Kamis, 23 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Fintech Kripto Dalam Negeri Kebanjiran Investor

meningkatnya ketertarikan masyarakat akan investasi kripto seperti Bitcoin, Ethereum, dan DogeCoin telah menembus ke Tanah Air

Editor: Vito
PEXELS/WORLDSPECTRUM/Kompas.com
Ilustrasi bitcoin, aset kripto, Cryptocurrency Ethereum. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Tren investasi dalam beberapa tahun terakhir merambah ke dunia digital. Aset digital mampu menjadi instrumen investasi yang diandalkan.

Aset digital yang kini umum ditemui yakni mata uang digital, atau yang biasa disebut dengan cryptocurrency.

Industri financial technology (fintech) dalam negeri juga terus kebanjiran dana investasi dengan satu lini bisnis yang sedang digemari investor, yaitu fintech kripto.

Tak hanya di luar negeri, meningkatnya ketertarikan masyarakat akan investasi kripto seperti Bitcoin, Ethereum, dan DogeCoin juga telah menembus ke Tanah Air, dengan jumlah investor kripto terus mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi.

Berdasarkan laporan Fintech in ASEAN 2021 yang disusun oleh UOB, PwC Singapura, dan Singapore Fintech Association (SFA), pendanaan fintech kripto di ASEAN mengalami pertumbuhan 424 persen secara year to date (ytd). Nominalnya pun telah mencapai 356 juta dollar AS.

Di Indonesia, porsi pendanaan fintech kripto pun termasuk 5 besar, dengan memberikan kontribusi 8 persen. Pencapaian ini hampir mendekati pendanaan ke fintech lending yang memiliki porsi 10 persen.

Ketua Ketua Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo), Jefri R Sirait menyatakan, Modal Ventura sudah melakukan investment di fintech kripto sekitar 2-3 tahun lalu.

Menurut dia, terjadi tren behavior terutama di NFT changes, sehingga hal ini dinilai akan menjadi satu kreatif startup yang menarik sebagai bagian dari entertain, tapi juga bisa menjadi investment. Ia melihat hal ini menjadi hal yang positif.

"Cukup banyak modal ventura yang berinvestasi di fintech kripto, yang memang menjadi sesuatu yang "wow". Kami mengikutinya secara prudent. Kami juga melihat ini menjadi tren yang bukan hanya di Indonesia, ini meluas ke seluruh dunia," katanya, kepada Kontan, baru-baru ini.

Bendahara Amvesindo, Edward Ismawan Chamdani menambahkan, beberapa Ventura Capital (VC) sudah menanamkan investasi di startup crypto sejak 2-3 tahun yang lalu, baik di lokal maupun luar negeri.

Menurut dia, intensi regulator yang kemungkinan mematangkan peraturan lebih menyeluruh di akhir tahun ini membuat beberapa investor termasuk VC tertarik mendukung sektor ini, dan mulai aktif menghubungi dan mencari potensi startup yang bisa diinvestasikan.

"Untuk nilai investasi cukup bervariasi, sesuai sektor yang dituju dan persyaratan yang harus dilakukan kesiapannya, seperti minimum jumlah modal di setor. Sebagai pialang bisa antara Rp 50 miliar-Rp 80 miliar, sedangkan sebagai bursa bisa mencapai Rp 500 miliar. Pemain existing yang sudah mencapai angka tersebut tentu memenuhi persyaratan, namun untuk yang baru harus menambahkan modal agar bisa mencapai target," jelasnya.

Beberapa platform jual beli kripto di Indonesia juga merasakan gencarnya pendanaan ke mereka. Seperti TokoCrypto yang mendapat pendanaan tahun lalu dari Binance yang merupakan perusahan blockchain global.

Waktu itu, pendanaan disebut akan digunakan untuk mempercepat pengembangan bisnis tanpa menyebut nominalnya.

Selain itu, di awal tahun ini ada platform marketplace aset kripto 'Pintu', yang dikabarkan mendapatkan pendanaan A senilai 6 juta dollar AS atau setara Rp 86 miliar.

Pantera Capital memimpin putaran ini, merupakan pemodal ventura asal AS yang fokus pada startup berbasis blockchain. Coinbase dan Blockchain Ventures juga terlibat dalam pendanaan ini, keduanya juga fokus pada proyek-proyek berbasis cryptocurrency.

Baru baru ini, platform marketplace kripto asal Selandia Baru, Easy Crypto, juga mengumumkan perolehan pendanaan seri A sebesar 12 juta dollar AS atau setara Rp 170 miliar, yang dipimpin oleh Nuance Connected Capital dan melibatkan perusahaan ventura GDP Venture milik Grup Djarum.

Berdasarkan keterangan resminya, Co-founder & CEO Easy Crypto, Janine Grainger menyatakan, tengah membidik pasar Indonesia dan Asia Tenggara sebagai target ekspansi bisnis berikutnya.

Hal ini sejalan dengan keterlibatan investor institusional yang meyakini peran aset kripto dalam ekosistem keuangan.

"Permodalan ini menjadi tonggak penting bagi Easy Crypto dan masa depan blockchain di dunia. Meningkatnya minat investasi terhadap kripto menjadi dukungan bagi pertumbuhan Easy Crypto dalam skala global," ungkapnya.

Sementara itu, Willson Cuaca, Co-Founder dan Managing Partner East Ventures, menjelaskan, kripto hanya satu turunan dari penggunaan blockchain.

"East ventures sudah melakukan beberapa investasi berkaitan dengan blockchain," jelasnya, kepada Kontan.

Kendati demikian, ia tidak menjelaskan lebih jauh ke mana saja pendanaan yang diinvestasikan. Menurut Willson, fintech kripto ini teknologi baru, dan masih akan berubah dan berkembang.

Mata uang kripto berfungsi sebagai store value dan sangat volatile. Oleh sebab itu, ia menyarankan untuk tidak sembarangan membeli kalau tidak mengerti. (Kontan.co.id/Selvi Mayasari)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved