Kamis, 9 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Bank Indonesia

Bank Indoensia Dorong Kinerja Agro Industri Jateng

Bank Indonesia (BI) Jateng terus mendorong perkembangan investasi di Jateng. Hal itu di antaranya dengan melakukan berbagai upaya dukungan program

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Catur waskito Edy
Tribun Jateng/Idayatul Rohmah
Acara Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2021 yang digelar secara hybrid di Hotel Tentrem Semarang, kemarin. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Bank Indonesia (BI) Jateng terus mendorong perkembangan investasi di Jateng. Hal itu di antaranya dengan melakukan berbagai upaya dukungan program investasi, terutama di sektor agroindustri.

Kepala BI Jateng, Pribadi Santoso mengatakan, data statistik menunjukkan industri pengolahan menopang pertumbuhan ekonomi di Jateng sebesar 34 persen. Dari 34 persen itu, 70 persennya adalah agro industri.

"Jadi, pertumbuhan ekonomi di Jateng bisa dikatakan sebagian besarnya adalah dari agro industri. Tentunya ini menjadi suatu hal yang penting bagi investment business, terutama terkait dengan pangan," katanya, dalam acara Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2021, yang digelar secara hybrid, di Hotel Tentrem Semarang, kemarin.

Melihat potensi itu, Pribadi menyatakan, pihaknya melakukan berbagai strategi untuk mendorong kinerja agro industri di provinsi ini.

Di antaranya yakni dengan memperkuat promosi investasi dan fungsi hubungan investor melalui fungsi Investor Relation Unit (IRU) dan optimalisasi Koridor Ekonomi Investasi Perdagangan dan Pariwisata (Keris) Jateng, yang merupakan wadah sinergi berbagai stakeholders untuk mendorong promosi investasi dan fasilitasi realisasi investasi.

Selain itu, pengoptimalan digitalisasi juga dinilai perlu dilakukan untuk mendorong kinerja agro industri dan pemasarannya, bersamaan dengan pertumbuhan penduduk.

"Intinya kita butuh teknologi. Jadi peran teknologi untuk bisnis investasi ini menjadi penting, karena tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi nanti juga bisa ekspor, dan bagaimana kita bisa mendiversifikasikan pangan itu untuk dipenuhi daerah lain.

Kemudian, sekarang ini banyak penggunaan komoditas agro untuk keperluan lain, seperti untuk kosmetik, obat, dan lain-lain. Ini juga kita lihat ke arah sana, jadi potensinya sangat besar, dan penyerapan tenaga kerja juga besar. Saya kira Jateng dari sisi ketersediaan input sangat besar, dan sisi pasarnya juga baik," terangnya.

Tercatat, industri pengolahan merupakan sektor yang memiliki pangsa terbesar terhadap perekonomian di Jateng sebesar 34,52 persen. Dalam hal ini, industri agro memiliki pangsa 24,17 persen terhadap PDRB Jateng, atau hampir 70 persen terhadap total industri di Jateng.

Beberapa subsektor industri di Jateng yang menjadi penggerak utama industri agro yaitu industri makan dan minum dengan pangsa 13,83 persen, industri pengolahan tembakau dengan pangsa 7,66 persen, industri kayu dengan pangsa 1,98 persen, industri kertas dengan pangsa 0,32 persen, dan industri furnitur dengan pangsa 0,38 persen. Kondisi itu juga tercermin dari jumlah perusahaan di Jateng yang didominasi industri pengolahan makanan dan minum.

Sebelum pandemi, Pribadi menuturkan, industri agro di Jateng memiliki kinerja yang baik, dengan tren yang meningkat, sehingga mencerminkan potensi dan peluang usaha yang baik.

Namun pada masa pandemi, mayoritas industri agro di Jateng mengalami perlambatan. Hanya industri pengolahan makanan minuman dan industri kertas yang tumbuh positif di sepanjang 2020.

"Makan dan minum merupakan kebutuhan primer, sehingga permintaan akan tetap sustain, sedangkan pertumbuhan positif industri kertas karena tingginya kebutuhan protokol kesehatan (masker, tissue, dll)," terangnya.

Sementara pada 2021, Pribadi menyebut, mayoritas industri agro dikatakan mulai tumbuh positif. "Industri furnitur, industri kayu, dan barang dari kayu juga mulai meningkat didorong permintaan global," tambahnya.

Adapun, berdasarkan perkembangan investasi agro industri di Jateng, masih didominasi sektor tersier khususnya pada sektor listrik, gas, dan air (mencapai 41,82 persen dari total PMA, dan 20,51 persen dari total PMDN), serta sektor sekunder khususnya sektor industri mineral non-logam (26,09 persen dari total PMDN).

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved