungin temannya untuk membawa BPKB dan STNK.
"Saya diminta bawa STNK dan BPKB," ujarnya.
Baca juga: Kecelakaan Mobil Terbalik dan Ringsek di Simpang Susun Semanggi Jakarta, Netizen Tuduh Sopir Mabuk
Baca juga: Pengantin Bingung Ada Artis Datangi Pesta Pernikahannya padahal Tak Diundang, Langsung Ambil Makanan
Baca juga: Viral Motor Ducati Standar Pabrik Kena Tilang Polisi di Senayan City
Setelah dua bocil itu tertangkap, ia memilih jalur perdamaian.
Alasan perdamaian karena kedua pelaku masih anak-anak.
"Saya mengenal satu diantara dua bocah tersebut. Satu bocah merupakan tetangga," tandasnya.
Kapolsek Semarang Barat, Kompol Dina Novitasari mengatakan, korban melaporkan kejadian itu ke Polrestabes Semarang sehari setelah motornya hilang.
"Namun saat motor korban dibawa keliling oleh pelaku, ada teman pelapor yang melihat motornya kok mirip. Setelah dicocokan STNK dan dan BPKB ternyata sama, lalu dibawa ke Polsek ke Semarang Barat," ujar dia.
Karena pelakunya masih dibawah umur, kata dia, korban menempuh jalur restoratif justice.
Keluarga pelaku sudah meminta maaf kepada pelapor.
"Kemudian perkara itu diselesaikan secara kekeluargaan," tutur dia.
Dikatakannya, motor itu oleh pelaku tidak akan dijual. Pelaku menggunakan motor korban untuk jalan-jalan.
"Motor itu digunakan keliling-keliling sampai Kota Lama," jelas dia.
Kompol Dina mengatakan, kedua bocil itu kurang pengawasan orang tua.
Kedua pelaku yang masih tergolong anak-anak itu memang setiap harinya sering pulang larut malam.
"Anak itu butuh pengawasan ekstra dari orang tua. Malam hari anaknya belum pulang," imbuhnya.
Ia mewajibkan setelah adanya perdamaian mewajibkan kedua bocil itu wajib lapor.
Pihaknya akan menyesuaikan batas waktu wajib lapor yang diterapkan kedua bocil itu.
"Kami telah memberikan wejangan kepada keluargannya untuk mengawasi anaknya mulai dari pergaulannya," tandasnya.
Baca juga: Sinkronisasi Data Rapid, Hartopo Cegah Positif Covid-19 Berkeliaran
Baca juga: Bagaimana Video Adegan Sejoli Mesra di Kebun Teh Kemuning Bisa Tersebar? Ini Kata Kepala Desa
Baca juga: Chord Kunci Gitar Ngidam Penthol Bajol Ndanu Ft. Fira Cantika & Nabila
Karakter Menurun
Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Gunawan Sapto Giri mengakui bahwa pembelajaran daring terdapat segi negatif pada peserta didik.
Oleh sebab itu saat ini telah dilakukan uji coba pembelajaran tatap muka tahap 1 dan 2 serta akan dilanjutkan pada tahap ketiga.
"Kami harapkan nanti semua sekolah negeri ada tatap muka, dan sekolah swasta," ujar dia.
Pada pembelajaran tatap muka, kata dia, yang akan diajarkan adalah masalah karakter. Kemudian yang akan diterapkan adalah penguatan karakter.
"Artinya kami akan tingkatkan karakter peserta didik yang selama ini ada penurunan," imbuhnya.
Dia mengakui selama ini ada penurunan karakter peserta didik yang disebabkan faktor lingkungan. Selain itu penyebab penurunan karakter adalah peserta didik dibekali ponsel.
"Dulu anak tidak boleh membawa handphone (ponsel). Sekarang malah dibawakan handphone untuk pembelajaran daring yang hanya beberapa jam," ujarnya.
Menurutnya, banyak peserta didik yang memanfaatkan waktu luang untuk bermain ponsel. Hal tersebut membuat karakter tidak semakin naik malah memburuk.
Baca juga: Alhamdulillah, 100 Hari Kerja, Bupati Dico Wujudkan Janji Kampanye Dana Dusun dan Tunjangan Kematian
Baca juga: Hasil Gak Main-main, Bisa Rebut Hadiah Rp100 Juta, Martinus Kevin Mantap Berkarir di Jalur Esport
Baca juga: Seumur Hidup Baru Sekali Diinfus, Ari Menangis karena Setelah Itu Ia Cacat Seumur Hidup, Malpraktik?
"Mereka bisa mencontoh apa yang dilihat di ponselnya," imbuhnya.
Gunawan mengatakan penguatan karakter anak saat pembelajaran tatap muka tidak hanya diwajibkan dilakukan oleh guru agama saja. Dirinya meminta semua guru untuk melakukan penguatan karakter.
"Seluruh guru mata pelajaran harus melakukan penguatan karakter kepada peserta didik," tuturnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/bocah-malmot-beat-semarang-juni-2021.jpg)