Berita Semarang
Status WhatsApp Terakhir Keong Korban Pembunuhan di Semarang Bikin Keluarga Waswas: Ak Ngimpi Mati
Dia menjelaskan, awalnya mendapat laporan adanya pria ditemukan tewas di kamarnya
Penulis: iwan Arifianto | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Wiwin Aleyong Saputra (27) alias Keong ditemukan tewas di kamarnya, Selasa (22/6/2021) sekira pukul 05.30 WIB.
Sebelum ditemukan tewas dia sempat membuat status WhatsApp.
Tepatnya pada Senin (21/6/2021) pukul 20.52.
Status itu berbunyi "Ak Ngimpi Mati" atau Aku bermimpi mati.
"Iya kami kaget melihat status WhatsApp korban," ujar adik korban Dina Harum (25) kepada Tribunjateng.com.
Baca juga: Jahe Merah untuk Jaga Kesehatan saat Pandemi, Ini Khasiat Lengkap, Saran Pengolahan dan Penyimpanan
Baca juga: 5 Orang Masuk Kamar Keong Sebelum Ditemukan Tewas, Ngatini Syok Kejadian di Pagi Hari
Dia menyebut, sempat menasihati kakaknya agar jangan berpikiran aneh-aneh.
"Saya bilang jangan bikin status kayak itu, ternyata setelah itu benar kejadian," ujarnya.

Selain itu, Ibu Korban, Ngatini mengungkapkan, anak pertamanya itu sempat meminta permintaan kepadanya.
Yakni kamarnya agar dipasang kelambu.
Kemudian, anaknya itu bilang akan pergi jauh.
"Ya dia bilang ke saya. Emak aku meh lungo adoh. Kamar ku dipasang kelambu yo (Ibu, aku akan pergi jauh. Kamar ku dipasang kelambu ya)," ujar Ngatini menirukan suara anaknya.
Kepergian korban sangat meninggalkan duka mendalam baginya.
Pasalnya korban dikenal pendiam dan pintar.
Sejak SD hingga SMA selalu rangking satu di kelasnya
Namun selepas lulus SMA korban ikut pergaulan teman-temannya dan mulai mabuk-mabukan.
"Korban sempat kerja jadi cleaning service di Undip Semarang namun ada pandemi corona dipecat jadi nganggur," ungkapnya.
Dia pun berharap, pelaku pembunuh anaknya lekas tertangkap.
Lantaran baginya nyawa harus dibayar nyawa.
"Semoga pelaku lekas tertangkap," terangnya.
5 Orang Masuk Kamar Keong Sebelum Ditemukan Tewas, Ngatini Syok Kejadian di Pagi Hari

Kematian Wiwin Aleyong Saputra (27) alias Keong diduga kuat lantaran dibunuh.
Hal itu diungkapkan ibu korban, Ngatini (57).
"Ya dibunuh karena sebelum ditemukan meninggal dunia korban didatangi oleh lima orang," ujarnya kepada Tribunjateng.com, Selasa (22/6/2021).
Menurutnya, kejadian bermula saat Senin (21/6/2021) malam kira-kira selepas magrib.
Korban didatangi oleh dua rekannnya di RT 4 RW 8 Kampung Kedungsari, Rowosari, Tembalang.
Mereka berbincang di kamar korban.
Entah apa yang diobrolkan kurang tahu.
"Saya bakda isya pergi pengajian pulang pukul 21.00," ungkapnya.
Setelah itu, menjelang tengah malam, sekira pukul 23.30 WIB, terdengar keributan di kamar korban.
Dia lantas keluar kamar yang bersebelahan dengan kamar korban.
Tampak keributan di kamar korban yang dikeroyok lima orang.
"Saya teriak minta tolong namun tak ada yang menolong sehingga saya lari ke ketua RT," ucapnya.
Setelah pulang dari rumah Pak RT, dia melihat lima orang di kamar tersebut.
Namun tiga orang lainnya keluar rumah.
Tersisa dua orang yang tampak memegang tubuh korban.
"Dua teman korban itu bilang korban dibiarkan tidur saja jangan diganggu," paparnya.
Dia pun percaya atas perkataan dua orang tersebut.
Dia mengira anaknya benar-benar tidur.
Kemudian dia melanjutkan tidurnya.
"Selepas itu sebanyak empat kali ada teror ke rumah kami. Ada sekelompok pemuda bleyer-bleyer motor depan rumah," katanya.
Ngatini mengatakan, teror tak sampai di situ saja.
Dua orang mendatangi rumah pada waktu pukul 05.30.
Ketika itu, dia sedang menyeterika baju.
Dia menanyakan kepada dua orang itu tujuan mencari anaknya.
"Kata orang itu yang namanya Tadho mau mencari anak saya katanya mau dibunuh. Orang itu juga bawa clurit," terangnya.
Dia sudah berusaha menenangkan pemuda tersebut.
Hanya saja dia terus memaksa dan mengancam.
Dia pun terpaksa membangunkan anaknya.
Dia kaget bukan kepalang karena saat membangunkan anaknya tubuhnya sudah dingin.
Adapula sejumlah luka lebam di dada.
Ada dua goresan di punggung.
"Saya langsung nangis terus tetangga pada datang. Enggak tahu dua orang itu pergi kemana setelah tahu anak saya meninggal," terangnya.
Dia mengaku, menyesal selepas kejadian itu.
Pasalnya tak menengok setelah anaknya dianiaya.
"Saya kok percaya begitu saja. Mengapa tak periksa dulu," katanya.
Sementara itu, adik korban Dina Harum (25) menuturkan, ketika kejadian tak berani keluar.
Hanya saja dia tak menyangka korban akan meninggal dunia.
"Dugaan ada lima orang yang menganiaya adik saya," ujarnya.
Dia melanjutkan, korban tak hanya lebam dan ada goresan.
Mulut korban juga miring dan kedua tangan kaku.
"Mungkin dugaan tak hanya di pukuli saja namun ada bekapan di kepala korban," jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, Wiwin Aleyong Saputra (27) alias Keong ditemukan tewas di kamarnya, Selasa (22/6/2021) sekira pukul 05.30 WIB.
Korban warga RT 4 RW 8 Kampung Kedungsari, Rowosari, Tembalang.
Korban ditemukan tewas di kamarnya dengan posisi tertelungkup.
Terdapat luka lebam dan sayatan benda goresan senjata tajam di tubuhnya.
Dugaan awal korban meninggal dunia lantaran jadi korban pembunuhan.
"Ya ada luka lebam dan luka goresan di punggung korban," papar Kasatreskrim Polrestabes Semarang AKBP Indra Mardiana di lokasi kejadian.
Untuk penyebab kematian, lanjut Indra, masih menunggu hasil autopsi di RSUP Kariadi.
"Untuk jelas penyebab kematian menunggu autopsi," bebernya.
Meski dekimian, dia mengaku, masih memburu beberapa orang yang dicurigai.
Pasalnya keterangan saksi yakni ibu korban dan adik korban ada beberapa orang yang masuk ke kamar korban sebelum korban ditemukan tewas.
"Kami masih melakukan pencarian dan upaya paksa kepada para terduga agar jelas penyebab kematian korban," ujarnya.
Dia menjelaskan, awalnya mendapat laporan adanya pria ditemukan tewas di kamarnya.
Selepas pihaknya memeriksa memang ditemukan sejumlah luka lebam.
Pihaknya lantas meminta keterangan dari para saksi.
"Hasilnya ada beberapa rekan korban yang masuk ke kamarnya sebelum ditemukan meninggal," ujarnya.
Pantauan Tribunjateng.com,mayat korban sudah dibawa ke RSUP Kariadi pukul 11.53.
Tim Inafis Polrestabes Semarang juga sudah berada di lokasi kejadian untuk melalukan olah tempat kejadian perkara.
Tampak di rumah duka para petakziah memadati rumah korban.
(Iwn)