Berita Kesehatan
Manfaat Tanaman Busil, Memiliki Kandungan Gizi Tinggi, Bisa untuk Bahan Roti
Panganan sehat yang berasal dari potensi lokal menjadi perhatian tersendiri di tengah kondisi pandemi. Busil (Xanthosoma sagittifolium (L.) Schot),
Penulis: khoirul muzaki | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Pandemi Covid-19 yang telah melanda dunia sejak akhir 2019 yang lalu telah banyak mengubah tatanan kehidupan masyarakat dunia.
Selain meningkatnya perhatian terhadap penerapan pola hidup bersih dan sehat, pola konsumsi pangan kearah pangan sehat yang mampu memberikan efek kesehatan juga meningkat.
Panganan sehat yang berasal dari potensi lokal menjadi perhatian tersendiri di tengah kondisi pandemi.
Busil (Xanthosoma sagittifolium (L.) Schot), satu di antaranya.
Di pedesaan, tanaman ini banyak tumbuh dan biasa dikonsumsi warga. Tak ayal, pangan ini pun sudah akrab di lidah warga pedesaan.
Siapa sangka, pangan lokal yang acap dianggap makanan "tak berkelas" ini punya kandungan luar biasa.
Menurut Lukmanul Hakim, dosen Agroindustri Politeknik Banjarnegara, di bandingkan tepung terigu, kandungan protein tepung busil lebih tinggi.
Kelebihan lainnya, kandungan lemak busil ternyata lebih rendah dibandingkan tepung terigu.
Busil memberikan asupan gizi yang dinilai lebih sesuai bagi umumnya konsumen milenial saat ini.
"Tepung ataupun pati busil yang bebas gluten juga menjadi nilai tambah tersendiri bagi mereka yang berpotensi mengalami gangguan kesehatan akibat konsumsi gluten yang berlebihan, "katanya, Senin (19/7/2021)
Dari segi budidaya, busil memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan jenis umbi lainnya.
Di antaranya, dapat tumbuh pada berbagai kondisi lingkungan, perawatannya mudah, dan ukuran umbinya yang relatif besar.
Dengan kelebihan itu, kata dia, busil berpotensi dapat dikembangkan lebih lanjut.
Busil bahkan telah diolah menjadi berbagai macam produk, semisal brownies, biscuit, cake, eggroll, roti, bahkan mie.
Meski terbukti telah memiliki beragam kelebihan dan manfaat, menurut dia, pengembangan produk olahan berbasis busil di Banjarnegara khususnya, masih terbentur pada kontinyuitas ketersediaan bahan baku yang belum terjaga.