Berita Internasional

Taliban Kuasai Alat Super Canggih Pemindai Biometrik Buatan Amerika

Selain menguasai kendali pemerintahan Afghanistan, Taliban juga menghambilalih senjata perang yang menggunakan sistim pengawasan super buatan Amerika

Editor: m nur huda
Tribunnews.com/The Sun
Pasukan elite Taliban Badri 313 Badri. 

TRIBUNJATENG.COM, KABUL - Selain menguasai kendali pemerintahan Afghanistan, Taliban juga menghambilalih senjata perang yang menggunakan sistim pengawasan super buatan Amerika Serikat (AS).

Alat itu, pemindai biometrik digunakan untuk memburu warga sipil yang bekerja dan bertempur bersama Taliban.

Seharusnya menjadi perhitungan bagi semua orang yang menjual pengawasan biometrik sebagai alat untuk kebaikan.

Selama 20 tahun terakhir, Afghanistan menjadi tempat pelatihan teknologi, seperti dilansir The Daily Beast, Selasa (24/8/2021).

Itu adalah tempat Amerika bereksperimen dengan senjata perang baru, seperti drone Predator, seringkali dengan hasil yang mengerikan di sektor militer maupun kemanusiaan.

Dengan pergi dari komunitas ke komunitas, memindai data biometrik Afghanistan tanpa pandang bulu.

AS berharap dapat menciptakan alat kontra-pemberontakan baru.

Upaya itu gagal menciptakan apa pun yang dapat menghentikan Taliban, tetapi itu menciptakan hal-hal yang sangat berbahaya di tangan Taliban sendiri.

Sekitar 80 persen warga, sekitar 25 juta orang, menjadi sasaran untuk dimasukkan dalam database biometrik militer AS.

Sekarang, Peralatan Deteksi Identitas Antar-Lembaga Genggam dapat memindai sidik jari, wajah, dan iris orang Afghanistan untuk mengungkapkan informasi biografis.

Perangkat yang diberdayakan Microsoft juga dapat memanfaatkan database informasi nasional yang jauh lebih besar.

Tentang jutaan warga Afghanistan yang dikumpulkan oleh Amerika Serikat selama dua dekade perang.

Dengan teknologi itu, Taliban akan mengendalikan salah satu sistem pengawasan negara paling canggih di planet ini.

Ini menjadi lebih buruk.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved