Berita Ungaran
Warga Kabupaten Semarang Diminta Tingkatkan Kewaspadaan Munculnya Angin Kencang
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kesiagaan di akhir tahun ini
Penulis: hermawan Endra | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kesiagaan di akhir tahun ini. Sebab, musim penghujan dan angin kencang diprediksi masih akan terjadi hingga Desember.
Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang, Heru Subroto menjelaskan cuaca ekstem belakangan ini mulai melanda beberapa wilayah tak terkecuali di Kabupaten Semarang yang akhir-akhir ini dilanda angin kencang disertai hujan.
Kondisi ini patut diwaspadai oleh seluruh masyarakat, selain angin kencang dapat merobohkan banguan hingga pohon tumbang. Menyikapi potensi pohon tumbang ia meminta kepada warga untuk melakukan pemangkasan pohon yang rentan roboh atau terlalu lebat. Kemudian warga yang meliliki pohon besar di lingkungan sekitar diimbau untuk melakukan pemangkasan mandiri.
Pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Pekerajaan Umum dan Dinas Pertamanan terkait hal tersebut. Heru menuturkan tindakan pencegahan yakni memangkas pohon yang sudah terlampau rimbun lebih baik dilakukan sebelum muncul korban. Tercatat sudah ada beberapa daerah di Kabupaten Semarang yang menjadi korban angin kencang yakni di wilayah Bancak dan Pabean.
Sementara itu, BNPB meminta BPBD di 34 provinsi untuk mengambil langkah kesiapsiagaan menghadapi fenomena La Nina. Hal ini bertujuan untuk mencegah maupun menghindari dampak buruk bahaya hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor dan angin kencang, yang dipicu fenomena tersebut.
Kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat ini merujuk pada informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi La Nina di Indonesia yang dapat terjadi pada periode Oktober 2021 hingga Februari 2022. Fenomena tersebut merupakan anomali iklim global yang dapat memicu peningkatan curah hujan.
“Catatan historis menunjukkan bahwa La Nina tahun 2020 menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi curah hujan bulanan di Indonesia hingga 20 persen sampai dengan 70 persen dari kondisi normalnya,” pesan Deputi Bidang Pencegahan BNPB Prasinta Dewi dalam surat edaran pada Jumat lalu (20/10).
Ia menekankan bahwa peningkatan curah hujan itu berpotensi memicu terjadinya bencana hidrometeorologi.
Menyikapi potensi bahaya dampak La Nina, Prasinta mengharapkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi untuk mewaspadai dan menginstruksikan BPBD di tingkat kabupaten dan kota melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan.
Upaya dini yang dapat dilakukan yaitu meningkatkan koordinasi dengan BMKG di daerah serta pemantauan secara berkala informasi iklim dan perkembangan cuaca maupun peringatan dini cuaca ekstrem. Selain itu, BPBD meningkatkan koordinasi antar dinas terkait untuk melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan sesuai tugas pokok fungsi dan kewenangan.
Kesiapsiagaan tidak hanya pada sisi pemerintah atau pun aparatur di tingkat kecamatan dan desa, tetapi juga masyarakat. Prasinta menekankan perlunya dukungan BPBD untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di lokasi rawan bencana. BNPB mengharapkan BPBD melakukan sosialisasi atau menginformasikan sejak dini kepada warga untuk menjauh dari lembah sungai, lereng rawan longsor, pohon mudah tumbang atau pun tepi pantai.
Di sisi lain, ia mengharapkan BPBD untuk melibatkan masyarakat dalam pengaktifan tim siaga bencana. Tim ini bertugas, salah satunya memantau kondisi sekitar atau pun gejala awal terjadinya banjir, banjir bandang, tanah longsor dan angin kencang, maupun berkoordinasi antar tim siaga di wilayah hulu dan hilir.
Prasinta mengingatkan bahwa pihaknya telah memiliki informasi kerawanan bencana di tingkat desa atau kelurahan. Informasi tersebut dapat diakses pada Katalog Desa Rawan Bencana, sedangkan pada konteks risiko, pemerintah daerah maupun masyarakat dapat melihat pada laman atau aplikasi inaRISK. Ini dapat membantu untuk membangun kewaspadaan dan kesiapsiagaan semua pihak di tingkat daerah.
Mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi basah, Deputi Bidang Pencegahan BNPB meminta adanya persiapan dini terkait sumber daya manusia, logistik, peralatan dan penyiapan fasilitas layanan kesehatan sesuai dengan penerapan protokol kesehatan dalam penanganan Covid-19. (*)
Baca juga: Inilah Hasil Autopsi Jenazah Gilang Endi Saputra yang Tewas dalam Diksar Menwa UNS
Baca juga: INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUNH! Pengendara Mio Tewas Tertabrak Bus di Colomadu Karanganyar
Baca juga: Jebolan Akademi Bali United Siap Beri Kontribusi Maksimal untuk Menangkan PSIS Semarang
Baca juga: Korban Arisan Online Ambarawa Diminta Melengkapi Barang Bukti
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/hujan-deras-pohon-tumbang3.jpg)