Breaking News:

Berita Pandeglang

Tanggapan Polisi Soal Kerajaan Angling Dharma di Pandeglang Banten

Warga Banten khususnya Pandeglang dihebohkan dengan kemunculan kerajaan baru, yakni Kerajaan Angling Dharma yang berada di Kampung Salangsari

Sumber: Kompas TV/Deden
Gapura Kerajaan Angling Dharma yang menghebohkan masyarakat Pandeglang, Banten. 

TRIBUNJATENG.COM, PADEGLANG -- Warga Banten khususnya Pandeglang dihebohkan dengan kemunculan kerajaan baru, yakni Kerajaan Angling Dharma yang berada di Kampung Salangsari, Desa Pandat, Kecamatan Mandalawangi, Pandeglang, Banten.

Kondisi 'istana' Kerajaan Angling Dharma pun megah dan terlihat mencolok karena letaknya di pinggir jalan.

Dikutip dari Kompas.tv, di bagian depan, terdapat gapura khusus yang menyambut seluruh tamu. Gapura itu bertuliskan 'Indonesia Aman Tentram Gemah Ripah Loh Jenawi' serta tulisan berbahasa Arab.

Di dalam kompleks rumah itu, terdapat sebuah bangunan semacam saung yang disebut sebagai 'Singgasana Raja'. Di singgasana itu ada sepasang kursi dan dua payung khas keraton.

Seorang pria paruh baya bernama Iskandar Jamaluddin Firdaus disebut-sebut sebagai pemimpin atau raja dari Kerajaan Angling Dharma Pandeglang itu.

Meski demikian, berbeda dengan dua 'kerajaan' lain, yaitu Keraton Agung Sejagat (KAS) yang menggemparkan pada 2018 silam dan Sunda Empire yang keberadaannya berakhir di meja hijau, 'kerajaan' Angling Dharma disebut tidak melanggar hukum.

Raja Angling Dharma disebut tidak ada sangkut pautnya dengan kerajaan yang sebenarnya. Kapolres Pandeglang, AKBP Belny Warlansyah mengatakan, polisi telah melakukan penyelidikan terkait dengan temuan soal munculnya pria di Pandeglang yang disebut Raja Angling Dharma.

"Hasilnya, raja yang disebutkan dan viral tidak bersangkutan dengan kerajaan. Itu murni yang bersangkutan suka dengan corak-corak kerajaan," katanya, saat dihubungi, pada Kamis (23/9).

Menurut dia, Iskandar Jamaludin Firdaus itu tidak melanggar kaidah hukum. Malah, Iskandar Jamaludin Firdaus banyak memberi bantuan kepada masyarakat kurang mampu. Ia pun meminta agar hal itu tidak dikaitkan dengan Sunda Empire yang sempat viral di media sosial lantaran membuat kerajaan.

"Jelas berbeda tentu. Karena dana membangun rumah itu (untuk warga miskin-Red) berdasarkan keterangan yang kami peroleh itu berasal dari dana swadaya dan bantuan dari donatur yang datang ke rumah baginda," jelasnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved