Breaking News:

DPRD Jateng

DPRD Jateng Prihatin Pekerja Seni Kehilangan Nafkah: Ada yang Gadai Baju Adat dan Motor

Sukirman mengatakan, pegiat kesenian tradisional membutuhkan perhatian selama masa pandemi Covid-19.

Penulis: m zaenal arifin | Editor: Daniel Ari Purnomo
DPRD Jateng
Wakil Ketua DPRD Jateng, Sukirman, menyerap aspirasi para pegiat kesenian tradisional di Kabupaten Pemalang, kemarin. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Sukirman mengatakan, pegiat kesenian tradisional membutuhkan perhatian selama masa pandemi Covid-19.

Terlebih, selama kebijakan PPKM berlangsung sampai sekarang ini, mereka tak bisa mencari nafkah.

Sukirman mengatakan, PPKM membatasi mobilitas semua warga supaya tidak ada penularan Covid-19.

Namun, para penggiat kesenian bila tidak menggelar pertunjukkan seni maka mereka tidak bisa mendapatkan nafkah.

"Pegiat seni tradisional sering kali tidak begitu terlihat oleh publik luas dan juga pemerintah. Seharusnya mulai saat ini harus ada dukungan penuh bagi mereka yang menggeluti pelestarian kesenian daerah selain juga sebagai mata pencaharian," kata Sukirman, dalam rilisnya, Jumat (27/8/2021).

Hal itu disampaikan Sukirman di sela-sela reses dengan menghadirkan para perwakilan penggiat seni budaya di Kabupaten Pemalang yang juga diikuti paguyuban pranatacara dan Dewan Kesenian Pemalang.

Legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menilai, sudah saatnya pegiat seni budaya tradisional juga mendapatkan bantuan sama seperti profesi lainnya.

Ia berjanji, DPRD akan terus mendukung kegiatan kesenian tradisional dan bersama dinas terkait akan merancang berbagai program untuk mengangkat kembali kesenian daerah selama masa pandemi ini.

"Berbagai program yang dapat direncanakan selama masa pandemi dan pembatasan sosial adalah pertunjukan lewat virtual walaupun atmosfer akan dirasa berbeda bila disaksikan secara langsung," paparnya.

Mewakili para pegiat kesenian daerah, Ketua Dewan Kesenian Pemalang, Andi Rustono menyampaikan selama masa PPKM banyak seniman yang semula menggantungkan hidup melalui pertunjukan seni terpaksa harus menjual peralatan pertunjukkan miliknya untuk menyambung kebutuhan hidup harian.

"Kalau PPKM terus berlanjut, berseri-seri, lama kelamaan alat-alat pertunjukan milik seniman habis dijual demi sesuap nasi. Bahkan kostum pun harus ikut dijual. Kami pun masih menanggung iuran bulanan paguyuban dengan biaya yang tidak sedikit. Maka perlu ada jalan keluar," ucapnya.

Senada disampaikan Ketua Paguyuban Pranatacara Pemalang, Ki Suryo.

Dikatakannya, tidak sedikit dari anggotanya ada yang menjual atau menggadaikan baju adatnya serta sepeda motor supaya bisa menyambung hidup.

"Acara pernikahan dibatasi secara ketat sehingga para seniman pranatacara terpaksa tidak bisa tampil seperti biasa. Kami mewakili para pranatacara juga merasakan dampak yang sama," ucapnya.

Karena itu, ia berharap adanya perhatian dari pemerintah dengan memberi kelonggoran untuk bisa tampil seperti semula. (Nal)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved