Book Lover
Efril Nikmati Buku yang Kembangkan Pola Pikir, Buku Super Thinking Pun Dibawa ke Mana-mana
Efril Wahyu percaya, dengan membaca buku, seseorang perlahan namun pasti pola pikirnya lebih baik atau semakin terbentuk.
Penulis: M Nafiul Haris | Editor: moh anhar
TRIBUNJATENG.COM - Setiap orang memiliki alasan khusus menyukai aktivitas membaca buku.
Ada yang melakukannya sekadar untuk mengisi waktu luang kemudian menambah pengetahuan hingga keinginan mengubah diri menjadi lebih berkembang.
Kepada Tribun Jateng, Efril Wahyu (25) mengaku, beragam alasan itulah yang mendorongnya untuk selalu membaca buku sampai sekarang.
Efril mengatakan, dari beberapa buku yang dibacanya selama ini didominasi buku-buku biografi kemudian tentang pengembangan diri serta bertopik bisnis dan sejarah.
Baca juga: Damkar Kendal Catat 130 Kasus Kebakaran Melanda Sepanjang Januari-Oktober 2021
Baca juga: Babak Pertama Arema FC vs Madura United, Sama-sama Kuat
Baca juga: Nilai Investasi di Batang Tertinggi Nomor 2 di Jawa Tengah: Capai Rp 5,5 Triliun
Dia percaya, dengan membaca buku, seseorang perlahan namun pasti pola pikirnya lebih baik atau semakin terbentuk.
Bahkan ketika orang itu tidak selalu mengingat setiap judul buku yang pernah dibacanya.
“Saya suka baca buku tentang biografi, self-development, lalu buku bertema business genre, dan buku sejarah. Saya pilih buku itu karena memang saya lebih menikmati buku yang membantu pola pikir saya berkembang,” kata Efril.
Dia mengibaratkan, membaca buku itu seperti makan.
“Saya tidak selalu ingat makanan apa yang masuk (ke mulut), tetapi itu membentuk tubuh saya. Begitupun buku, saya mungkin tidak ingat semua buku yang pernah saya baca, tapi (buku-buku) itu membentuk pola pikir saya,” katanya.
Efril menambahkan, dalam seminggu dia mampu menamatkan tiga sampai empat buku, terlebih ketika waktu senggangnya lebih banyak.
Meskipun demikian, dia mengakui, bukanlah tipikal orang yang memiliki ketertarikan khusus pada bahan bacaan berdasarkan penulisnya.
“Saya cenderung tertarik membaca buku karena bocoran isinya yang kerapkali ditampilkan pada halaman belakang buku,” akunya.
Perpustakaan sekolah
Perempuan asal Kota Salatiga itu menyatakan, awal mula memiliki kebiasaan membaca karena sewaktu kecil orangtuanya berlangganan majalah Bobo.
Selanjutnya, ketika menginjak remaja bahan bacaannya berkembang ke buku-buku biografi, yang biasa dipinjamnya dari perpustakaan sepulang sekolah.
“Saya sejak kecil suka baca sih, awal-awal majalah Bobo. Lalu, ketika saya SMP mulai menyukai buku-buku biografi, jadi setiap pulang sekolah biasanya mampir ke perpustakaan Kota Salatiga. Karena zaman dulu juga tidak banyak toko buku sehingga aksesnya cuma di perpustakaan. Ketika itu saya mulai membaca biografi Albert Einstein, Holocaust, dan seri sastra Chicken Soup for the Soul,” ujarnya.
Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi (Fiskom) Undip Semarang itu melanjutkan, kegemaran membaca buku terus berlanjut sampai sekolah jenjang SMA dan kuliah.
Selama beberapa tahun konsisten membaca, topik buku bacaan Efril didominasi buku tentang biografi, pengembangan diri, dan belakangan baru bertema bisnis.
Efril mengungkapkan, terkait buku yang mendorong pengembangan diri seseorang terdapat satu buku yang dibacanya sampai sekarang bahkan dibawanya ke mana pun.
Buku itu berjudul Super Thinking: The Big Book Of Mental Models karya Gabriel Weinberg dan Lauren McCann.
“Super Thinking itu membahas framework thinking dan personal development. Saya banyak belajar bagaimana memecahkan masalah. Sekarang saya bekerja di lingkungan startup, yang ketidakpastian merupakan konsumsi harian saya. Dengan demikian, memiliki kerangka berpikir yang baik sangat membantu saya. Buku itu mengajarkan cara saya berpikir pada kemungkinan-kemungkinan ke depan,” paparnya.
Baca juga: Perizinan Berjalan Dua Tahun, Cath Lab RSUD Kudus Belum Bisa Terima Pasien BPJS
Baca juga: Persaingan Era Digital Dimulai, Bank Besar Belum Tentu Menang
Baca juga: Video Pelaku Pencabulan Bocah Karanganyar Ditangkap Kurang Dari 24 Jam
Menurutnya, dalam profesinya sekarang kemampuan membentuk lingkaran pertemanan atau jaringan menjadi hal utama.
Pemecahan masalahnya bagaimana lalu ketika mengalami kendala berbuat apa merupakan perkara penting untuk merawat jaringan pertemanan yang telah dibentuk. Sebab, lanjutnya, menekuni pekerjaan pada bidang usaha yang sifatnya masih rintisan rentan terjadi banyak masalah dan butuh penyelesaian cepat,” imbuhnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/efril-wahyu-1-11-2021.jpg)