Jumat, 10 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Batang

Cara Kreatif SMPN 4 Bawang Batang Siasati Kendala Akses Internet Pembelajaran Daring

Kabut cukup tebal menyelimuti hampir seluruh permukiman Dukuh Winong, Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, akhir pekan lalu

Penulis: dina indriani | Editor: Catur waskito Edy
Tribun Jateng/Dina Indriani
Sejumlah siswa SMP Negeri 4 Bawang memanfaatkan fasilitas sekolah laptop dan jaringan internet gratis untuk mencari bahan pelajaran daring, Kamis (19/8/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, BATANG -- Kabut cukup tebal menyelimuti hampir seluruh permukiman Dukuh Winong, Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, akhir pekan lalu.

Dukuh yang berada di kaki Gunung Prahu itu memiliki keindahan alam yang masih asri dengan hamparan perbukitan.

Sebuah bangunan sekolah tampak berdiri sendiri, dikelilingi hamparan hijau perbukitan dan deretan pegunungan yang menjulang tinggi.

Sekolah itu merupakan satu-satunya sekolah berjenjang menengah pertama (SMP) di desa itu yang didirikan pada 2014.

Keberadaan SMP Negeri 4 Bawang itupun menjadi harapan baru bagi anak-anak di desa tersebut untuk bisa merasakan belajar di bangku sekolah menengah pertama, meski mereka harus menempuh perjalanan panjang dan jalan yang sulit.

Afiyanatu Suibah (14), misalnya. Setiap hari ia harus berjalan kaki naik turun bukit melewati jalan yang cukup terjal dengan jarak tempuh 15-20 menit dari rumahnya di Dukuh Sigemplong. Semangatnya tidak pernah lesu. Ia ingin terus belajar menggapai cita-citanya sebagai seorang guru.

"Berjalan kaki sudah biasa menyusuri bukit naik turun, jalannya lumayan terjal, saya tetap menikmati dan senang karena bisa bersekolah. Hanya saja kalau hujan deras terpaksa tidak berangkat, karena beberapa jalan rawan longsor," tutur siswa kelas 9 itu, saat ditemui Tribun Jateng, Jumat (20/8).

Afi, sapaannya, hanyalah satu potret anak pelosok desa yang harus berjuang untuk menempuh pendidikan, di mana seluruh siswa di SMPN 4 Bawang juga merasakan hal yang sama.

Namun, hal itu tak pernah meluruhkan niat mereka untuk terus belajar di sekolah. Di tengah perjuangan mereka yang belum usai, pandemi covid-19 melanda negeri ini. Semua sektor ikut terdampak, tak terkecuali sektor pendidikan.

Untuk mencegah penularan yang lebih meluas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan kebijakan penerapan pembelajaran sistem online untuk seluruh sekolah di Indonesia.

Mungkin bagi sekolah di perkotaan hal itu relatif cukup mudah dilakukan. Namun tidak untuk sekolah-sekolah yang ada di pelosok daerah, seperti SMPN 4 Bawang. Pembelajaran sistem online menjadi ujian baru bagi guru dan siswa karena berada di wilayah terisolir. Titik lokasi blank spot atau susah sinyal hampir merata di setiap dukuh.

Tak hanya terkendala sinyal, orangtua siswa yang mayoritas petani serta bukan dari kalangan mampu juga merasa keberatan membelikan kuota internet, terlebih di tengah situasi ekonomi dampak pandemi.

Kepala SMPN 4 Bawang, Mulud Sugito berusaha melakukan berbagai cara agar para siswanya tidak ketinggalan pelajaran. Ia bersama beberapa guru berinisiatif melakukan jemput bola ke rumah siswa. Namun, cara itu tidak terlalu efektif, karena hanya bisa dilakukan sekali dalam seminggu.

Kemudian dengan anggaran sekitar Rp 15,7 juta, pihak sekolah memasang antena mikrotik untuk pemancar jaringan internet. Sehingga, siswa bisa mendapatkan hotspot internet secara cuma-cuma yang disediakan sekolah.

Inovasi

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved