Sabtu, 11 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Program PINTAR

Bangun Branding Sekolah melalui Jurnal Karakter dan Literasi

Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan formal perlu memiliki branding yang kuat sehingga dapat menarik perhatian bagi peserta didik...

Editor: abduh imanulhaq
IST
Muhdhor SPd SD, Kepala SDN 1 Kalilumpang Patean Kendal 

Oleh: Muhdhor SPd SD, Kepala SDN 1 Kalilumpang Patean Kendal

SEKOLAH sebagai salah satu lembaga pendidikan formal perlu memiliki branding yang kuat sehingga dapat menarik perhatian bagi peserta didik, wali murid, dan warga masyarakat di sekitarnya. Lalu, bagaimana membangun branding sekolah yang menarik itu?

Branding Sekolah

Istilah branding pada umumnya digunakan dalam dunia industri untuk mencirikan merek dagang. Namun, seiring berjalannya waktu, istilah branding juga digunakan dalam dunia pendidikan terutama bagi sekolah-sekolah yang ingin mengenalkan keberadaannya. Hal ini dimaksudkan agar para peserta didik tertarik untuk belajar dan masuk menjadi bagian dari warga sekolah tersebut. Di samping itu, juga untuk menarik simpati bagi para wali murid dan warga masyarakat di sekitarnya.

Branding sekolah menjadi bagian penting yang perlu dibangun oleh sekolah dengan berbagai trik yang menarik. Banyak ragam trik yang dapat dilakukan untuk membangun branding sekolah. Branding sekolah tersebut juga dibangun atas dasar kesesuaian antara kebutuhan dan potensi yang dapat dikembangkan. Oleh karena itu, branding sekolah yang dibangun perlu melibatkan berbagai elemen pendidikan yang meliputi peserta didik, guru-guru, dan orang tua peserta didik.

Penanaman Karakter dan Literasi

Sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018, ada lima nilai karakter yang perlu dikembangkan oleh masing-masing satuan pendidikan formal. Kelima karakter yang meliputi religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas itu perlu dikembangkan melalui kegiatan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Dalam masa pandemi Covid-19 ini, penanaman karakter pada peserta didik tentu saja tidak dapat dilakukan secara tatap muka. Padahal meski dalam situasi dan kondisi pandemi, penanaman karakter pada peserta didik tetap harus dilakukan.

Salah satu cara yang dilakukan oleh SD Negeri 1 Kalilumpang adalah dengan adanya jurnal karakter dan literasi dalam jaringan (daring). Jurnal karakter yang dimaksud adalah berupa buku berkolom yang berisi catatan kegiatan pembiasaan peserta didik yang dilakukan secara daring (online). Sesuai dengan lingkungan tempat tinggal peserta didik, mereka dapat melakukan pembiasaan baik berupa kegiatan membaca Alquran, asmaul husna, surat-surat pendek, dan kegiatan pembiasaan baik lainnya sebelum mengikuti pembelajaran.

Buku Jurnal Penanaman Karakter (kiri)  Buku Jurnal Literasi Budaya Baca (kanan)
Buku Jurnal Penanaman Karakter (kiri)  Buku Jurnal Literasi Budaya Baca (kanan) (IST)

Tidak hanya kegiatan penanaman karakter saja yang menjadi branding sekolah di SD Negeri 1 Kalilumpang. Namun, kegiatan literasi secara daring pun tetap dilaksanakan.

Meskipun kegiatan dilakukan di rumah masing-masing peserta didik tetapi para guru tetap melakukan pemantauan melalui Whatsapp Group. Sebagai bukti pelaksanaan kegiatan, para peserta didik dapat mengirimkan foto kegiatan atau rekaman suara dan video.

Kegiatan penanaman karakter maupun literasi di SD Negeri 1 Kalilumpang selama masa pandemi dilakukan atas kerja sama antara guru kelas dengan orang tua peserta didik. Sebelum peserta didik mengikuti pembelajaran daring, mereka melakukan aktivitas atau kegiatan penanaman karakter dan literasi sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Untuk kegiatan literasi, peserta didik membaca buku bacaan (buku cerita) selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Sedangkan aktivitas penanaman karakter yang berupa membaca asmaul husna dan Alquran surat-surat pendek dilakukan setiap satu minggu sekali yaitu pada hari Rabu. 

Bahan bacaan yang digunakan untuk kegiatan literasi berupa buku-buku bacaan yang dimiliki sendiri atau meminjam dari sekolah. Kadang-kadang guru juga mengirimkan bahan-bahan bacaan secara variatif melalui pesan Whatsapp. Bahan bacaan yang dikirimkan dapat berupa cerita pendek anak-anak, pantun atau puisi. Dengan demikian, kegiatan literasi baca tetap dapat berjalan.

Orang Tua bersama anak membaca buku cerita (Kiri)    Guru berkunjung ke rumah siswa (luring) (Kanan)
Orang Tua bersama anak membaca buku cerita (Kiri)    Guru berkunjung ke rumah siswa (luring) (Kanan) (IST)

Kegiatan-kegiatan tersebut sesekali dihadiri dan didampingi oleh guru kelas secara bergilir. Guru kelas mendatangi rumah salah satu peserta didik secara bergantian.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved