Berita Jepara
Meski Saling Beda Agama, Warga Desa Tempur Jepara Hidup Akur dan Hidupkan Gotong Royong
Satu cara bagaimana hidup rukun di tengah masyarakat yang tidak seragam adalah dengan saling menghargai perbedaan.
Penulis: Muhammad Yunan Setiawan | Editor: moh anhar
TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Satu cara bagaimana hidup rukun di tengah masyarakat yang tidak seragam adalah dengan saling menghargai perbedaan.
Itulah yang dilakukan masyarakat Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara.
Di desa tersebut, tempat ibadah gereja dan masjid berdekatan.
Gereja Injil Tanah Jawa (GITJ) dan Masjid Nurul Hikmah saling berhadap-hadapan.
Hanya terpisahkam sepetak jalan beton berukuran lima meter. Mereka saling menghormati satu sama salin.
Baca juga: Kasus Demam Berdarah Dengue di Karanganyar Meninggi, Pemberantasan Sarang Nyamuk Digencarkan
Baca juga: Potret Ngeteh Sri Mulyani dan Retno Marsudi di Roma Italia Jelang KTT G20
Baca juga: Dituduh Aniaya Mertua Yolanda Hadid, Zayn Malik dan Gigi Hadid Dikabarkan Putus
Kepala Desa Tempur Mariyono mengatakan, hal yang membanggakan di desanya adalah mayoritas tidak mengucilkan minoritas.
Pasalnya, perbedaan adalah rahmat Tuhan. Tidak perlu lagi dipermasalahkan.
Dia menyampaikan, terdapat 1. 285 keluarga di Desa Tempur. 11 di antaranya memeluk agama Kristen.
Keragaman keyakinan di Desa Tempur itu dari dulu hingga kini tidak pernah menimbulkan permasalahan yang merusak kerukunan warga.
Kesadaran saling menghormati keyakinan seseorang, kata Mariyono, sudah dimiliki warga Tempur.
"Dari sisi sosial, keguyuban warga bisa terlihat saat ada saudara beda keyakinan ada acara di masjid, warga Tempur tidak keberatan sisi bangunan gereja ditempati jamaah saat ruangan masjid tidak muat lagi menampung. Begitu juga saat ada acara gereja, warga muslim ikut menjaga," ujarnya.
Menurutnya, masyarakat sudah puluhan tahun hidup di kawasan di mana tempat ibadah mereka berdekatan.
Pada 1980-an gereja lebih dulu berdiri.
Selang beberapa tahun kemudian, warga gotong rotong membangun masjid yang ada di depan gereja.
Saat proses pembangunan masjid itu juga, kata dia, warga Kristen juga ikut gotong royong. Semua saling dukung demi kelancaran acara agama masing-masing.
Pendeta GITJ Suwadi (67) menceritakan, gereja tersebut berdiri pada 1988.
Lalu sekira pada 2003 di depan gereja tersebut dibangun Masjid Nurul Hikmah.
Selama dua tempat ibadah iti berdiri saling berdekatan, umat Islam dan umat Nasrani di Desa Tempur tidak konflik yang berlandaskan faktor perbedaan agama.
Masyarakat, ucap dia, bisa saling menghargai dan menghormati keyakinan masing-masing.
Baca juga: Dua Oknum Polisi Ditangkap Satgas Nemangkawi, Diduga Jual Amunisi pada KKB Papua
Baca juga: Kasus DBD di Rumah Sakit Mitra Siaga Tegal Alami Peningkatan Sejak Dua Bulan Terakhir
Baca juga: Lantik Enam Kades PAW, Bupati Pati Haryanto Ingatkan Sikap Amanah dalam Mengemban Tugas
"Ketika pembangunan masjid warga yang beragama Kristen ikut membantu tenaga dan materi. Begitu juga waktu pembangunan gereja warga yang beragama Islam juga turut membantu tenaga dan materi.
"Kalau ada natal kalau gereja ini tidak muat langsung umat kristiani di serambi masjid. Kalau orang Islam ada salat Id, andaikata hari lebaran, kalau masjid tidak muat juga menggunakan serambi gereja," cerita Suwadi kepada Tribun Jateng.
Menurutnya perbedaan agama tidak menjadi masalah di desanya. Antar pengurus masjid dan gereja saling mengenal.
Bahkan, kata Suwadi, kakak kandungnya Giran juga menjadi penanggung jawab di Masjid Nurul Hikmah.
Meski memiliki keyakinan berbeda dengan sang kakak, hal itu tidak membuat hubungan kekeluargaannya renggang.
Tetap rukun.
Hal ini juga dibenarkan salah seorang Pengurus Masjid Nurul Hikmah Abu Abudillah. Diamenambahkan selama ini masyarakat di Desa Tempur hidup secara berdampingan, meski terdapat perbedaan agama.
"Rukun - rukun saja antar dua agama, tidak saling berpendapat lain," terangnya.
Baca juga: Bupati Kudus Hartopo Ingatkan Warga di Area Berisiko Tinggi Bencana agar Segera Dievakuasi
Baca juga: Ganti Nama Jadi Meta, Bagaimana Layanan seperti Facebook, Instagram dan WhatsApp?
Baca juga: Tingkatkan Protokol Kesehatan, Hotel Santika Premiere Semarang terapkan Aplikasi Peduli Lindungi
Kerukunan itu, kata dia, juga bisa dilihat saat lebaran. Warga Kristen juga menyediakan hidangan untuk tamu warga muslim. Warga muslim saat lebaran juga berkunjung ke rumah warga Kristen.
"Warga sini sangat cinta damai," tandasnya.
Menurutnya, masyarakat Tempur tidak hanya hidup di tengah keindahan alam, tetapi juga perbedaan. Cara merawat perbedaan itu adalah tetap hidup akur. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/masjid-nurul-hikmah-dan-gereja-injil-tanah-jawa-29-10-2021.jpg)