Breaking News:

Terdorong Ekosistem Digital, Tansaksi Uang Elektronik Perbankan Melonjak

BI memperkirakan transaksi uang elektronik akan tembus Rp 284 triliun, naik 38,75 persen yoy pada akhir 2021.

Editor: Vito
ANTARA FOTO/M AGUNG RAJASA
ilustrasi - Penggunaan e-money 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Pandemi covid-19 turut menyokong kinerja perbankan, satu di antaranya mendorong peningkatan transaksi uang elektronik yang diperkirakan terus berlanjut sampai akhir tahun.

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan selama pandemi, transaksi uang elektronik diperkirakan terus tumbuh sampai akhir 2021. Berbagai faktor akan mendorong transaksi elektronik.

Bank Indonesia (BI) mencatat, transaksi uang elektronik meningkat 45,05 persen yoy menjadi Rp 209,81 triliun pada kuartal III/2021.

Dari realisasi itu, BI memperkirakan transaksi uang elektronik akan tembus Rp 284 triliun, naik 38,75 persen yoy pada akhir 2021.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Filianingsih Hendarta sempat mengatakan, pertumbuhan transakasi elektronik didorong empat faktor. Pertama, adanya transformasi produk dan layanan e-commerce.

"Kita tahu bahwa pembayaran terbanyak di e-commerce melalui e-money karena perilaku masyarakat bergeser ke arah digital. Maka itu, e-commerce terus berinovasi melalui berbagai fitur untuk menjaga pelanggan setia," katanya, baru-baru ini.

Kedua, adanya kolaborasi penyedia jasa pembayaran (pjp) dan platform investasi. Misalnya saja, kolaborasi OVO dan Bareksa, serta kerja sama LinkAja dan Bibit untuk menawarkan produk reksadana bagi pengguna.

Ketiga, perluasan ekosistem melalui aksi korporasi. Menurut Filiangsing, perluasan ekosistem itu bukan hanya melalui aksi akuisisi atau merger, tetapi juga kolaborasi produktif antar-pelaku industri seperti bank, fintech, dan e-commerce.

Keempat, digitalisasi perbankan akan semakin meluas. Berbagai cara dilakukan perbankan mulai dari penguatan kapasitas internal baik dari strategi bisnis, proses bisnis, teknologi, dan core banking. Misalnya saja, mengakuisisi bank-bank kecil lalu memperluas ekosistem.

Sejumlah bank juga mencatat kinerja positif bisnis uang elektronik. PT Bank Mandiri Tbk misalnya, mencatatkan frekuensi 697 juta transaksi Mandiri e-Money, dengan nilai lebih dari Rp 11,8 triliun pada September 2021.

SVP Transaction Banking Retail Sales Bank Mandiri, Thomas Wahyudi menuturkan, Mandiri e-Money telah dapat digunakan untuk berbagai pembayaran, mulai dari tol, parkir, transportasi seperti Commuterline, MRT, LRT, Transjakarta, Transjogja, Batik Solo Trans, dan lain-lain.

"Kartu e-Money juga dapat diisi ulang dengan menggunakan aplikasi Livin' by Mandiri pada telepon pintar Android yang memiliki fitur NFC (near field communication), IOS (Iphone), maupun e-commerce yang sudah bekerjasama dengan Bank Mandiri, pada Mesin ATM dan Kantor cabang Bank Mandiri," terangnya.

Tak mau kalah, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) juga berhasil catatkan kinerja cemerlang. Hingga Agustus 2021, transaksi uang elektronik bank pelat merah itu tumbuh hingga 223 persen yoy.

"Hal ini menunjukkan perubahan transaksi masyarakat dan dukungan besar BRI terhadap cashless society," kata Aestika Oryza Gunarto, Sekretaris Perusahaan BRI. (Kontan.co.id/Ferrika Sari)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved