Kamis, 21 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Forum Guru

Forum Guru Yohanes Eko Nugroho : Urgensi Kurikulum Herbal Darurat Covid-19

VLOG yang diunggah di Youtube (https://youtu.be/jzFoZXVtNnQ), Presiden Jokowi menceritakan pengalamannya bahwa selama ± 18 tahun

Tayang:
Tribun Jateng/ Idayatul Rohmah
Pedagang empon-empon di pasar Peterongan Semarang, Rabu (23/6/2021).  

Oleh Yohanes Eko Nugroho, SPd
Guru IPA SMPN 1 Ungaran

VLOG yang diunggah di Youtube (https://youtu.be/jzFoZXVtNnQ), Presiden Jokowi menceritakan pengalamannya bahwa selama ± 18 tahun, setiap pagi selalu minum rebusan temulawak, jahe, dan kunyit.

Terbukti, hingga saat ini Presiden Jokowi selalu terjaga imunnya di tengah badai Covid-19 yang semakin merebak dan bermutasi. Lantas, bagaimana dengan anak-anak kita yang sangat minim pengetahuannya tentang tanaman herbal tropis dan empon-empon khas Indonesia?

Kompetensi dasar keanekaragaman makhluk hidup dibelajarkan melalui mata pelajaran IPA dan Biologi di semua jenjang sekolah menengah. Namun, eksplorasi pembelajaran guru masih text book oriented. Bahkan, keanekaragaman tumbuhan yang dijabarkan dalam buku paket IPA, justru bukan kekayaaan tumbuhan tropis khas Indonesia namun dunia.

Penulis menganggap, hal itu terlalu “ngoyo woro.” Menurut penulis, seyogianya materi IPA tersebut diutamakan mengupas tuntas kekayaan tumbuhan herbal dan empon-empon tropis khas Indonesia, meliputi; ciri-ciri, cara mengembangbiakkan, manfaatnya, dan penggunaannya.

Fakta tersebut, berdampak terhadap minimnya pengetahuan siswa tentang beragam tumbuhan khas Indonesia khususnya herbal dan empon-empon. Silakan bertanya kepada siswa, dan mereka hanya mengenal jahe saja karena populer. Meskipun hanya jahe, ternyata siswa juga tidak dapat mengidentifikasi ciri-cirinya.

Herbal dan Empon-empon

Selaku guru, pernah bertanya, sambil menunjukkan sepotong kencur “Ini apa nak?” Jawabnya “Jahe, Pak.” Bukan hanya siswa, ternyata orang dewasa pun kurang mengenal empon-empon dan manfaatnya. Buktinya, ketika penulis menjadi narasumber IG Live PPPPTK IPA Kemdikbud bertajuk “Sains Nyentrik di Masa Pandemi” pada hari Kamis, 10 Juni 2021, hampir semua peserta yang mengikuti IG Live menjawab salah ketika saya bertanya nama sepotong empon-empon yang saya bawa. Saat itu saya membawa temulawak, saya bertanya “Apa nama empon-empon ini?”

Jawaban di kolom komentar membuat saya miris, karena ada yang menjawab laos, jahe, kunyit, dan lain-lain. Ironis, padahal masa pandemik Covid-19 ini, masyarakat harus bisa menjadi “dokter” bagi dirinya sendiri. Setidaknya, dengan mengenal tanaman herbal dan empon-empon, seseorang mempunyai kemampuan bertahan hidup menghadapi penyebaran virus Covid-19.

Oleh karena itu, para guru seharusnya berinovasi mengembangkan pembelajaran IPA yang berorientasi pada tanaman herbal dan empon-empon yang terintegrasi dalam kompetensi dasar keanekaragaman tumbuhan.

Penulis juga berharap, Kemdikbud merespon urgensitas pengenalan dan pemanfaatan obat herbal dan empon-empon untuk menjadi kurikulum darurat Covid-19. Jadi, bukan hanya include dalam mata pelajaran IPA dan Biologi namun menjadi materi pelajaran wajib yang dibelajarkan secara gotong royong oleh semua guru mata pelajaran.
Pertanyaannya, apakah setiap guru bisa membelajarkan materi tersebut secara online atau daring?

Apabila Kemdikbud segera menyusun buku panduan atau modul secara gamblang, menurut penulis, semua guru pasti bisa. Para guru juga dapat mengambil manfaatnya yakni menambah pengalaman dan pengetahuan tentang herbal dan empon-empon untuk menjaga imunitas dirinya sendiri dan keluarganya.

Harapannya, para siswa dapat mengambil manfaat untuk menunjang kecakapan hidup tentang tanaman obat khas Indonesia. Belum terlambat untuk membelajarkan walaupun secara online, baik melalui media youtube, atau media sosial lainnya yang dipakai guru sebagai platform dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring.

Mudah ditemukan

Dunia sedang menghadapi krisis kesehatan yang dipicu oleh pandemi Covid-19. Meskipun belum ada obat atau pengobatan khusus untuk Covid-19, minimal tahu cara untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh secara mandiri. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyambut baik berbagai inovasi penggunaan obat-obatan tradisional dan mengembangkan terapi baru dalam mencari pengobatan potensial untuk Covid-19.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved