Breaking News:

Berita Solo

Peluang Ekonomi Menjanjikan, Teknik Ecoprint Buat Motif Kain Menggunakan Daun yang Ramah Lingkungan 

Teknik dengan metode Ecoprint menjadi salah satu teknologi ramah lingkungan yang bisa dikembangkan di era sekarang. 

Penulis: Muhammad Sholekan | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG/MUHAMMAD SHOLEKAN
Beberapa anak muda di Solo ketika mengikuti workshop membuat ecoprint, Minggu (19/9/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Teknik dengan metode Ecoprint menjadi salah satu teknologi ramah lingkungan yang bisa dikembangkan di era sekarang. 

Teknik ini adalah memberi pola atau warna pada suatu media dengan bahan alami yang ramah lingkungan seperti dedaunan, aneka bunga, batang, dan akar tanaman. 

Salah satu produsen kain dan baju Ecoprint asal Yogyakarta, Inalu Moa, menyampaikan teknik ini mulai dikembangkan secara masif di Indonesia sekita Tahun 2015. 

Baca juga: Pulihkan Ekonomi saat Pandemi, Mahasiswa KKN UNS Bantu Warga Kampung Batik Semarang Bikin Website

Baca juga: Enam Bulan Gerakan Tersenyum Kumpulkan 5.975 Liter Minyak Jelantah dari Warga Kabupaten Tegal. 

Baca juga: Peringati Hari Perhubungan Nasional, Sekda Banyumas Minta Dishub Tingkatkan Inovasi Pelayanan Publik

"Sebenarnya teknik ini adalah tradisi yang berkembang di banyak negara. Salah satu tempat di Indonesia yang menggunakan teknik ini sejak dulu adalah wilayah Lombok. Di sana kalau memberi warna pada kain itu menggunakan tanaman dan bunga yang ditumbuk," ucapnya saat menjadi workshop trainer ecoprint di Solo, Minggu (19/9/2021). 

Menurutnya, secara umum ada lima tahap dalam pembuatan motif kain menggunakan teknik Ecoprint. 

Langkah pertama adalah pre-mordanting atau mencuci kain yang akan digunakan, dilanjutkan dengan tahap mordant. 

Dia menjelaskan, tahap mordant adalah tahapan menghilangkan bagian dari komponen pengganggu pada kain seperti minyak, lemak, lilin, dan kotoran-kotoran lain. 

Baru setelahnya, lanjut Inalu, melakukan tahap penataan daun, proses penggulungan, dan proses pengikatan. 

Sementara itu, dua tahap terakhir adalah proses pengukusan yang berlangsung selama 2-3 jam agar transformasi warna dan tekstur sempurna serta lebih awet. 

Setelah itu, proses terakhir adalah fiksasi atau proses penguncian warna dengan tawas/kapur/tunjung agar warna tidak mudah luntur. 

Baca juga: Prediksi Susunan Pemain Persipura Vs Persija Liga 1 Macan Kemayoran dan Mutiara Hitam Berburu 3 Poin

Baca juga: Sinopsis Drakor Tunnel Episode 4, Kwang Ho Bertemu Sung Shik yang Sudah Tua

Baca juga: Chord Kunci Gitar Lagu Perahu Kertas Maudy Ayunda

"Ecoprint lebih punya nilai artistik dan lebih ramah lingkungan. Kesan dan kelas produk ini pun lebih beda dibanding print digital. Satu meter kain katun Ecoprint berkisar Rp 200 ribu-300 ribu, kalau kain sutra sekitar Rp 750 ribu per meter," tandasnya. (*) 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved