OPINI
OPINI Syahrul Kirom : Kemerdekaan dan Kebangsaan
Pada momentum Hari Kemerdekan Indonesia tanggal 17 Agustus 2021, kita perlu banyak belajar sejarah kemerdekaan Indonesia 1945
Rasa humanisasi terhadap sesama rakyat dan bangsa Indonesia ini harus ditumbuhkan, apabila para birokrat, teknorat, dan pemerintah tidak mempunyai rasa humanisasi maka sudahlah habis keinginan negara Indonesia untuk memakmurkan dan mensejahterahkan rakyat Indonesia.
Kedua, dengan menumbuhkan kembali semangat nasionalisme dan mencintai ibu pertiwi, dalam hal ini mencintai tanah air secara fisik, yakni dengan mencintai hutan-hutan, pulau-pulau kita, tambang emas, minyak tanah, mencintai budaya tradisional kita. Apabila rasa mencintai tanah air dengan segala tumpah darah bisa diimplementasikan dalam mengambil setiap kebijakan-kebijakan pemerintah. Kemungkinan negara Indonesia akan lebih makmur dan sejahtera.
Ketiga, diperlukan juga upaya untuk memahami semangat mencintai ekonomi kerakyatan. Hubungan kita dengan perusahaan kapitalis harus dipatahkan dengan cepat, yakni pada struktur-struktur ekonomi yang terus melanggengkan dominasi pemilik modal. Perusahaan transnasional telah menjadi monster, raksasa global yang memegang kekuasaan ekonomi-politik yang sangat besar. Melainkan juga, janganlah negara Indonesia selalu menggantungkan kebijakan terhadap negara asing.
Indonesia harus mampu mengambil kebijakan tanpa ada intervensi negara asing. Kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para founding fathers terdahulu, harus kita maknai dalam kondisi saat ini untuk selalu memperjuangkan nasib wong cilik dan memberikan kesejahteraan karena Negara Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah (minyak gas bumi, pertambangan, kelapa sawit, pertanian, kelautan), gemah ripah loh jinawi, yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa Indonesia. Semoga. (*)
Baca juga: OPINI M Issamsudin : Pasanglah Bendera Merah Putih
Baca juga: OPINI Nendisyah Putra : Pentingnya Menulis di Era Milenial
Baca juga: OPINI Muhammad Itsbatun Najih : Hijrah dan Keberagamaan Inklusif
Baca juga: OPINI : Beban Psikologis Napi yang Bebas di Tengah Pandemi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/syahrul-kirom-mphil.jpg)