Wawancara Eksklusif
Laksana Tri Handoko Pernah Kerja di Pom Bensin, Kini Jadi Kepala BRIN
Laksana Tri Handoko memiliki perjalanan karir yang cukup panjang sebelum akhirnya menjadiKepala Badan Riset dan Inovasi (BRIN). Dari bekerja di Pom Be
Baik yang ke luar negeri dengan beasiswa LPDP atau beasiswa lain atau dalam negeri. Itu kan sedikit banyak dibiayai negara. Jadi itu salah satu introspeksi saya juga. Dari dulu kita suka mengirim orang tapi tidak menyiapkan wadahnya. Kalau sudah selesai mau ngapain.
Padahal S3 baru awal dari kompetensi. Kompetensi sebenarnya belum terbangun, belum matang. Proses pematangan kompetensi itu terjadi setelah dia mulai bekerja di bidangnya, melakukan sesuatu secara aktif. Kalau tidak ada wadahnya pasti dia akan turun terus kompetensi itu.
Itu yang bisa mewadahi ya lembaga riset pemerintah tidak ada yang lain. Karena lembaga riset swasta belum banyak. Maka itu yang mendasari kenapa saya swaktu kepala LIPI kita buat kebijakan seperti itu dan 3 tahun terakhir kita hanya menerima S3 untuk kandidat periset. Baik dari dalam maupun luar negeri.
Saya selalu melakukan hunting. Kalau cari talenta unggul itu harus hunting. Tidak bisa kita buka lowongan terus tunggu kita diam, 30 ribu orang daftar kan tidak begitu. Kalau kita cari talenta ya kita harus hunting. Bisa dari teman-teman PPI di berbagai negara. Kita berharap banyak yang mau kembali ke Indonesia.
Saya menawarkan banyak hal ke teman-teman diaspora khususnya di luar negeri dan yang masih ingin di luar negeri untuk bagaimana memulai kolaborasi dengan teman-teman kita yang ada di dalam negeri.
Kolaborasi yang sedang dilakukan BRIN dan luar negeri itu apa? Indonesia idealnya punya berapa periset?
Kalau kolaborasi riset di berbagai grup riset di BRIN di tempat lain itu banyak. Dan itu yang akan kita perkuat lagi supaya itu berkesinambungan. Terkait dengan jumlah periset di BRIN, kita itu jumlah kurang. Kurang dalam konteks, kita perlu yang unggul, bukan sekedar periset. Jadi komponen utama SDM unggul. Ini yang tidak mudah.
Kita harus tidak hanya merekrut. Setelah merekrut menjaga agar mereka makin unggul. Di situ perlu terobosan skema yang memungkinkan untuk itu. Misal visiting profesor, atau bisa bekerja di sini bersama teman-teman. Itu membuat iklim riset membaik. Terjadi proses transfer knowledge secara alami. Banyak skema yang sudah dikembangkan. Jadi bukan sekedar jumlah tapi juga kualitas. Karena riset itu SDM. (tribun network/denis destryawan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/laksana-tri-handoko.jpg)