Selasa, 5 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Curhatan Para Pemandu Wisata di Kala Pandemi: Kami Benar-Benar 'Jobless' Tidak Ada Kerjaan

Imbas adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di sektor pariwisata rupanya tak hanya dirasakan para pengusaha.

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: rival al manaf

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Imbas adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di sektor pariwisata rupanya tak hanya dirasakan para pengusaha, tetapi juga bagi para pemandu wisata atau pramuwisata.

Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jawa Tengah, Restu Arpriono menyatakan, ratusan orang dengan profesi pramuwisata di Jateng merasakan dampak sama.

Menurutnya, mereka terpaksa tidak menjalankan profesinya sejak pandemi tahun 2020 lalu hingga dilakukan kebijakan perpanjangan PPKM level 4 tersebut sebab sulitnya akses untuk menjalankan profesi.

"Pramuwisata juga bagian paling terdampak, karena benar-benar tidak bisa jalan saat ini. Kami benar-benar 'jobless' tidak ada kerjaan."

Baca juga: Bahlil Lahadalia : Iklim Investasi Tahun Ini Sangat Tergantung dari Penanganan Pandemi Virus Corona

Baca juga: Tetap Semangat di Tengah Pandemi, PSS Sleman Ajak Latihan Secara Virtual Bersama Jeffrey Kurniawan

Baca juga: Daffa dan Ibnu Peragakan 20 Adegan Pembunuhan Terhadap Pemandu Karaoke di Kos Amora Semarang

"Total anggota kami ada sekitar 500 orang yang tersebar di 35 kabupaten/kota."

"Namun kalau dihitung dengan yang tidak aktif seperti lisensi habis atau izin operasional habis dan tidak diperpanjang, bisa mencapai 800 orang dan semua pasti terdampak," kata sapaan Restu Blangkon tersebut saat dihubungi tribunjateng.com, Kamis (29/7/2021).

Restu menyebutkan, pihaknya sempat merasakan angin segar saat new normal pertengahan tahun lalu dengan mulai bergerak pelan-pelan.

Namun sejak terjadi lonjakan kasus hingga diberlakukan PPKM, aktivitas pekerjaan para pramuwisata kembali terhenti hingga saat ini sebab perusahaan biro perjalanan wisata sebagai tempat menggantungkan pekerjaan pun berhenti beroperasi karena tutupnya tempat-tempat wisata.

Menurutnya, pihaknya sudah kehabisan cara untuk bisa bergerak. 

Bahkan kata dia, banyak pula yang terpaksa beralih pekerjaan hingga menganggur sebab tidak tahu lagi harus bekerja di luar profesinya.

"Kami yang biasanya menghandel setiap wisatawan yang datang dengan menjalankan program sesuai dengan kebutuhan dari user (biro perjalanan), saat PPKM ini ya mau tidak mau berhenti.

Sementara melakukan pekerjaan di luar biasanya. Teman-teman itu ada yang jual ayam goreng, masker, keripik, ada juga yang ojek online, untuk bisa sekadar bertahan," ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, Restu mewakili HPI Jateng mendesak pemerintah untuk tegas dalam memberikan kebijakan.

Hal itu sebab menurutnya, sejauh ini kebijakan yang diberlakukan belum jelas sehingga membuat para pramuwisata dilema dalam menentukan sikap.

Terutama terkait pengumuman perpanjangan PPKM yang serba mendadak, menurutnya membuat usaha di sektor pariwisata kelimpungan.

"Hal utama yang kami inginkan adalah dukungan pemerintah dalam memberikan kepastian."

"PPKM harus ada kejelasan, karena perjalanan itu kan terjadwal."

"Kalau aturannya berubah-ubah terus dalam jangka waktu yang kita tidak tahu sampai kapan, orang pun jadi tidak ada yang melakukan perjalanan wisata."

" Misal sudah beli tiket, besoknya destinasi close orang-orang merencanakan pun pasti bingung," tegasnya.

Di samping itu, pihaknya meminta agar pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap nasib para pramuwisata saat ini.

Hal itu sebab menurutnya, sejauh ini tidak ada bantuan khusus dari pemerintah untuk para pemandu wisata yang terdampak pandemi tersebut.

"Setidaknya teman-teman diperhatikan baik melalui kementerian atau dinas pariwisata, ada satu kebijakan untuk memerhatikan nasib teman-teman yang tadinya mencari makan di sektor pariwisata menjadi pramuwisata yang saat ini jobless karena tidak semua orang dapat bantuan.

Baca juga: Sinopsis Drakor Extraordinary You Episode 6, Kondisi Dan Oh Setelah Haru Hilang dari Peran Figuran

Baca juga: Tim Penjemputan Vino Yatim Piatu Akibat Covid-19 dari Sragen Berangkat ke Kutai Barat Hari Ini

Baca juga: Seharian Tidur di Belakang Warung Makan, Yoga Sopir di Semarang Ditemukan Tewas

Baca juga: Sempat Mengadu ke Mensos Risma, Bansosnya Disunat Rp 50 Ribu, Kini Aryani Meralat Pernyataanya

Sejauh ini kalaupun ada, bukan dari jalur wisata melainkan jalur kelincahan teman-teman melalui pendataan desa atau kecamatan masing-masing. Sedangkan khusus profesi ini tidak, pada akhirnya bersaing dengan masyarakat lain. Padahal kami merasakan dampak maksimal, benar-benar butuh perhatian khusus untuk saat ini," ungkapnya.

Ia pun lantas meminta pemerintah untuk fokus melakukan penanganan pandemi ini. Untuk pramuwisata, pihaknya meminta agar pramuwisata menjadi prioritas program vaksinasi sebab bersinggungan langsung dengan wisatawan.

"Profesi adalah orang yang bersentuhan langsung dengan wisatawan, itu yang seringkali dilupakan. Setidaknya dengan vaksinasi ada jaminan baik untuk pramuwisata maupun wisatawan.

Kemudian CHSE juga bisa dijadikan standar baku setiap perjalanan. Insya Allah, kalau CHSE dijalankan, kegiatan wisata akan berjalan dengan nyaman kalau memang diwajibkan," tukasnya. (idy)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved