Sabtu, 11 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Taliban Minta Perempuan Afghanistan di Rumah: Pasukan Kami Belum Terlatih

perempuan Afghanistan harus berdiam diri di rumah sampai rezim Taliban memiliki prosedur baru.

Editor: Vito
AL JAZEERA / AFP
ilustrasi - Gambar yang diambil dari televisi Al-Jazeera yang berbasis di Qatar pada Senin (16/8/2021), menunjukkan Anggota Taliban mengambil alih istana kepresidenan di Kabul, setelah presiden Afghanistan terbang ke luar negeri. 

TRIBUNJATENG.COM, KABUL - Nasib kaum perempuan di Afghanistan terus menjadi perhatian serius setelah negara itu dikuasai Taliban lebih dari sepekan.

Terbaru, kelompok pemberontak itu meminta kaum perempuan Afghanistan harus berdiam diri di rumah setidaknya untuk saat ini.

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid mengatakan, imbauan itu keluar karena sebagian milisi kelompoknya belum dilatih untuk tidak melukai perempuan.

"Kami khawatir bahwa pasukan kami yang baru belum terlatih dengan baik, sehingga masih mungkin memperlakukan perempuan dengan tidak baik. Kami tidak ingin pasukan kami membahayakan hingga melukai perempuan," katanya, dalam jumpa pers di Ibu Kota Kabul pada Selasa (25/8)..

Mujahid menuturkan, perempuan Afghanistan harus berdiam diri di rumah sampai rezim Taliban memiliki prosedur baru.

Ia bahkan menjamin perempuan yang bekerja tetap mendapatkan gaji meski harus berdiam diri di rumah.

Dia menambahkan, kebijakan tersebut akan berlangsung sementara waktu sampai Taliban bisa menjamin keamanan kaum perempuan Afghanistan di bawah kendali kelompok itu.

"Ini benar-benar prosedur sementara. Pasukan keamanan kami tidak terlatih (dalam) bagaimana menangani wanita, bagaimana berbicara dengan wanita. Sampai kami memiliki keamanan penuh, kami meminta wanita untuk tinggal di rumah," ucapnya, dikutip BBC, Rabu (25/8).

Pernyataan Mujahid itu senada dengan ucapan Wakil Komite Kebudayaan Taliban, Ahmadullah Waseq, kepada New York Times pekan ini.

Waseq menyatakan bahwa Taliban tak bermasalah melihat perempuan bekerja selama mereka mengenakan kerudung atau hijab.

"Tapi untuk saat ini, kami meminta mereka untuk berdiam diri di rumah sampai situasi normal kembali. Saat ini masih berlangsung situasi (darurat) militer," jelasnya.

Sejak kejatuhan Afghanistan ke tangan Taliban, banyak masyarakat khawatir terkait masa depan dan keamanan mereka, terutama kaum perempuan.

Sebab, ketika Taliban berkuasa pada 1996-2001, kelompok itu menerapkan kebijakan yang sangat konservatif, bahkan membatasi hak-hak perempuan dan tak jarang brutal terhadap mereka.

Saat itu, kaum perempuan dilarang sekolah dan meniti karir, bepergian tanpa wali laki-laki, hingga diwajibkan menggunakan pakaian burkak yang menutupi seluruh tubuh. Taliban bahkan tak jarang menghukum perempuan yang dinilai menyalahi aturan mereka. (Kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved