Minggu, 19 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Internasional

Ini Dia Malala Yousafzai, Aktivis Pendidikan yang Pernah Ditembak Taliban karena Bersekolah

Malala Yousafzai menggemparkan dunia setelah ditembak Taliban pada 9 Oktober 2012.

Kompas.com/Istimewa
Malala Yousafzai (17) tengah berbicara dalam sebuah acara di Birmingham, Inggris.(OLI SCARFF / AFP) 

TRIBUNJATENG.COM, PESHAWAR - Malala Yousafzai menggemparkan dunia setelah ditembak Taliban pada 9 Oktober 2012.

Saat itu, Malala Yousafzai yang berusia 15 tahun sedang dalam perjalanan dari rumah menuju sekolahnya naik bus.

Dia asyik mengobrol dengan teman-temannya tentang PR.

Baca juga: Afghanistan dan Taliban Sama-Sama Punya Pasukan Khusus, Ini Perbandingannya

Tiba-tiba, di tengah perjalanan dua anggota Taliban mencegat bus.

Mereka masuk dan salah satunya memanggil-manggil nama Malala.

Tak lama kemudian suara tembakan terdengar.

Malala ditembak tiga kali, satu peluru menembus kepalanya dan bersarang di bahunya.

Siswi itu pun terluka parah. 

Pada hari yang sama, dia dibawa ke rumah sakit militer Pakistan di Peshawar.

Empat hari selanjutnya Malala Yousafzai diterbangkan ke Birmingham, Inggris, untuk menerima perawatan intensif.

Meski memerlukan banyak operasi, termasuk perbaikan saraf wajah untuk memperbaiki sisi kiri wajahnya yang lumpuh, Malala Yousafzai tidak menderita kerusakan otak besar.

Pada Maret 2013, gadis Pakistan itu mulai bersekolah di Birmingham.

Atas penembakan itu dukungan besar-besaran mengalir kepada Malala Yousafzai.

Biografi Malala Yousafzai

Malala Yousafzai adalah anak sulung pasangan Ziauddin dan Tor Pekai Yousafzai.

Ia memiliki dua adik laki-laki.

Malala lahir pada 12 Juli 1997 di Mingora, kota terbesar Lembah Swat, provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan.

Mengutip Kompas.com pada 12 Juli 2018, masa kecil Malala Yousafzai sangat menyenangkan karena tempat tinggalnya adalah destinasi wisata populer, dan dikenal dengan festival musim panasnya. 

Akan tetapi, semua itu berubah ketika Taliban mencoba menguasai daerah tersebut.

Usia Malala Yousafzai masih 10 tahun ketika Taliban mulai mengendalikan Lembah Swat dan menjadi dominan di bidang politik dan sosial.

Taliban lalu melarang perempuan bersekolah dan kegiatan budaya seperti menari, bahkan menonton televisi juga tidak diperbolehkan.

Serangan bom bunuh diri menyebar, dan hingga akhir 2008 Taliban telah menghancurkan sekitar 400 sekolah.

Sebelum lolos dari percobaan pembunuhan Taliban, nama Malala Yousafzai sendiri sudah menggema berkat keberaniannya menyuarakan perlawanan terhadap kelompok tersebut.

Malala Yousafzai mendesak agar perempuan diperbolehkan memperoleh pendidikan.

Pada September 2008 contohnya.

Setelah Taliban menyerang sekolah perempuan di Swat, Malala berpidato di Peshawar dengan mengangkat judul "Betapa Beraninya Taliban Merampas Hak Dasar untuk Bersekolah".

Malala Yousafzai juga aktif menulis di blog untuk BBC Urdu, tetapi identitasnya disembunyikan.

Ia memakai nama samaran Gul Makai. 

Blog Malala berisi cerita dirinya hidup di bawah ancaman Taliban, yang melarang perempuan mengenyam pendidikan.

 
Dia mengungkapkan bahwa Taliban memaksanya untuk tinggal di rumah sehingga mempertanyakan motif kelompok itu.

Selamat dari penembakan, makin kencang suarakan hak perempuan untuk lawan Taliban

Perang Pakistan melawan Taliban meletus pada 2009, dan Malala menjadi pengungsi di negaranya.

Dia dan keluarganya harus meninggalkan rumah untuk mencari lokasi aman yang jauhnya ratusan kilometer.

Ketika kembali ke rumah beberapa pekan kemudian, Malala menggunakan sarana media untuk melanjutkan kampanye hak bersekolah.

Suaranya makin nyaring sehingga dia dan ayahnya menjadi dikenal seantero Pakistan.

Kegiatan aktivisnya berbuah manis dengan masuknya Malala Yousafzai sebagai nominasi penghargaan Nobel Perdamaian Anak Internasional pada 2011.

Pada tahun yang sama, dia mendapat penghargaan Pakistan's National Youth Prize.

Setelah selamat dari penembakan, Malala Yousafzai makin gencar menyuarakan hak-hak perempuan untuk melawan Taliban.

Pada 2013, dia melakukan pidato untuk PBB dan menerbitkan buku pertamanya berjudul I am Malala. 

Setahun kemudian, Malala Yousafzai menyabet Penghargaan Nobel Perdamaian saat dia berusia 17 tahun. Malala menjadi orang termuda yang meraih penghargaan tersebut.

"Penghargaan ini tidak hanya untuk saya. Ini untuk anak-anak yang terlupakan yang ingin menempuh pendidikan. Ini untuk anak-anak yang ketakutakan, yang menginginkan perdamaian," kata Malala Yousafzai.

"Ini untuk anak-anak yang tidak bisa bersuara, yang menginginkan perubahan," imbuhnya.

 
Tahun itu juga, ia mendirikan lembaga amal Malala Fund dengan dibantu ayahnya. Sekarang lembaga tersebut memberdayakan anak perempuan untuk mengolah potensi diri sehingga mampu menjadi pemimpin kuat bagi negara.

Proyek pendidikan dari Malala Fund tersebar di enam negara dan bekerja sama dengan pemimpin dunia.

Selanjutnya tahun 2014, Malala Yousafzai meraih penghargaan Nobel Perdamaian atas perannya dalam menyuarakan hak anak.

Kembali ke Pakistan lalu lulus dari Universitas Oxford
 

TWITTER @Malala Malala Yousafzai (tengah) saat merayakan kelulusannya dari Universitas Oxford, Juni 2020.
Pada 29 Maret 2018, Malala Yousafzai kembali ke Pakistan untuk pertama kalinya sejak serangan brutal pada 2012. 

Dia bertemu dengan Perdana Menteri Shahid Khawan Abbasi dan menyampaikan pidato yang emosional.

Selama kunjungan empat hari itu, Malala Yousafzai mengungkapkan kerinduan terhadap tanah airnya.

Malala Yousafzai lalu diterima kuliah di Universitas Oxford, Inggris. Dia lulus pada Juni 2020 saat berusia 22 tahun.

Melansir Sky News, Malala melalui akun Twitter-nya mengabarkan kepada publik bahwa dia baru saja menyandang gelar sarjana jurusan Filsafat, Politik dan Ekonomi dari Universitas Oxford, Inggris.

"Sulit untuk mengekspresikan betapa senang dan bersyukurnya saya saat ini telah menyelesaikan studi saya, di jurusan Filsafat, Politik dan Ekonomi di Oxford," tulis Malala di Twitter.

Ucapan selamat pun mengalir dari berbagai pihak, seperti Wali Kota London Sadiq Khan hingga astronot NASA Anne McClain.

Kompas.com pada 20 Juni 2020 mewartakan, ada ribuan ucapan selamat atas kelulusan Malala Yousafzai. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kisah Malala Yousafzai, Gadis yang Ditembak Taliban karena Bersekolah, Selamat, hingga Lulus Kuliah di Oxford"

Baca juga: Wapres Akan Terjunkan Pasukan Elite Afghanistan yang Dilatih SAS Inggris untuk Tumpas Taliban

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved