Cerita Fabel

7 Dongeng Kancil Kaya Pesan Moral, Cerita Pengantar Tidur Anak Terbaik

7 dongeng fabel Kancil, 1. Dongeng Kancil dan Buaya di Sungai.. 2. Kancil dan Kerbau.. 3.Kancil dan Pak Tani.. 5. Kancil Mencuri Timun.. 6.Kancil dan

Penulis: Jen | Editor: abduh imanulhaq
Youtube/ Cerita Kita CK
7 Dongeng Kancil Kaya Pesan Moral, Cerita Pengantar Tidur Anak Terbaik 

"Apa permintaan terakhirmu?" tanya Harimau lagi.

Kancil pun memutar otaknya untuk mengelabuhi harimau. Tak butuh lama, Kancil si Cerdik menemukan ide cemerlang.

"Aku tidak ada keinginan terakhir apapun. Aku hanya punya rahasia besar di hutan ini. Jika aku mati, rahasia besar ini tidak akan pernah diketahui siapapun," kata Kancil.

Harimau pun penasaran dengan rahasia tersebut. Ia menyarankan Kancil untuk memberitahunya.

"Ya sudah beritahu saja apa rahasianya, setelah itu kau akan aku santap. Jadi aku tahu rahasianya, dan perutku kenyang, " tawa Harimau.

Kancil yang cerdik pun mengelabuhi harimau agar ia bisa lolos.

"Ada sabuk besar di hutan ini yang dimiliki oleh singa. Dari sabuk itu lah Singa mendapat kekuatan," tutur Kancil.

Harimau yang serakah itu pun penasaran. Ia seketika ingin memiliki sabuk besar itu.

"Di mana sabuk itu disimpan?" tanya Harimau.

"Baik lah, aku akan antarkan kau ke sana," kata Kancil.

"Tunggu dulu.

Kancil, meskipun kamu mengantarku, jangan harap aku akan melepasmu Hahaha," tawa Harimau dengan mata yang merah.

Kancil berusaha tenang dan segera menunjukkan jalan. Tanpa sepengetahuan Harimau, Kancil mengajaknya pergi ke tempat berbahaya.

Setelah menempuh satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di suatu tempat yang konon ada sabuk besar.

"Itu sabuknya" kata Kancil menunjuk ke sesuatu yang bergelantungan di pohon.

Dengan gegabah, Harimau pun segera menarik sabuk itu.

"Hahaha aku akan menjadi raja hutan," kata Harimau buas.

Tapi ternyata itu bukan lah sabuk. Melainkan ekor ular piton raksasa.

Ular piton dalam dongeng Kancil
Ular piton dalam dongeng Kancil (Youtube/ Tribun Video - Dongeng Fabel Kancil dan Harimau)

Piton raksasa pun marah kepada harimau yang mengganggu tidurnya.

Ular raksasa itu segera melilit tubuh Harimau ysng buas.

"Sialan Kancil, kau menipuku," teriak Harimau marah.

Kancil pu  segera kabur . Sedangkan Harimau harus bertarung dengan ular piton raksasa.

Harimau dililit ular piton
Harimau dililit ular piton (Youtube/ Tribun Video - Dongeng Fabel Kancil dan Harimau)

Baca juga: Dongeng Kancil dan Harimau Mencari Sabuk Raja

3. Dongeng Kancil dan Pak Tani

“Kruukk…krruuk,” Kancil mengelus perutnya yang dari tadi mengeluh lapar, dan tenggorokannya pun sangat kering. Hari amatlah panas. Kancil berjalan sendirian. Tadi dia memang bersama teman-temannya meninggalkan hutan kecil tempat tinggal mereka yang terbakar. Sekarang, teman-temannya sudah meninggalkannya.

Kancil duduk bersandar karena matanya berkunang-kunang. Tiba-tiba ia melihat hamparan hijau. Ya, itu adalah ladang Pak Tani, yang menanami ladangnya dengan ketimun. Air liur Kancil menetes.

“Ah, aku akan memakan timun Pak Tani,” kata Kancil. “Kalau cuma makan sedikit pasti tidak apa-apa.”

Kancil mencuri timun dalam dongeng Kancil dan Pak Tani
Kancil mencuri timun dalam dongeng Kancil dan Pak Tani (Youtube/ Riri Cerita Anak Interaktif)

Kancil menyusup lewat celah pagar ladang Pak Tani dan mengunyah sebuah ketimun. “Krrss, hmmm, segar sekali.”

“Satu lagi, ah. Lalu aku akan menyusul teman-teman.” Kancil memetik satu lagi, memakannya. Satu lagi, satu lagi, sampai ia kekenyangan dan tertidur. Kancil terkejut karena hari sudah sore. Ia segera meninggalkan ladang itu.

Saat tiba di ladang, Pak Tani kaget melihat ketimunnya banyak yang hilang, hanya tersisa sampah ujung ketimun.. “Aduh, bagaimana ini,” keluh Pak Tani. “Aku tidak jadi panen. Siapa yang berani mengambilnya, ya?”

Bu Tani berkata, “Kita takut-takuti dia dengan orang-orangan, Pak. Siapa tahu, dia tidak berani datang lagi.”

“Ide bagus, Bu. Ayo, kita buat sekarang.”

Mereka membuat orang-orangan dari jerami dan menggunakan baju bekas dan caping Pak Tani.

Esok harinya, Si Kancil memasuki ladang itu lagi.

“Apa? Pak Tani berjaga di ladangnya?” serunya terkejut.

Ia menunggu sampai Pak Tani pergi, namun kelihatannya Pak Tani betah berjaga di sana. Tapi, mengapa Pak Tani diam dan melotot terus seperti itu, ya? Kancil memberanikan diri untuk memasuki ladang dan Pak Tani tidak mengusirnya. Akhirnya Kancil mengerti, bahwa itu hanya orang-orangan yang dibuat seperti Pak Tani.

Dongeng Kancil dan Pak Tani
Dongeng Kancil dan Pak Tani (Youtube/ Riri Cerita Anak Interaktif)

“Ayo, makan bersamaku, Pak Tani!” ajaknya dan mengambil caping orang-orangan itu. Ia makan sampai kenyang sambil nyender ke tubuh orang-orangan itu. Setelah kenyang, Kancil segera pergi.

Sorenya, Pak Tani terkejut karena ketimunnya tetap hilang. “Ulah siapa, sih, ini?” katanya geram.

“Sepertinya pencurinya sudah tahu jika ini orang-orangan dan bukan bapak,” kata Bu Tani. “Bagaimana jika kita melumuri orang-orangan ini dengan getah, sehingga akan membuat lengket pencurinya?”

Lalu mereka  melumuri tubuh orang-orangan itu dengan getah buah Nangka.

Esoknya, Kancil datang lagi. “Wah, Pak Tani, kamu masih disitu,” katanya lalu mulai memetik ketimun dan mulai memakannya sambil menyenderkan tubuhnya. Selesai makan, ia berniat pergi. Tapi, oh-oh, badannya lengket menempel ke orang-orangan itu!

Tiba-tiba datanglah Pak Tani. Kancil tidak berkutik, dia harus siap-siap dihukum.

“Oooh, rupanya kamu yang memakan hasil jerih payahku?” Pak Tani berkacak pinggang.

“Ampun, Pak Tani, maafkan aku. Hutan kecil kami terbakar beberapa hari lalu.” Kancil memohon.

“Ya, tapi, tetap saja mencuri itu tidak baik. Enaknya, saya kasih kamu hukuman apa, ya?” Pak Tani tetap kesal.

“Bagaimana jika kita hukum dia membereskan ladang selama seminggu dan menanami bibit ketimun lagi, Pak?” usul Bu Tani.

Kancil pun menerima hukuman itu. Ia tahu bahwa memang dia bersalah. Dia bekerja dengan rajin dan berharap Pak Tani sungguh-sungguh memaafkannya.  Akhirnya, hari terakhir hukuman si Kancil tiba.

“Terimakasih sudah bekerja dengan rajin, Kancil. Jangan mencuri lagi, karena perbuatan itu merugikan orang lain. Lebih baik kamu berusaha dengan jerih payahmu sendiri. Ini bekal ketimun untukmu di hutan nanti,” Kata Pak Tani sambil menyerahkan sekarung ketimun.

“Aku meminta maaf sekali lagi atas kesalahanku, Pak Tani. Terima kasih tidak menghukumku lebih berat. Aku berjanji tidak mencuri lagi.” Kancil berkata penuh penyesalan.

Kancil kembali ke hutan. Ketimun pemberian itu selain dia makan tapi juga juga menyisihkan sebagian untuk ditanam di kebunnya sendiri, supaya dia juga bisa panen timun.

Baca juga: Dongeng Kancil dan Pak Tani

4. Dongeng Kancil dan Jerapah Si Leher Panjang

“Awas, minggir!” terdengar suara si Jerapah, mengusir tiga binatang – Kambing, Keledai, dan Domba, yang sedang minum di pinggir sungai “Kalian ini mengganggu hakku.”

Domba berbisik, “Memangnya, sungai ini milik dia sendiri?”

“Ssst, nanti kamu ditendang lagi seperti waktu itu,” kata Kambing dan Keledai memenangkan.

“Aah, aku ini memang ganteng. Badanku keren, leherku jenjang, kukuku rapi, buluku halus,” kata Jerapah memandangi pantulan dirinya di air sungai yang jernih “Wajahku, apalagi, selalu bersih bersinar.” Lalu mencela tiga ekor binatang yang sedang menunduk. “Memangnya kalian? Lihat, deh, sudah tidak tinggi ditambah badan kalian kotor… issh! Apa sih kelebihan kalian?”

“Padahal aku haus,” bisik Kambing gelisah setelah menunggu sekian lama dan Jerapah belum selesai minum.

Ini sudah ke sekian kalinya Jerapah bertindak semena-mena kepada mereka bertiga. Dia pernah menendang dan menghina si Domba saat Domba menegurnya karena si Jerapah menggosokkan kukunya di tumpukan bulu domba. Domba mulanya akan memberikan bulu itu untuk alas tidur beberapa anak kucing hutan yang baru lahir. Bulu-bulu domba itu menjadi kotor dan Domba batal memberikannya. Jerapah juga memakan rerumputan yang dikumpulkan si Keledai tanpa izinnya lalu pergi meninggalkan tempat Keledai dalam keadaan berantakan. Jerapah juga pernah dengan sengaja menendang ember-ember berisi susu milik si Kambing.

“Dia selalu menghina dan semena-mena terhadap kita,” bisik Keledai.

Datanglah seekor Kancil. Tanpa izin, dia mendekat lalu menyeruput air sungai, “Aaaah, segar sekali.”

“Hey, apa yang kamu lakukan? Ini sungaiku. Tidak boleh ada yang minum saat aku minum,” Jerapah berkata dengan sewot.

“Hah? Siapa bilang?” sanggah Kancil. “Sungai ini ada di hutan, dan aku tidak melihat papan tulisan jika sungai ini milikmu, jadi semestinya semua boleh minum.”

“Kamu binatang kecil, jelek, kotor yang menjengkelkan!” seru Jerapah. “Aku bisa menendangmu, atau menaruhmu di dahan pohon yang tinggi dengan kepalaku.”

“Ya, kamu memang tinggi, tapi aku tidak yakin jika kamu bisa berlari cepat untuk menangkapku.”

“Jangan menantang, kau akan menyesal, Kancil!” Jerapah berteriak marah.

“Ayo, buktikan. Kejar aku sekarang,” kata Kancil. Jerapah berjalan mendekati dan Kancil mulai berlari.

Kancil berlari sangat kencang, melewati batu-batu, pohon, ilalang, dengan zigzag. Meskipun kakinya sangat panjang, namun Jerapah agak kesulitan mengejar Kancil. Lehernya yang tinggi membuat dia kesulitan melihat ke bawah sehingga ia sering tersandung. Kadang lehernya juga tersangkut dahan tinggi. Ia juga sulit berlari zigzag, karena setiap belokan dia kesulitan berlari.

Kancil sampai ke sebuah gua, lalu masuk ke dalam. Jerapah menyusulnya. Semakin dalam, semakin gelap dan sempit. Batuan Stalaktit di atap gua menusuk-nusuk wajah dan kepala Jerapah.

“Aduuuh, kepalaku!” jerit Jerapah. Ia berhenti masuk gua, “Tolong, aku kesakitan”.

Kancil pun berhenti. Ia berbalik mencari si Jerapah.

“Aduh, kau menginjak badanku.” seru Jerapah, karena dia terbaring sementara kepalanya berdarah

“Maafkan aku. Disini gelap sekali,” kata Kancil. “Ayo, aku tolong kau untuk berdiri, dan menuju ke cahaya itu.”

Cahaya kecil itu adalah tempat mereka masuk ke gua. Kancil memapah Jerapah keluar dari gua. Ternyata di luar, sudah ada Domba, Keledai, dan Babi menunggu.

“Teman kalian ini perlu pertolongan pertama, adakah yang bisa?”

“Aku bisa,” kata Keledai.

“Aku akan mengambilkan air untuk membersihkan luka-lukanya,” kata Kambing.

“Dan aku akan mengambilkan bulu domba untuk menutup lukamu dan alat P3K,” kata Domba.

“Kenapa kalian baik sekali?” tanya Jerapah dibalik derai air matanya dan wajahnya yang mengeluarkan darah. “Padahal aku sombong dan semena-mena kepada kalian.”

“Ya, memang kamu sombong terhadap kami,” kata Keledai, “Tapi dalam keadaan luka begini dan kamu membutuhkan pertolongan, tidak mungkin kami tinggalkan jika kami bisa menolongmu.”

“Jika dirimu tinggi, kamu bisa mengambil sesuatu dari tempat lebih tinggi, sementara jika kamu pendek, kamu bisa mudah melihat hambatan di bawah. Setiap makhluk memiliki kelebihan dan kekurangan, jadi kita harus saling bekerja sama, bukan malah menghina,” kata Kancil. “Nah, kamu sudah di tangah yang tepat, Jerapah. Aku pamit pergi dulu, ya.”

“Aku minta maaf atas kesombonganku, ya.” kata Jerapah. “Mulai sekarang, mari kita berteman.”

Domba, Keledai, dan Kambing tersenyum mengiyakan.

Baca juga: Dongeng Kancil dan Jerapah Si Leher Panjang

5. Dongeng Kancil dan Kerbau Dungu

Kancil sangat lapar siang ini, dan ingin makan mentimun. Tapi ia tak berani masuk ke kebun Pak Tani. Kancil takut tertangkap lagi dan dimasak jadi sate oleh Pak Tani. Binatang cerdik itu hanya berani mengintip kebun. Air liurnya menetes melihat mentimun yang tengah dipanen oleh pak tani.

Tiba-tiba muncul ide di kepala Kancil agar ia bisa mendapatkan mentimun. Di sekitar kebun pak tani, banyak hewan ternak yang sedang mencari makan. Kancil pun menghampiri si Sapi yang sedang makan siang.

“Hei, Sapi. Kelihatannya enak rumputmu itu,” sapa Kancil ramah.

Sapi mengangkat kepalanya, “Memang enak. Kamu mau nyoba?”

Kancil menggelengkan kepala. “Aku hanya bisa makan mentimun. Tapi mentimunnya ada di kebun Pak Tani,” tolak Kancil, “Eh, Sapi. Kamu mau menemani aku ke kebun Pak Tani?” tanya Kancil penuh harap.

“Tidak mau, ah. Kasian Pak Tani sudah kerja keras menanam mentimunnya.” Si Sapi menolak ajakan Kancil.

Kancil kecewa dengan jawaban Sapi. Tapi ia tidak patah semangat. Dihampirinya Kambing yang sedang makan daun-daun.

“Aku punya makanan yang lebih enak dari daun-daun itu,” celetuk si Kancil.

Kambing berhenti mengunyah daun, lalu memalingkan wajahnya pada si Kancil. “Apa yang lebih enak dari daun-daun ini?” tanyanya penasaran.

“Mentimun!” seru Kancil, “Kita bisa mengambilnya di kebun Pak Tani. Di sana mentimunnya sudah siap dipanen. Ayo, temani aku mengambilnya!”

Penuh semangat si Kancil bercerita tentang mentimun-mentimun yang ada di kebun Pak Tani. Kambing menatap dirinya keheranan, lalu meletakkan daun yang dipetiknya di tanah.

“Kamu tahu tidak kalau Pak Tani menanam mentimun untuk biaya hidupnya?” sergah Kambing, “Aku tak mau menemanimu ke kebunnya!”

Si Kancil langsung lemas mendengar jawaban Kambing. Dengan lesu ia berjalan lagi hingga menemukan si Kerbau yang sedang mandi lumpur.

“Hei, Kerbau! Siang hari seperti ini kamu malah mandi bukannya makan,” tegur si Kancil kembali melancarkan rencananya.

“Tadinya mau makan, tapi belum ada makanan yang kutemukan,” jawab si Kerbau sambil keluar dari lumpur.

“Nah! Aku tahu tempat mendapatkan makanan. Mentimun di kebun Pak Tani sangat enak.” Kancil bercerita tentang mentimun yang sudah siap dipanen pada si Kerbau.

“Tapi aku tidak berani mengambil mentimunnya,” timpal Kerbau.

“Jangan khawatir. Kamu tinggal menemani saja. Biar aku yang mengambil mentimunnya untuk kita,” bujuk Kancil.

Akhirnya Kerbau mau menemani setelah dibujuk lama oleh si Kancil. Kerbau berjalan perlahan ke kebun pada saat Pak Tani sedang memanen mentimun. Pak Tani tidak curiga karena Kerbau kadang-kadang memang terlihat di kebunnya. Padahal kali ini ada si Kancil yang ikut masuk ke kebun.

Si Kancil tidak kelihatan karena terhalangi badan Kerbau yang besar. Kancil senang akhirnya bisa mengambil mentimun sebanyak mungkin. Pak Tani kemudian menemukan beberapa pohon yang tidak ada buahnya ketika sedang berkeliling kebun. Dia lalu teringat pada si Kerbau tadi siang. Tapi  Pak Tani masih tidak yakin kalau Kerbau yang mengambil mentimun.

Esok harinya si Kancil dan Kerbau mengulangi perbuatan yang sama. Mereka berjalan beriringan ke kebun mentimun. Sialnya, Pak Tani sedang mengawasi Kerbau kali ini. Pak Tani berteriak-teriak memanggil si Kerbau.

“Celaka! Ada Pak Tani!” seru Kerbau gugup.

Kancil mengintip dari balik tubuh Kerbau. “Kamu tidak usah takut, Kerbau. Biar aku yang lari. Kamu di sini saja, dan ini mentimun untukmu.”

Si Kancil langsung lari setelah meletakkan mentimun dekat si Kerbau. Kerbau bingung dengan apa yang terjadi, otaknya tidak bisa berpikir.

“Kena kau pencuri!” seru Pak Tani.

“Aku tidak mencuri mentimunmu, Pak tani,” sanggah Kerbau ketakutan.

“Lalu ini apa?” sergah Pak Tani sambil menunjuk mentimun yang tergeletak dekat kaki Kerbau.

Kerbau mengeluh karena baru paham diakali si Kancil. Tapi ia tidak bisa lari cepat. Pak Tani juga sudah berjaga-jaga dari tadi.

“Sebagai hukumannya, kamu harus membajak sawahku, Kerbau!” seru Pak Tani lagi.

Jadilah si Kerbau membajak sawah Pak Tani sebagai hukuman. Padahal Kancil yang mengambil mentimun bukan dirinya.

Baca juga: Dongeng Kancil dan Kerbau Dungu

6. Dongeng Si Kancil dan Harimau yang Bodoh

Kancil sedang merumput ketika tiba-tiba seekor harimau menghampirinya, “Hehe, nasibku baik sekali, siang ini aku akan makan Kancil yang enak.”

Kancil terkejut, dan dia sudah terpojok, namun dia berusaha tenang.

“Tuan Harimau, kau memang luar biasa,” puji Kancil “Tetapi rajaku pernah bilang bahwa siapapun yang akan memakan rakyatnya harus seijin beliau.”

“Jadi kamu selama ini punya raja?” Harimau mengejek. “Aku tidak takut.”

“Baginda Raja berkata, jika rakyatnya diganggu, dia akan mengejar pengganggu tersebut dan keluarganya. Bayangkan jika dia mengejar anak-anak Tuan Harimau.”

“Memang dia sekuat apa, sih?” Harimau menjadi gusar.

“Rajaku sangat kuat tetapi rendah hati. Tidak ada binatang lain yang bisa menyainginya. Beliau pernah mengalahkan Gajah”

“Aku tidak percaya, Kancil!” kata Harimau kesal.

“Beliau tidak suka dipuji apalagi menyombongkan diri. Namun, kami sebagai rakyatnya bisa melihat bukti kekuatannya.”

Merasa tertantang, Harimau berkata, “Di mana istana rajamu!”

“Tidak, Tuan Harimau. Yang Mulia Rajaku tidak ingin diketahui tempat tinggalnya meski dia berada di istana yang mewah.

“Tunjukkan atau aku makan kamu sekarang!” erang Harimau. Mereka berjalan sampai ke sebuah sumur.

“Ah, Yang Mulia Raja sedang tidur rupanya,” bisik Kancil menempelkan telinganya ke dinding sumur.

“Kenapa kamu berbisik-bisik? Bangunkan dia!” Harimau tidak sabar. Ia maju dan melongok ke bibir sumur kemudian berteriak “Raja Kancil, keluarlah!”

Teriakan itu menggema “Aaaaaah!” dari dalam sumur. Harimau mundur selangkah, mengira itu jawaban dari raja si Kancil. Lalu maju lagi.

“Cukup, Tuan Harimau,” Kancil membujuk “B-baginda R-rajaku di dalam sana marah sekali,” Kancil bersikap gelisah. “Lebih baik Tuan Harimau pulang saja.”

“Tidak, aku mau bertemu dia!” kata Harimau, disambut dengan “Yaaaaa!” dari dalam sumur.

“Aku akan ke tempatmu sekarang!” kata Harimau lagi, disambut dengan gema “Aaaaang!”

“Hmm, Kancil, aku mau masuk, bagaimana caranya?”

“Jika memang Tuan Harimau siap, silakan naik ke ember itu, aku akan membantu Tuan ke bawah dengan tali itu bertemu Raja,” kata Kancil dengan lagak ketakutan.

Harimau menaiki ember, dan Kancil pun mengerek tali ember pelan-pelan. Di pertengahan, Kancil menggoyang tali ember, hingga Harimau kehilangan keseimbangan. “Byuuur!” Harimau terjatuh ke sumur.

Kancil berlari meninggalkan sumur dan berteriak “Silahkan ngobrol dengan Baginda Raja, Tuan Harimau!”

“Awas kau, Kancill!” teriak Harimau dari dalam sumur.

Nah, setelah membaca tentang kancil, setuju, kan, bahwa dia cerdik? Ia pun menggunakan kecerdikannya untuk membantu teman-temannya.

(Gramedia.com)

7. Dongeng Kancil, Kerbau Dungu dan Buaya

Inilah dongeng Kancil, Kerbau dan Buaya.

Di suatu sore yang cerah, seekor Kerbau Besar sedang berjalan di tepi sungai. Tiba-tiba ia mendengar suara minta tolong.

"Tolong... Tolong...,"

Kerbau berusaha mencari sumber suara itu. Ternyata itu adalah suara buaya yang tertimpa pohon besar

"Kerbau... Tolong aku kerbau...." rintih Buaya.

Buaya pun merasa iba tetapi ia juga takut.

"Kalau aku menolongmu, nanti pasti kau akan makan aku," tutur Buaya.

Buaya pun berbohong jika ia baru saja makan 2 ekor kancil. Ia tak lapar.

"Aku baru saja memakan 2 ekor kancil. Perutku sangat kenyang. Jadi tak mungkin aku memakanmu.

Lagipula Kerbau... Hanya kau yang bisa mengangkat pohon ini. Badanmu besar, ototmu kuat, sebenarnya dibanding Singa kau lebih pantas menjadi raja hutan di sini," tutur Buaya.

Kerbau pun tersipu dengan pujian Buaya.

Buaya tertimpa pohon besar (dongeng Kancil)
Buaya tertimpa pohon besar (dongeng Kancil) (TV Alhijrah)

" Begitukah Buaya? Aku pantas menjadi raja hutan di sini? "tanya Kerbau Dungu.

"Iya,sebagai raja hutan kau harus menolong rakyatmu. Termasuk aku," bujuk buaya.

Termakan bujuk rayu buaya, Kerbau pun mengangkat pohon tumbang yang menindihi tubuh buaya.

Setelah pohon tersebut terangkat, tiba-tiba buaya menggigit kaki Kerbau.

Kerbau pun marah.

"Apa-apaan kau Buaya! Tak tahu balas budi! Aku sudah menolongmu tapi kenapa kau makan aku?" tanya Kerbau.

Buaya menggigit Kerbaudalam dongeng Kancil
Buaya menggigit Kerbaudalam dongeng Kancil (TV Alhijrah)

Buaya pun tertawa.

"Hahaha beginilah hukum rimba, siapapun boleh memakan siapapun. Aku binatang buas mana kenal balas budi," tawa buaya.

Di tengah keributan tersebut, datanglah Kancil Si Cerdik.

Kerbau pun menceritakan yang terjadi. Begitu juga dengan Buaya. Tetapi Buaya si Licik tetap berdalih jika ini adalah hukum alam. Kerbau memang makanan Buaya.

Kancil Si Cerdik pun menyusun rencana. Ia pura-pura tidak mengerti apa yang dibicarakan Kerbau dan Buaya.

" Aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang kalian bicarakan. Bisakah kalian melakukan reka ulang?" pinta Kancil Si Cerdik.

Buaya pun segera melepas gigitannya dan kembali ke tempat di mana ia tertimpa pohon.

Kerbau segera meletakkan pohon besar itu di tubuh Buaya.

"Buaya itu minta tolong, lalu aku angkat pohon itu," kata Kerbau Dungu melakukan adegannya.

"Mmm Kerbau kau mau apa?" tanya Kancil.

"Mengangkat pohon itu seperti yang kuceritakan padamu,"kata Kerbau Dungu.

Fabel Dongeng Kancil dan Kerbau Dungu
Fabel Dongeng Kancil dan Kerbau Dungu (TV Alhijrah)

"Kenapa?"

"Aku tak mau Buaya mati," jawab Kerbau.

"Setelah itu?" tanya Kancil Si Cerdik.

Kerbau pun segera tersadar.

"Oh terimakasih Kancil" kata Kerbau.

Buaya pun marah, "Hei ini tak sesuai cerita. Kerbau seharusnya mengangkat pohon ini," kata Buaya.

"Tak mau lah, setelah itu kau akan memakanku! ," jawab Kerbau.

Kerbau dan Kancil pun meninggalkan Buaya yang masih tertimpa pohon.

"Sialan kau Kancil! Kau menipuku lagi! Awas kau Kancil"teriak Buaya murka.

(*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved