Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Penangkapan Teroris di Jateng

BERITA LENGKAP: Densus 88 Tangkap Terduga Teroris di Semarang, Purwokerto, Kendal, dan Pekalongan

Densus 88 menangkap dua terduga teroris di Kota Semarang yang disinyalir merupakan anggota Jamaah Islamiah (JI).

Tribun Jateng/ Iwan Arifianto
Gang menuju ke rumah Djoko Soewarno (46) terduga teroris yang ditangkap anggota Densus 88 tepat di depan rumahnnya di Gang Damai 3, RT 7 RW 6, Wonolopo, Mijen, Kota Semarang, Jumat (13/8/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Densus 88 menangkap dua terduga teroris di Kota Semarang yang disinyalir merupakan anggota Jamaah Islamiah (JI).

Mereka yakni Djoko Soewarno (46) dan Febriana Safrudin Firmansyah (45). Berbeda dengan Djoko yang dipandang warga sebagai sosok baik hati, sebaliknya Febriana Safrudin Firmansyah (45) memiliki hubungan tak baik dengan para tetangganya.

Mereka berdua ditangkap di tempat berbeda, untuk Febriana Safrudin Firmansyah ditangkap oleh Densus 88 di sebuah rumah di Jalan Bukit Teratai RT 11 RW 19, Sendangmulyo, Tembalang, Kota Semarang, Jumat (13/8) sekira pukul 04.51 WIB.

Rumah tersebut Jumat sore tampak sepi, namun lampu depan rumah menyala terang. Rumah memang berada di ujung sendiri jauh dari pemukiman warga. Depan rumah juga berupa kebun kosong.

Di mata para tetangganya, sosok terduga teroris yang akrab disapa Firman memang dikenal kurang ramah kepada warga sekitar. "Ya dia pernah geger (ribut) dengan saya, urusan sepele motornya kena batu saat melintas di depan saya. Terus marah-marah ga jelas kepada saya namun ga tak layani," ujar seorang tetangga, Hadi kepada wartawan.

Ia melanjutkan, selepas itu tak ada komunikasi dengan terduga teroris tersebut. "Rumahnya itu di pojokan itu sendirian, sejak kejadian itu sudah lama saya ga komunikasi dengan orang itu," terangnya.

Sementara itu, Ketua RW 19 Muslihin menjelaskan, memang ada penangkapan seorang warganya yang diduga terlibat terorisme. "Ya tadi diminta menyaksikan penggeledahan rumah terduga," ujarnya.
Barang-barang yang dibawa, lanjut ia, berupa buku tulis, buku tabungan, stempel. Jumlah tiap item dari barang tersebut kurang mengetahuinya. "Setahu saya itu saja," jelasnya.

Ia mengatakan, terduga sudah lama tinggal di tempat tersebut, persisnya berapa tahun ia kurang tahu pasti. Yang jelas, terduga sudah masuk daftar penduduk setempat namun KTP bukan warga Sendangmulyo. "Sudah lama menetap di sini. Rumahnya yang ditempati statusnya juga rumah sendiri ga ngontrak," paparnya.

Untuk terduga Djoko Soewarno (46) ditangkap selepaskan melaksanakan salat subuh di Masjid Kasmuri Nurussalam yang tak jauh dari rumahnya. Selepas salat tersebut, ia dibekuk anggota Densus tepat di depan rumahnnya di Gang Damai 3, RT 7 RW 6, Wonolopo, Mijen, Kota Semarang.

"Istri dan anak Pak Djoko kaget atas penangkapan tersebut, kami sebagai warga juga tak percaya jika Pak Djoko diamankan aparat kepolisian lantaran diduga terlibat kasus terorisme," terang Ketua RT 7 RW 6, Wonolopo, Muhammad Ghufroni.

Ia menjelaskan, perasaan kaget yang dialami anak istri dan tetangga terduga teroris bukan tanpa alasan. Pasalnya, terduga selama ini dikenal sebagai sosok yang ramah terhadap tetangga dan memiliki jiwa sosial tinggi.

Terduga selama empat tahun tinggal di wilayah tersebut selalu ringan tangan ketika diminta tolong oleh tetangga sehingga tetangga tak menyangka sama sekali terduga terlibat aktivitas terorisme. "Setiap ada kerja bakti dan ada tetangga yang kesusahan Pak Djoko selalu semangat untuk membantu. Orangnya arif bijaksana dan hubungan ke tetangga sangat bagus," papar Ghufroni.

Di rumah tersebut ia tinggal bersama seorang istri dan enam orang anak dengan anak pertama sudah berstatus mahasiswa. "Istrinya yang mengajar ngaji, kalau Pak Djoko setiap harinya aktif di kegiatan sebuah lembaga sosial di Jatisari. Rumahnya beliau juga baru direnovasi bantuan dari RTLH Pemrov Jateng," bebernya.

Tak ada orang asing yang kerap mendatangi rumah tersebut. Terduga juga diketahui jarang melakukan perjalan ke luar kota. Ia banyak menghabiskan waktunya di wilayah sekitar. "Dulu pernah kerja sales kacamata, kaus kaki, kalau sekarang serabutan biasanya buruh nukang di rumah tetangganya," terangnya.

Djoko Soewarno ternyata masih tercatat sebagai warga Jalan Sadewa 7, RT 1 RW 4, Pendrikan Lor, Semarang Tengah, Kota Semarang.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved