Kamis, 23 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Mom N Kid

Awas, Ancaman Obesitas Mengintai Anak Penggemar Junk Food

Junk food biasanya memiliki karakteristik sebagai makanan dengan bentuk dan warna yang menarik.

Penulis: Akhtur Gumilang | Editor: moh anhar
Dokumentasi Pribadi
dr Domiko Widyanto SpA, Dokter Spesialis Anak 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dokter Spesialis Anak, dr Domiko Widyanto SpA menyebutkan, junk food biasanya memiliki karakteristik sebagai makanan dengan bentuk dan warna yang menarik.

Hal ini tentu memicu minat nafsu makan anak.

Salah satu cara memicu nafsu makan anak memang dengan memberikan makanan-makanan yang dikemas unik, warna menarik, dan rasa lezat.

Sayang, semua itu ada pada junk food.

Junk food bisa lebih lezat dari makanan pada umumnya karena mengandung kadar gula, garam, dan natrium yang tinggi.

Wajar, jika anak-anak tertarik.

Baca juga: Siasat Ibu agar Anak Tidak Ketagihan Makanan Cepat Saji: Susah Nahan, Mudah Tergiur Promo

Baca juga: Alasan Tetangga Tak Mendengar Terjadi Pembunuhan Ibu dan Anak, Mayat Ditumpuk di Bagasi Alphard

Baca juga: Menang Mutlak Atas Manny Pacquiao, Ugas Kini Bertekad Menyatukan Gelar.

Baca juga: Wasit Ini Tenteng Pistol Saat Pimpin Laga Sepakbola Ricuh Gara-gara Urusan Penalti

Junk food merupakan makanan dengan kadar gizi rendah, namun tinggi kalori.

Saat ini makanan cepat saji (fast food) dan junk food memang agak susah dibedakan.

Akan tetapi, junk food biasanya memiliki kadar gula, karbohidrat, dan natrium yang lebih tinggi dari makanan biasanya.

Contoh, seperti pizza, pasta, ayam goreng, popcorn, kentang goreng, donat, dan masih banyak lainnya.

Lalu, kenapa junk food dikatakan sebagai makanan dengan kadar gizi rendah?

Sejatinya makanan harus mengandung empat sehat lima sempurna.

Mulai dari jumlah karbohidrat, protein, lemak, serat, vitaminnya harus terukur lengkap.

Di junk food, semuanya minim. Junk food hanya makanan dengan kadar kalori dan lemak jenuh yang tinggi, sedangkan protein, serat, dan vitaminnya kurang.

Junk food memang dapat membuat anak ketagihan.

Arti ketagihan ini sendiri adalah membuat anak jadi lebih suka.

Bukan ketagihan karena adanya zat adiktif.

Namun, junk food ini dapat membuat kecenderungan anak jadi lebih suka.

Anak bisa lebih suka junk food daripada makanan-makanan yang dimasak oranguanya.

Sebetulnya, junk food ini harus dihindari dari anak.

Orang tua, kalau bisa, tidak perlu mengenalkan junk food kepada anaknya.

Tidak ada ukuran pasti mengenai seberapa boleh junk food dikonsumsi anak.

Sebab, dalam sejumlah riset, mengonsumsi junk food seminggu sekali pun dapat memicu risiko.

Waktu seminggu tidak bisa dijadikan acuan.

Sejauh ini memang tidak ada patokannya.

Namun jika mengacu pada subtansinya, mungkin lebih baik dihindari.

Kalaupun sudah terlanjur, orangtua harus mengurangi frekuensi anak dalam mengonsumsi junk food.

Yang jelas tak ada patokannya, namun bisa dikurangi menjadi dua minggu sekali.

Selain dikurangi, asupan anak pun wajib diimbangi dengan gizi lain kalau sudah terlanjur mengenal junk food.

Misalkan, diimbangi dengan memakan sayuran dan buah-buahan.

Oleh karena junk food tinggi kalori namun rendah gizi, maka harus di-back up dengan makanan-makanan seperti sayuran dan buah-buahan.

Junk food harus dihindari karena banyak dampak buruk yang mengintai.

Bahaya jangka pendeknya adalah pertama, dapat menyebabkan gigi rentan rusak karena kandungan gula yang tinggi pada junk food.

Kedua, dapat memicu malnutrisi lantaran minimnya gizi pada junk food. Ketiga, memicu badan anak mengalami kegemukan, bahkan obesitas.

Sebab, jumlah kalori pada junk food melebihi batas kebutuhan wajar anak.

Apalagi kandungan lemak di junk food sendiri sebagian besar didominasi lemak jahat, bukan lemak sehat.

Lalu bahaya jangka panjang yang mengintai adalah dapat memicu penyakit diabetes.

Pemberian makanan dengan kandungan gula yang tinggi secara terus menerus dapat menyebabkan beban pada pankreas.

Jika terjadi terus menurus, maka suatu saat bisa menjadi penyakit diabetes.

Apabila sudah terjadi diabetes, maka seluruh bagian tubuh pun akan terganggu.

Misalnya, fungsi ginjal jadi terganggu.

Berakibat gagal ginjal.

Berikutnya adalah dapat memicu penyakit hipertensi atau darah tinggi yang disebabkan kebiasaan mengonsumi makanan dengan kadar natrium tinggi.

Lalu terakhir, bisa juga mengakibatkan stroke.

Oleh karena itu, sebisa mungkin orangtua jangan mengenalkan junk food pada anak.

Hindari mereka dari junk food.

Baca juga: 3 Catatan Polisi Ungkap Pembunuh Ibu dan Anak Mayat Ditumpuk di Bagasi Alphard: Ada Sosok Mister X

Baca juga: Rafathar Minta ke Mall Tapi Tutup, Raffi Ahmad Undang Timezone ke Rumah

Kalaupun sudah terlanjur, sederhananya adalah mengajak anak untuk mengurangi konsumsi junk food.

Lalu diiringi dan diimbangi dengan banyaknya mengonsumsi sumber makanan lain seperti dari daging, telur, sayuran, buah-buahan, dan sejenisnya.

Atau, sebelum memakan junk food, kalau bisa sang buah hati dibuat kenyang terlebih dahulu dengan sumber makanan lain.

Hal itu dilakukan supaya jadi berkurang ketika memakan junk food-nya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved