Breaking News:

OPINI

OPINI DR Arri Handayani : Pernikahan Dini Melanggar Hak Anak

Media sosial sedang ramai membicarakan siaran “Suara hati istri : Zahra”, yang menceritakan seorang anak di bawah umur terpaksa menikah dan harus menj

Bram/Tribun Jateng
Dr Arri Handayani, SPsi,MSi 

Oleh DR. Arri Handayani, SPsi., MSi

Kepala Pusat Kependudukan Perempuan dan Perlindungan Anak UPGRIS

Media sosial sedang ramai membicarakan siaran “Suara hati istri : Zahra”, yang menceritakan seorang anak di bawah umur terpaksa menikah dan harus menjadi istri ketiga. Ironisnya, pemain karakter Zahra pada awalnya adalah seorang anak yang masih belia dan tidak pantas melakukan adegan dewasa.

Kondisi ini selain tidak baik untuk tumbuh kembangnya juga bisa menjadi stimulus terjadinya pernikahan di usia anak. Walaupun Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) secara intensif melakukan kampanye pencegahan perkawinan anak, demikian juga dengan gebrakan dari Propinsi Jawa Tengah dengan programnya “Jo Kawin Bocah” untuk menekan angka pernikahan anak, realitanya kondisi tersebut masih saja banyak terjadi. Bahkan di masa pandemi ini pernikahan di usia anak semakin marak terjadi.

Sejatinya pernikahan pada usia anak adalah melanggar hak anak, karena anak-anak adalah individu yang masih butuh perlindungan dari orang tuanya. Menurut Undang-Undang Perlindungan Anak, anak-anak adalah individu yang masih berusia di bawah 18 tahun.

Dan jika dikatakan hak tentunya harus dipenuhi, sebagai bentuk tanggung jawab orang tua. Sementara itu, dalam Undang-Undang No 16 tahun 2019 sebagai perubahan atas Undang-Undang No 1 tahun 1974 disebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan apabila individu sudah mencapai usia 19 tahun.

Dengan demikian ketika terjadi perkawinan di usia anak, maka telah terjadi pelanggaran atas hak anak, dan bisa jadi anak akan kehilangan hak-haknya.

Hak anak terabaikan

Berdasarkan Konvensi Hak Anak PBB ada 10 hak di mana anak seharusnya mendapatkannya, yaitu hak untuk bermain, mendapatkan pendidikan, perlindungan, mendapatkan nama (identitas), status kebangsaan, mendapatkan makanan, hak akan kesehatan, rekreasi, mendapatkan kesamaan, serta memiliki peran dalam pembangunan.

Jika menilik pada kasus pernikahan anak, setidaknya ada empat hak anak yang terabaikan, yaitu hak untuk bermain, mendapatkan pendidikan, perlindungan serta hak akan kesehatan. Berkaitan dengan hak untuk bermain, individu yang menikah di usia dini, akan kehilangan masa remajanya.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved