Rabu, 15 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ketakutan Meningkat, AS Lanjutkan Evakuasi Warga di Afghanistan

Tim AS mengevakuasi 3.000 orang lagi dari bandara Kabul pada Kamis (19/8), sehingga kini sudah ada sekitar 9.000 orang yang telah dievakuasi

Editor: Vito
Tribunnews.com/Istimewa
ilustrasi - Warga Afghanistan padati Bandara Kabul, Senin (16/8/2021). (Tangkap layar twitter @RichardEngel dan @MuslimShirzad) 

TRIBUNJATENG.COM, KABUL - Amerika Serikat (AS) mengevakuasi lagi sekitar 3.000 orang lebih dari bandara Kabul, di tengah kondisi Afghanistan sekarang diliputi ketakutan terhadap aksi balas dendam Taliban.

Gedung Putih mengatakan, tim AS telah mengevakuasi 3.000 orang lagi dari bandara Kabul pada Kamis (19/8).

"Amerika Serikat mengevakuasi sekitar 3.000 orang dari Bandara Internasional Hamid Karzai dengan 16 penerbangan C-17,” kata pejabat Gedung Putih, dalam laporan media, Jumat (20/8).

Melansir Al Jazeera, Jumat (20/8), ia menyebut, sebanyak 3.000 orang tersebut hampir 350 adalah warga negara AS. Lainnya adalah pemohon Visa Imigran Khusus dan keluarga mereka, warga Afghanistan yang rentan.

Sehingga, hingga kini sudah ada sekitar 9.000 orang yang telah dievakuasi dari Afghanistan oleh militer AS sejak 14 Agustus.

Pemerintah Indonesia juga  telah berhasil mengevakuasi 26 warga negara Indonesia (WNI) dari Kabul, Ibu Kota Afghanistan. Kabar itu disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno Marsudi, melalui twitter yang diunggahnya pada Jumat (20/8).

Menurut dia, evakuasi WNI dilakukan dengan pesawat TNI Angkatan Udara (AU). “Alhamdullilah, Pemerintah Indonesia telah berhasil mengevakuasi WNI dari Kabul, Afghanistan dengan pesawat TNI AU,” ujarnya.

Retno menuturkan, pesawat tersebut saat ini sudah berada di Islamabad untuk melanjutkan penerbangan ke Indonesia. Tim evakuasi membawa sekiranya 26 WNI termasuk staff KBRI.

Selain itu, tim juga membawa lima warga negara Filipina, dan dua warga negara Afghanistan, yakni suami dari WNI dan staff lokal KBRI.

Di tengah sejumlah negara melakukan evakuasi, kondisi di Afghanistan sekarang diliputi ketakutan yang meningkat terhadap tindakan balas dendam Taliban.

PBB merilis laporan bahwa terdapat ancaman dari milisi Taliban dengan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah yang menargetkan orang-orang yang bekerja dengan pasukan AS dan NATO.

Norwegian Center for Global Analyses yang menunlis laporan itu, menyebut, milisi Taliban menghadang orang-orang di jalan yang menuju bandara Kabul.

"Mereka menargetkan keluarga yang menolak untuk menyerahkan diri, (Taliban) akan menuntut serta menghukum keluarga mereka menurut hukum Syariah versinya," kata Christian Nellemann, direktur eksekutif Norwegian Center for Global Analyses kepada AFP.

"Kami memperkirakan individu yang sebelumnya bekerja dengan pasukan NATO/AS dan aliansinya, dan anggota keluarganya, akan disiksa dan dieksekusi," lanjutnya.

Kelompok hak asasi Amnesty International telah menerbitkan sebuah laporan yang menuduh Taliban telah membunuh sembilan pria etnis Hazara di provinsi Ghazni, setelah mereka mengambil alih provinsi tersebut pada Juli.

Laporan itu mengutip para saksi pembunuhan, yang terjadi antara 4-6 Juli di desa Mundarakht, distrik Malistan. "Enam orang ditembak dan tiga disiksa sampai mati," kata Kelompok hak asasi Amnesty International.

Kelompok Amnesty International itu mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengadopsi resolusi darurat yang menuntut Taliban menghormati hukum HAM internasional. (Tribunnews/Kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved