Breaking News:

Wawancara Eksklusif

WANSUS Prof Suyatno Tanggalkan Jabatan Rektor dan PP Muhammadiyah demi PAN

Dewan Pimpinan Wilayah Partai Amanat Nasional (DPW PAN) Provinsi Jawa Tengah resmi memiliki nakhoda yang baru. Dia adalah Profesor Suyatno.

Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG/MAMDUKH
DPW PAN Jawa Tengah resmi memiliki nakhoda yang baru yaitu Profesor Suyatno. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dewan Pimpinan Wilayah Partai Amanat Nasional (DPW PAN) Provinsi Jawa Tengah resmi memiliki nakhoda yang baru. Dia adalah Profesor Suyatno. Surat Keputusan atau SK penunjukannya sebagai Ketua PAN Jateng diserahkan langsung oleh Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan (Zulhas) di Kantor PAN Jateng, Kota Semarang pada 27 Mei 2021 kemarin.
Sebelumnya, untuk memilih Ketua DPW PAN Jateng, dibentuk tim formatur berisi 12 orang. Mereka akan berdiskusi dan musyawarah mencapai mufakat untuk menunjuk ketua. Namun, karena deadlock atau tidak mufakat, akhirnya keputusan siapa yang menjadi ketua diserahkan kepada ketua umum. Hingga akhirnya Ketua Umum Bang Zulhas, menunjuk Prof Suyatno.
Suyatno menyatakan serius dan fokus memimpin partai berlambang matahari terbit di Jateng tersebut. Oleh karena itu, ia pun harus menanggalkan jabatan organisasi di Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai Bendahara Umum.
Serta jabatan akademik sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung. Jabatan lain yang ia tinggalkan yakni Ketua Dewan Pendidikan Jakarta dan Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta se-DKI Jakarta.
Pria kelahiran Purbalingga tersebut juga pernah menjabat Rektor Universitas Muhammadiyah Prof Hamka (Uhamka) Jakarta, hingga akhirnya memperoleh tugas menjadi rektor pertama UM Bandung.
Ia bercerita, saat menjadi Rektor UM Bandung, mahasiswa angkatan pertamanya, pada 2016, hanya sekitar 57 mahasiswa. Saat ini jumlah mahasiswa UM Bandung mencapai 3.000 mahasiswa.
Di sisi lain, saat ini PAN di Jateng sedang mengalami masa paceklik kursi legislatif. Tidak ada satu pun perwakilan DPR RI yang berasal dari daerah pemilihan Jateng.
Begitu juga kursi di DPRD Provinsi Jateng yang saat ini jumlahnya menyusut dibandingkan pemilihan legislatif sebelumnya.
Apakah tangan dingin Prof Suyatno yang akrab di dunia pendidikan bisa berbicara banyak dalam dunia politik, terutama mengembalikan kursi dan kejayaan PAN Jateng?
Berikut petikan wawancara lengkap jurnalis Tribun Jateng, Mamdukh Adi Priyanto dengan Ketua DPW PAN Jateng, Prof Suyatno:

Apa motivasi anda menanggalkan semua jabatan di organisasi dan sebagai rektor untuk nyemplung di dunia politik?
Saya diberi amanah menjadi Ketua DPW PAN Jateng. Dan amanah ini merupakan satu tugas yang amat sangat penting walaupun berat. Tapi insyaallah, ini merupakan tugas dakwah yang sangat mulia bagi kepentingan kebangsaan, kenegaraan, dan kerakyatan bagi masyarakat Indonesia,
Saya sadar betul ini tugas berat tapi mulia, maka saya akan fokus mengurus amanah ini yakni menjadi Ketua DPW PAN Jateng. Karena jika tidak fokus, satu pekerjaan yang berat dan mulia ini bisa dipastikan hasilnya tidak maksimal.
Sehingga, hampir semua amanah yang ada dan pernah dilakukan, seperti jadi jadi rektor dan jadi Bendum (bendahara umum) PP Muhammadiyah, Ketua Dewan pendidikan, yang mana itu amanah organisasi, saya lepas semua.
Kenapa? Saya ingin fokus dan konsentrasi pada amanah menjadi Ketua PAN Jateng.

Apakah betul penunjukan Prof Suyatno menjadi Ketua DPW PAN Jateng juga karena ada andil atau dorongan dari PP Muhammadiyah?
Saya baru bisa mengatakan iya (mau jadi Ketua PAN Jateng), setelah ditelepon Ketua Umum (Muhammadiyah) Pak Haedar. Saya disuruh minta konsentrasi mengurus partai yang juga penting bagi pengembangan organisasi, Ormas Muhammadiyah.
Lalu ditegaskan Ketua Umum PAN, doktor Zulkifli Hasan, yang mengatakan PP Muhammadiyah merestui saya untuk jadi Ketua DPW PAN. Beliau (Zulkifli Hasan) langsung menghadap Ketua Umum dan Sekjen (Muhammadiyah).
Saya konfirmasi di-Whatsapp Sekjen Prof Abdul Muti, katanya prof (Suyatno) diminta untuk membantu PAN untuk jadi Ketua PAN Jateng. Saat sertijab (pergantian rektor UM Bandung), Ketua PP Muhammadiyah meminta saya untuk fokus di partai.
Saya besar di Muhammadiyah dan organisasi, jadi harus selalu taat dan patuh pada organisasi, samina wathana, karena dipandang saya mampu dan bisa, makanya saya siap.
Di Muhammadiyah ada dua hal yang tidak etis dilakukan, yakni meminta jabatan dan menolak amanah yang diberikan. Jadi, kalau diberikan amanah tidak menolak. Itu biasanya Muhammadiyah sudah menimbang dan memandang, diberikan amanah akan mampu dilaksanakan. Lalu tidak boleh meminta jabatan, saya dididik di Muhammadiyah seperti itu.

Ini pengalaman pertama di kancah perpolitikan?
Tidak. Saya merupakan salah satu pendiri PAN. Saya juga pernah menjadi anggota DPRD DKI Jakarta. Pernah jadi bendahara di PAN DKI Jakarta. Di DPP PAN juga saya pernah menjabat pengurus bidang pengkaderan. Cuma saat itu, saya diminta Muhammadiyah untuk fokus mengurus perguruan tinggi.
Saya dulu diminta untuk menjadi Ketua Pengembangan Perguruan Tinggi Muhammadiyah seluruh Indonesia. Fokus. Jadi pengabdian saya di Muhammadiyah sudah selama 35 tahun tanpa putus.

Apa target utama PAN Jateng?
Bagaimana PAN Jateng kembali memperoleh kepercayaan masyarakat. Sementara kemarin ini mengalami penurunan. Salah satunya pemilu yang lalu tidak menempatkan satu wakil pun di DPR RI.
Di DPR tingkat satu dan dua (provinsi dan kabupaten/kota) juga turun dalam perolehan kursi.
Saya fokus mengembalikan kejayaan PAN Jateng yang pernah dicapai tokoh sebelumnya juga termasuk pendiri partai di Jateng.

Ingin jadi legislator?
Saya konsentrasi dulu mengurus DPD dan DPC hingga kepengurusan di bawahnya yang paling terkecil. Saya konsentrasi itu dulu.
Soal minat atau tidak (menjadi anggota dewan), sebagai kader saya siap. Dan memang aturan di PAN, setiap kader menandatangani pakta integritas yang mana menjunjung tinggi nilai partai dan mau dicalonkan.
Tapi saat ini saya sedang konsen PAN Jateng bisa bangkit. Indikator PAN Jateng bangkit yakni semua struktur pimpinan mulai DPW hingga tingkat bawah solid.
Lalu kedua, mampu menciptakan kader yang progresif, kader yang memang disegani dan disenangi masyarakat. Sehingga pada 2024, masyarakat secara kesadaran memilih PAN. Dan lebih memilih kader kadernya.

Ada instruksi menambah kursi legislatif di Jateng?
Disampaikan Pak Ketum, strateginya membentuk relawan- relawan mulai dari sekarang. Ada relawan dan anggota relawan. Misalnya, satu kursi di tingkat dua (kabupaten dan kota) butuh 5.000 relawan, kalau lebih dari satu kursi kan pastinya akan dikalikan jumlah relawannya. Kemudian, saya akan membuat tim atau Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) yang saya taruh di setiap dapil (daerah pemilihan). (Mamdukh Adi Priyanto)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved