Breaking News:

IT Telkom Purwokerto

Giat Memberantas Narkoba via Media Sosial

Sejak tahun 2008, data BNN tentang penyalahgunaan narkoba berjalan cepat dan masif, meningkat dan diprediksi tidak ada tanda mereda (Ricardo, 2010).

Editor: abduh imanulhaq
IST
Dr Tenia Wahyuningrum SKom MT, Wakil Rektor I Institut Teknologi Telkom Purwokerto 

Oleh: Dr Tenia Wahyuningrum SKom MT, Wakil Rektor I Institut Teknologi Telkom Purwokerto

HASIL survei Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia, menyebutkan bahwa prevalensi penyalahgunaan narkotika dan bahan terlarang (narkoba) tahun 2019 telah mencapai lebih dari 4 juta orang, dengan jumlah kematian 30 orang setiap hari (Syafií, 2019). Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba adalah persoalan yang dapat mengancam kelompok masyarakat.

Sejak tahun 2008, data BNN tentang penyalahgunaan narkoba berjalan cepat dan masif, meningkat dan diprediksi tidak ada tanda mereda (Ricardo, 2010). Metode sederhana dalam mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan narkoba ada 3 (tiga), yaitu pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi (Eleanora, 2011).

Pencegahan dinilai sebagai cara yang paling baik daripada pengobatan dan rehabilitasi. Akan tetapi, perlu peranan dari keluarga, lingkungan, masyarakat dan pemerintah dalam menangani hal ini. Peran bimbingan, konseling dan pendampingan relawan dibutuhkan pula untuk memberikan informasi yang lebih luas pada pengguna narkoba (Kibtyah, 2015).

Informasi yang diberikan melalui media massa seperti koran, baliho, spanduk dan radio lokal seringkali tidak disampaikan menyeluruh kepada masyarakat (Fatihanah, 2019). Oleh karena itu, perlu media komunikasi yang lebih murah dan efektif yang lebih menyentuh pada seluruh lapisan masyarakat, terutama pada usia remaja. Sinergi antara Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), komunitas, relawan dan penggiat anti narkoba diperlukan untuk menyampaikan pesan anti narkoba (Santoso and Silalahi, 2000; Kurwidaria et al., 2017).

IT Telkom Purwokerto2

Kemudahan teknologi disinyalir lebih memudahkan akses para remaja untuk mendapatkan narkoba (Sari, 2017). Oleh karena itu, para relawan perlu diberikan pengetahuan khusus mengenai teknik pemanfaatan media. Media sosial paling banyak digunakan kaum muda, sehingga relawan perlu mempelajari teknik penggunaannya dalam mengkampanyekan pesan anti narkoba, maupun memberikan materi penyuluhan secara online.

Media sosial menjadi pilihan tepat dalam penyampaian informasi dan media komunikasi pada masyarakat. Hal ini dikarenakan jumlah pengguna media sosial terus meningkat seiring dengan meluasnya penggunaan internet. Sebanyak 3,5 miliar pengguna media sosial di dunia telah mencapai 45% dari total populasi (Emarsys, 2019).

Karakteristik pengguna media sosial 90% didominasi oleh generasi milenial yang lahir sekitar tahun 1980-1994, sedangkan 77, 5% berasal dari gen x (pengguna yang lahir sekitar tahun 1965-1977) (Emarketer, 2019). Indonesia dengan total populasi sebesar 272,1 juta penduduk, terdapat 338, 2 juta orang yang memiliki telepon seluler, dengan pengguna media sosial sebesar 160 juta (We are social, 2019).

Berdasarkan data dari (We are social, 2019) pengguna aktif sosial media di Indonesia telah mencapai 160 juta, dengan penetrasi sebesar 59%. Peringkat tertinggi aplikasi berbasis mobile yang diunduh adalah Whatsapp (WA), Facebook (FB) dan Instagram (IG). Selain itu, aplikasi yang banyak digunakan oleh pengguna usia 16-24 tahun adalah Tiktok (Global web index, 2019).

Studi dari (McCoy, 2016) menyebutkan bahwa post di FB sebaiknya kurang dari 40 karakter agar mendapatkan 85% perhatian pengunjung dibandingkan dengan post dengan lebih dari 80 karakter yang hanya menunjukkan perhatian sebesar 66%. Berbeda dari FB, kekuatan Instagram (IG) ada pada foto, dan hashtag (tagar).

Penggunaan hashtag akan meningkatkan keterlibatan pengguna sekitar 12% daripada postingan tanpa tagar (Simply measured, 2019). Para relawan sebaiknya memastikan tagar mudah dibaca dan dieja dengan menghindari huruf ganda serta kata-kata yang biasanya salah eja.

Tagar dijaga supaya tetap singkat, sederhana, dan mudah dieja sehingga penggemar dan masyarakat dapat dengan mudah mengingatnya. Tuliskan tagar lebih spesifik, tetapi jangan terlalu detil seperti “#semangatuntukhindarinarkoba”. Tagar seperti ini untuk IG edukasi tidak akan tersentuh karena memiliki terlalu banyak karakter. Tagar “#semangatyuk“atau “antinarkobabisa” lebih masuk akal dalam kasus ini.

White (2019) menyatakan bahwa jumlah hashtag paling ideal adalah 9 buah. Selain tagar, fitur insta story, quiz, upload foto dan IG TV juga dapat dimanfaatkan untuk membagi video berdurasi panjang. Penggunaan warna yang menarik dalam konten IG menjadi kekuatan dalam akun media sosial dalam menambah followers.

Faktor manusia yang berkaitan dengan pandangan terutama alat sensor mata akan teransang melalui kombinasi warna-warna yang dapat membuat fokus. Bagian pusat mata yang disebut fovea bertanggung jawab untuk penglihatan sentral yang tajam, seperti membaca, melihat layar monitor telepon seluler atau menonton televisi (MacKenzie, 2013).

Media sosial lain seperti WA sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia, sehingga pemanfaatan nya sebagai media komunikasi sangat tepat (Trisnani, 2017). Fitur yang dapat digunakan yaitu chat group, share document, kamera, galeri, audio (Prajana, 2017). Dengan memahami karakteristik masing-masing media sosial, diharapkan para relawan mampu membuat konten digital yang menarik dalam mengkampanyekan anti narkoba. Kesesuaian konten akan membantu setiap postingan dalam menjangkau masyarakat internet (netizen) lebih luas lagi. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved