Senin, 20 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Guru Berkarya

Mengenal Keragaman SARA melalui Pembelajaran Kooperatif

Pendidikan sudah selayaknya tampil sebagai sarana dalam menempatkan fungsi utmanaya yaitu memanusiakan manusia.

Editor: abduh imanulhaq
IST
Siti Rohmanah, S.Pd - SMP Negeri 4 Bojong Kabupaten Pekalongan 

Oleh: Siti Rohmanah SPd, Guru SMPN 4 Bojong Kabupaten Pekalongan

PENDIDIKAN sudah selayaknya tampil sebagai sarana dalam menempatkan fungsi utmanaya yaitu memanusiakan manusia. Hal ini secara tegas memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat berkembang seluas-luasnya.

Porsi peserta didik masih menjadi objek dalam dunia pendidikan terutama pada proses pembelajaran seringkali masih banyak ditemukan. Perubahan pada ujung tombak pendidikan yaitu proses pembelajaran dirasa sangat lambat sekali menuju proses yang lebih baik.

Penerapan metode pembelajaran lama dan usang yaitu membaca, ceramah, hafalan, membuat rangkuman materi dan mencatat buku seakan menjadi senjata andalan yang membelenggu pola pikir guru untuk mengembangkan kreatifitas peserta didik. Transformasi pendidikan dengan mengadakan perubahan pada semua lini termasuk model pembelejaran perlu diterapkan.

Guru sebagai pendidik meski berlari dengan mempelajari, memahami dan mengaplikasi berbagai model pembelajaran yang menarik. Penyajian model pembelajaran yang menarik akan berdampak positif terhadap minat peserta didik dan hasil belajar peserta didik.

Pelibatan peserta didik dalam setiap tahapan pembelajaran seharusnya dapat dihadirkan. Peserta didik diberikan pelatihan untuk dapat berdiskusi dan bekerjasama dengan orang lain.

Salah satu model pembelajaran yang dapat melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran adalah Cooperative Learning atau pembelajaran kooperatif. Agus Supriyono (2010:54) mengungkapkan model pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas dalam proses pembelajaran meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru.

Djajadisastra (1982) turut menambahkan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model mengajar dimana murid-murid disusun dalam kelompok-kelompok waktu menerima pelajaran atau mengerjakan soal-soal dan tugas-tugas. Penggunaan pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengeksploitasi pengetahuan di sekitar lingkungannya.

Termasuk pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) kelas 9 di SMP Negeri 4 Bojong Kabupaten Pekalongan. Penulis merasa tergugah untuk memanfaatkan pembelajaran kooperatif dalam menyampaikan materi pembelajaran tentang prinsip harmoni dalam keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan (sara) sosial, budaya, ekonomi, dan gender dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Numbered Head Togeter (NHT) sebagai bagian dari pembelajaran kooperatif, melengkapi spesifikasi proses pembelajaran di kelas. Lie dalam Maryam (2013: 8) menerangkan Numbered Heads Together (NHT) adalah tipe kooperatif dimana peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok yang heterogen yang beranggotakan 4-5 orang.

Dalam setiap kelompok peserta didik yang pintar dapat mengajari temannya yang kurang. Sehingga dapat menumbuhkan rasa sosial di antara setiap anggota kelompoknya.

Tahapan model pembelajaran NHT meliputi pertama guru membagi peserta didik dalam kelompok-kelompok. Masing-masing peserta didik dalam kelompok diberi nomor sebagai perumpamaan bilangan.

Tahapan kedua guru memberikan tugas untuk mengurutkan nomer yang telah ditempel pada setiap peserta didik dengan cara berbaris. Pada tahapan ketiga kelompok berdiskusi diberikan waktu untuk menemukan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan semua anggota kelompok mengetahui jawaban tersebut.

Tahapan terakhir, guru memanggil salah satu kelompok untuk menjelaskan urutan nomer dengan menyebutkan nama-nama peserta didik sesuai nomer yang dimiliki. Kelompok yang menyelesaikan paling cepat dan benar, guru memberikan apresiasi berupa penghargaan.

Pemanfaatan model pembelajaran kooperatif ternyata dapat meningkatkan minat belajar dan hasil belajar peserta didik. Peserta didik nampak bersemnagat sekali mengikuti setiap tahapan dalam pembelajaran. Hasil belajar peserta didik juga terjadi kenaikan yang signifikan dengan mencapai ketuntasan yang optimal. (*)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved