Selasa, 28 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

AS Mulai Keluarkan Ancaman Atas Kebrutalan Taliban di Afghanistan

AS akan mengontak Taliban, karena kelompok itu sudah berjanji bakal menjaga keamanan para warga yang mau dievakuasi.

Editor: Vito
WAKIL KOHSAR / AFP
Seorang anak Afghanistan berjalan sendirian di dekat seragam militer ketika dia bersama para orang tua menunggu untuk meninggalkan bandara di Kabul, Afghanistan, Senin (16/8). 

TRIBUNJATENG.COM, WASHINGTON - Aksi brutal Taliban terhadap warga Afghanistan sampai juga ke telinga pemerintah Amerika Serikat (AS).

Penasihat Keamanan Gedung Putih, Jake Sullivan, mengaku akan mengontak Taliban, karena kelompok itu sudah berjanji bakal menjaga keamanan para warga yang mau dievakuasi.

"Kami memantau ketat semuanya dan sangat fokus, agar Taliban benar-benar memegang janjinya," ucap Sullivan, sebagaimana dilansir The Guardian.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Jen Psaki, lantas mengeluarkan ancaman jika sampai Taliban tak memenuhi janjinya. "Konsekuensinya adalah penggunaan kekuatan militer AS. Kami sudah menegaskan itu," tandasnya.

Seperti diberitakan, sejumlah potret hasil jepretan seorang jurnalis koresponden Los Angeles Times yang berada di Afghanistan, Marcus Yam, menunjukkan kebrutalan Taliban. Hal itu sekaligus menjadi indikator mengerikan dari pemerintahan Taliban.

Dalam satu foto, terlihat seorang bapak menggendong satu anak yang kepalanya bersimbah darah. Seorang bocah lain melihat anak itu sembari menangis, dengan pakaian yang juga sudah penuh bercak darah.

Di depan mereka, tergeletak seorang perempuan berbaju hitam. Kepala perempuan itu juga sudah penuh dengan darah yang mengucur hingga ke pipi.

Dalam foto lain, masih terlihat pemandangan yang sama, tapi dengan tambahan seorang bocah menangis sambil menatap ke arah dekat fotografer.

Tak hanya itu, Yam juga mengabadikan sejumlah momen ketika warga Afghanistan berlarian menuju bandara di Kabul agar dapat segera dievakuasi. 

Selain itu, beredar sebuah video amatir menunjukkan detik-detik saat beberapa anak kecil diserahkan orangtuanya ke tentara melalui tembok di bandara Kabul, Afghanistan. Peristiwa memilukan itu terjadi pada Selasa (17/8).

Kejadian itu terekam dalam video amatir warga Afghanistan dan diteruskan kantor berita Associated Press. Peristiwa memilukan itu terjadi berbarengan dengan eksodus ribuan warga Afghanistan setelah taliban menguasai ibu kota Kabul.

Dalam video itu, ribuan orang saling dorong dan berusaha memanjat tembok perimeter bandara internasional Kabul. Tentara AS yang menjaga bandara sempat beberapa kali melepaskan tembakan peringatan untuk membubarkan kerumunan.

Sementara, rekaman video lain memperlihatkan seorang ibu-ibu di Afghanistan yang ketakutan dan melindungi bayinya dari berondongan peluru Taliban.
Video itu viral di media sosial.

Sekretaris Jenderal Amnesti Internasional, Agnès Callamard mengatakan, kebrutalan pembunuhan itu adalah pengingat akan catatan masa lalu Taliban, dan indikator mengerikan dari apa yang mungkin akan dibawa oleh pemerintahan Taliban.

"Pembunuhan yang disengaja ini adalah bukti bahwa etnis dan agama minoritas tetap berada dalam bahaya di bawah pemerintahan Taliban di Afghanistan," ujarnya.

Ia menambahkan, layanan telepon seluler telah terputus di banyak daerah yang telah direbut oleh Taliban, sehingga informasi tentang pembunuhan itu tidak bocor sampai sekarang. Amnesty Internasional meminta PBB menyelidiki dan melindungi mereka yang dalam bahaya.

Taliban terkenal karena aksi brutal mereka selama berkuasa di Afghanistan dengan merampas hak-hak perempuan dan etnis minoritas, sebelum mereka digulingkan oleh pasukan koalisi yang dipimpun AS pada 2001.

Dalam konferensi pers setelah pendudukan Kabul, Taliban berjanji tidak akan melancarkan serangan balas dendam terhadap siapa pun yang bekerja dengan pasukan AS, dan juga akan memberikan hak-hak kepada perempuan di bawah hukum syariah Islam.

Namun, sebuah dokumen PBB memperingatkan bahwa petempur Taliban telah pergi dari pintu ke pintu untuk mencari orang-orang yang bekerja untuk pasukan NATO atau pemerintah Afghanistan sebelumnya. (CNNIndonesia.com/Tribunnews/Kompas.com)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved