Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Laksana Tri Handoko Pernah Kerja di Pom Bensin, Kini Jadi Kepala BRIN

Laksana Tri Handoko memiliki perjalanan karir yang cukup panjang sebelum akhirnya menjadiKepala Badan Riset dan Inovasi (BRIN). Dari bekerja di Pom Be

Editor: iswidodo
Tribunnews.com/Rina Ayu
Laksana Tri Handoko 

Jadi akhirnya saya putuskan tidak balik dulu. Saya kerja-kerja dulu di luar. Saya di Kumamoto, lalu lanjut di Hiroshima. Kemudian setelah itu saya kerja di Eropa, Italia, Jerman terakhir di Hamburg. Tapi itu buat saya penting karena saya bisa melihat problem manajemen riset di Indonesia. Karena saya punya pengalaman kerja di luar di lembaga-lembaga riset. Sehingga saya bisa membandingkan. Sejak awal saya pulang saya sudah melihat problem itu.

Waktu saya jadi pimpinan di LIPI saya habis-habisan. Kalau tidak ngapain juga jadi pimpinan. Kan percuma jadi pimpinan kalau tidak ngapa-ngapain. Lebih baik jadi periset saja.

Pernah bekerja di Pom bensin? Banyak periset kita yang sukses di luar negeri bagaimana Anda berupaya untuk membujuk mereka untuk kembali ke Indonesia?

Kalau terkait kerja. Kalau di luar negeri ya biasa kita kerja sampingan apalagi waktu itu khususnya saya S1 ke S2 ke S3 kan belum tahu apply sana sini. Jadi waktu libur kita kerja keras. Biar walaupun tidak terima masih bisa hidup lah. Bisa bayar uang SPP dan sebagainya karena kita belum mau pulang.

Terkait dengan diaspora. Itu memang concern saya ketika di LIPI. Itu makanya saat di LIPI sejak 3 tahun terakhir merekrut kandidat baru itu minimal harus S3. Jadi tidak hanya untuk diaspora, tapi juga untuk mereka yang baru lulus. Kalau tidak siapa yang akan merekrut mereka.

Baik yang ke luar negeri dengan beasiswa LPDP atau beasiswa lain atau dalam negeri. Itu kan sedikit banyak dibiayai negara. Jadi itu salah satu introspeksi saya juga. Dari dulu kita suka mengirim orang tapi tidak menyiapkan wadahnya. Kalau sudah selesai mau ngapain.

Padahal S3 baru awal dari kompetensi. Kompetensi sebenarnya belum terbangun, belum matang. Proses pematangan kompetensi itu terjadi setelah dia mulai bekerja di bidangnya, melakukan sesuatu secara aktif. Kalau tidak ada wadahnya pasti dia akan turun terus kompetensi itu.

Itu yang bisa mewadahi ya lembaga riset pemerintah tidak ada yang lain. Karena lembaga riset swasta belum banyak. Maka itu yang mendasari kenapa saya swaktu kepala LIPI kita buat kebijakan seperti itu dan 3 tahun terakhir kita hanya menerima S3 untuk kandidat periset. Baik dari dalam maupun luar negeri.

Saya selalu melakukan hunting. Kalau cari talenta unggul itu harus hunting. Tidak bisa kita buka lowongan terus tunggu kita diam, 30 ribu orang daftar kan tidak begitu. Kalau kita cari talenta ya kita harus hunting. Bisa dari teman-teman PPI di berbagai negara. Kita berharap banyak yang mau kembali ke Indonesia.

Saya menawarkan banyak hal ke teman-teman diaspora khususnya di luar negeri dan yang masih ingin di luar negeri untuk bagaimana memulai kolaborasi dengan teman-teman kita yang ada di dalam negeri.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved