JDC AMSI JATENG

Ini yang Perlu Diperhatikan Sebelum Ajukan Pinjaman Online

Bertransaksi cerdas, menjadi hal yang harus dipahami masyarakat saat ini. Perkembangan dunia digital, membuat transaksi makin mudah.

Penulis: Erwin Ardian | Editor: Erwin Ardian
AMSI Jateng
Webinar AMSI Jateng di TATV Solo, Rabu (29/9) 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Bertransaksi cerdas, menjadi hal yang harus dipahami masyarakat saat ini. Ditambah dengan perkembangan dunia digital, membuat kegiatan transaksi menjadi mudah.

Baca juga: Bantu Pembangunan Madrasah, Banser dan Kokam Kendal Gelar Sparing Sepak Bola 

Baca juga: Tiga Pelaku Usaha Beri Bocoran ke 1.300 Peserta Webinar AMSI Jateng

Baca juga: Tingkatkan Efektifitas Pengawasan Produk Kosmetika Badan POM Gelar Workshop Pengawasan Pos Border

Baca juga: Patung Bung Karno di Polder Tawang Diresmikan, Ini Makna Tangan Bung Karno Tunjuk ke Atas

Meski demikian, masyarakat wajib mengantisipasi sejumlah potensi yang dapat merugikan diri sendiri dalam bertransaksi digital saat ini.

Hal tersebut terungkap dalam diskusi Jateng Digital Conference (JDC) 2021 yang digelar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Tengah, Rabu 29 September 2021.

Adapun tema yang diambil dalam diskusi segmen ketiga JDC 2021 itu ialah “Transaksi Cerdas di Era Digital”.

Hadir sebagai narasumber, Head of Government Relation Rupiah Cepat Safar Tino Borneo, Corporate Secretary BRI, Aestika Oryza, dan Arum Prasodjo selaku Head of Corporate Affairs Indoneisa Region Gojek.

Dalam paparannya, Safar Tino Borneo memaparkan, keberadaan aplikasi pinjaman online ilegal sangat meresahkan masyarakat.

Pihaknya pun mengimbau agar masyarakat yang ingin menggunakan platform pinjaman tertentu dalam bertransaksi digital perlu memperhatikan beberapa hal.

"Apakah platform tersebut sudah terdaftar OJK atau belum, itu harus jadi penting. Karena jika belum, pastinya bisa dikatakan platform tersebut ilegal. Kalau Rupiah Cepat sendiri sudah mendapatkan izin dari OJK sejak 2019 lalu," katanya.

Kredit macet, tentu menjadi perhatian bagi platform pinjaman online. Sehingga edukasi kepada masyarakat terhadap hak dan kewajiban dan transaksi pinjaman perlu terus dilakukan.

Karena hal tersebut bisa meminimalisir adanya kredit macet yang terjadi.

Corporate Secretary BRI, Aestika Oryza memberikan paparan menyoal adanya pandemi Covid-19 dan digitalisasi, tak dipungkiri menjadi tantangan dunia perbankan saat ini.

BRI pun selaku salah satu Bank dengan jangkauan terluas terus melakukan sejumlah langkah untuk memberikan pelayanannya terhadap nasabah.

"Salah satunya perlindungan data nasabah terus menjadi prioritas kami. Mengingat jumlah transaksi digital di BRI sendiri mencapai 5,7 Miliar selama 2021 ini," katanya.

Beberapa hal yang menjadi perhatiannya salah satunya adalah penyebaran hoaks dan kejahatan siber penipuan online atau lainnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved