Forum Guru
Forum Guru Yohanes Eko Nugroho : Urgensi Kurikulum Herbal Darurat Covid-19
VLOG yang diunggah di Youtube (https://youtu.be/jzFoZXVtNnQ), Presiden Jokowi menceritakan pengalamannya bahwa selama ± 18 tahun
Oleh Yohanes Eko Nugroho, SPd
Guru IPA SMPN 1 Ungaran
VLOG yang diunggah di Youtube (https://youtu.be/jzFoZXVtNnQ), Presiden Jokowi menceritakan pengalamannya bahwa selama ± 18 tahun, setiap pagi selalu minum rebusan temulawak, jahe, dan kunyit.
Terbukti, hingga saat ini Presiden Jokowi selalu terjaga imunnya di tengah badai Covid-19 yang semakin merebak dan bermutasi. Lantas, bagaimana dengan anak-anak kita yang sangat minim pengetahuannya tentang tanaman herbal tropis dan empon-empon khas Indonesia?
Kompetensi dasar keanekaragaman makhluk hidup dibelajarkan melalui mata pelajaran IPA dan Biologi di semua jenjang sekolah menengah. Namun, eksplorasi pembelajaran guru masih text book oriented. Bahkan, keanekaragaman tumbuhan yang dijabarkan dalam buku paket IPA, justru bukan kekayaaan tumbuhan tropis khas Indonesia namun dunia.
Penulis menganggap, hal itu terlalu “ngoyo woro.” Menurut penulis, seyogianya materi IPA tersebut diutamakan mengupas tuntas kekayaan tumbuhan herbal dan empon-empon tropis khas Indonesia, meliputi; ciri-ciri, cara mengembangbiakkan, manfaatnya, dan penggunaannya.
Fakta tersebut, berdampak terhadap minimnya pengetahuan siswa tentang beragam tumbuhan khas Indonesia khususnya herbal dan empon-empon. Silakan bertanya kepada siswa, dan mereka hanya mengenal jahe saja karena populer. Meskipun hanya jahe, ternyata siswa juga tidak dapat mengidentifikasi ciri-cirinya.
Herbal dan Empon-empon
Selaku guru, pernah bertanya, sambil menunjukkan sepotong kencur “Ini apa nak?” Jawabnya “Jahe, Pak.” Bukan hanya siswa, ternyata orang dewasa pun kurang mengenal empon-empon dan manfaatnya. Buktinya, ketika penulis menjadi narasumber IG Live PPPPTK IPA Kemdikbud bertajuk “Sains Nyentrik di Masa Pandemi” pada hari Kamis, 10 Juni 2021, hampir semua peserta yang mengikuti IG Live menjawab salah ketika saya bertanya nama sepotong empon-empon yang saya bawa. Saat itu saya membawa temulawak, saya bertanya “Apa nama empon-empon ini?”
Jawaban di kolom komentar membuat saya miris, karena ada yang menjawab laos, jahe, kunyit, dan lain-lain. Ironis, padahal masa pandemik Covid-19 ini, masyarakat harus bisa menjadi “dokter” bagi dirinya sendiri. Setidaknya, dengan mengenal tanaman herbal dan empon-empon, seseorang mempunyai kemampuan bertahan hidup menghadapi penyebaran virus Covid-19.
Oleh karena itu, para guru seharusnya berinovasi mengembangkan pembelajaran IPA yang berorientasi pada tanaman herbal dan empon-empon yang terintegrasi dalam kompetensi dasar keanekaragaman tumbuhan.
Penulis juga berharap, Kemdikbud merespon urgensitas pengenalan dan pemanfaatan obat herbal dan empon-empon untuk menjadi kurikulum darurat Covid-19. Jadi, bukan hanya include dalam mata pelajaran IPA dan Biologi namun menjadi materi pelajaran wajib yang dibelajarkan secara gotong royong oleh semua guru mata pelajaran.
Pertanyaannya, apakah setiap guru bisa membelajarkan materi tersebut secara online atau daring?
Apabila Kemdikbud segera menyusun buku panduan atau modul secara gamblang, menurut penulis, semua guru pasti bisa. Para guru juga dapat mengambil manfaatnya yakni menambah pengalaman dan pengetahuan tentang herbal dan empon-empon untuk menjaga imunitas dirinya sendiri dan keluarganya.
Harapannya, para siswa dapat mengambil manfaat untuk menunjang kecakapan hidup tentang tanaman obat khas Indonesia. Belum terlambat untuk membelajarkan walaupun secara online, baik melalui media youtube, atau media sosial lainnya yang dipakai guru sebagai platform dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring.
Mudah ditemukan
Dunia sedang menghadapi krisis kesehatan yang dipicu oleh pandemi Covid-19. Meskipun belum ada obat atau pengobatan khusus untuk Covid-19, minimal tahu cara untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh secara mandiri. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyambut baik berbagai inovasi penggunaan obat-obatan tradisional dan mengembangkan terapi baru dalam mencari pengobatan potensial untuk Covid-19.
Jamu dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperkuat sistem imun tubuh seseorang. Jamu adalah racikan herbal dan empon-empon tradisional Indonesia yang telah dipraktekkan selama berabad-abad oleh masyarakat Indonesia untuk menjaga kesehatan dan mengobati penyakit.
Meskipun sudah banyak obat-obatan modern, jamu masih sangat populer di daerah pedesaan maupun perkotaan. Terutama disaat seperti ini, dimana belum ditemukannya obat Covid-19. Masyarakat akan kembali menggunakan herbal dan empon-empon sebagai alternatif pencegahan dan pengobatan. Selain itu dengan harga yang murah dan bahan baku yang mudah ditemukan, jamu dapat dibuat dan dikonsumsi sendiri di rumah.
Permasalahannya adalah masyarakat kurang mengenal tanaman yang bisa digunakan sebagai obat maupun pendongkrak imun. Tanaman yang dapat dikonsumsi dan dibuat menjadi jamu untuk immune booster antara lain adalah kencur, temulawak, kunyit, jahe, daun kelor, talok (kersen), biji mahoni, bawang putih, dan lain-lain. Selain bahan utama tersebut, dapat juga ditambahkan bahan lain untuk menambah rasa dan memberi aroma yang menggugah selera seperti kayu manis, serai, dan gula aren.
Tingkatkan imunitas
Temulawak atau Curcuma xanthorrhiza Roxb merupakan tanaman yang sering digunakan sebagai obat-obatan yang tergolong dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae). Salah satu kandungan terbanyak yang dimiliki tumbuhan temulawak ialah vitamin C dan pati. Pati temulawak mengandung kurkuminoid yang membantu proses metabolisme dan fisiologis organ badan.
Temulawak banyak digunakan dalam pengobatan gangguan pencernaan, sakit hati (kuning dan hepatitis), keputihan, meningkatkan daya tahan tubuh serta menjaga kesehatan. Terpopuler adalah jahe (Zingiber officinale). Jahe merupakan bahan obat herbal karena mengandung minyak atsiri dengan senyawa kimia aktif, yang berkhasiat dalam mencegah dan mengobati berbagai penyakit. Senyawa kimia aktif yang juga terkandung dalam jahe yang bersifat anti-inflamasi dan antioksidan, adalah gingerol, beta-caroten, capsaicin, asam cafeic, curcumin dan salisilat.
Kunyit (Curcuma longa L) dipercaya sebagai bahan antibiotik, juga digunakan untuk memudahkan proses pencernaan dan memperbaiki perjalanan usus. Sampel ketiga empon-empon tersebut diatas diketahui mengandung senyawa kurkumin yang memiliki banyak sekali manfaat seperti : antioksidan, antiinflamasi, antibakteri, dan antivirus yang sangat cocok apabila digunakan untuk meningkatkan imunitas agar tetap sehat dikala pandemic.
Menurut Prof. Dr. Mangestuti Agil, MS, Apt, salah satu guru besar di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga dalam artikel yang dipublish oleh The Jakarta Post “Kunyit, misalnya, bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan tubuh kita.
Ini juga berfungsi sebagai antioksidan dan antimikroba. Jahe juga dikenal sebagai penguat kekebalan tubuh dan temulawak bermanfaat dalam menjaga kesehatan hati.” Prof. Dr. Mangestuti juga menambahkan bahwa mengkonsumsi tanaman tersebut dalam bentuk jamu secara teratur berpotensi mencegah penularan berbagai mikroba, termasuk virus dan bakteri. Pengelolaan stres juga penting, karena stres memengaruhi kekebalan tubuh. (*)
Baca juga: Hotline Semarang : Apakah Puskesmas Buka Layanan Swab Antigen
Baca juga: Penalti Jorginho Mendatar dan Pelan, Namun Mampu Bawa Italia ke Final Euro 2020 Kalahkan Spanyol
Baca juga: Masyarakat Pelabuhan Resah Ada Gas Bocor di Terminal Gas LPG Tanjung Emas, KSOP Angkat Bicara
Baca juga: Jadwal Lengkap Semifinal Euro 2021 Malam Ini Inggris Vs Denmark
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/bakul-empon-empon-peterongan.jpg)