Fokus
Fokus : Empati bagi Pengungsi Semeru
Jumlah pengungsi Gunung Semeru terus bertambah. Sebanyak 6.022 warga tercatat mengungsi di 115 titik pos pengungsian.
Penulis: abduh imanulhaq | Editor: Catur waskito Edy
Oleh Abduh Imanulhaq
Wartawan Tribun Jateng
Jumlah pengungsi Gunung Semeru terus bertambah. Sebanyak 6.022 warga tercatat mengungsi di 115 titik pos pengungsian.
Kenaikan jumlah pengungsi ini terjadi di mayoritas pos pengungsian yang tersebar sejumlah kecamatan di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Ada total 121 tempat pengungsian yang didirikan masyarakat dan pemerintah daerah.
Banyak di antara pengungsi merupakan warga lansia dan kanak-kanak. Mereka dijauhkan dari tempat tinggalnya sebagai antisipasi sewaktu-waktu Semeru meletus lagi.
Tak ada perasaan lain kecuali empati dan solidaritas yang kita sampaikan. Kita merasakan betul pedih dan penatnya perasaan orang-orang yang terpaksa meninggalkan kampung halaman.
Proses evakuasi ini akan terus berlangsung hingga Semeru dinyatakan tak berbahaya lagi. Warga yang belum mengungsi diimbau selalu waspada.
Tercatat jumlah korban meninggal dari erupsi Gunung Semeru mencapai 43 orang. Jumlah warga luka-luka 104 orang, 32 di antaranya mengalami luka berat dan 82 lainnya luka sedang.
Bantuan dari sejumlah pihak terus berdatangan mendukung upaya pemerintah daerah. Dari perusahaan dan perorangan serta institusi, tak segan menyumbangkan hartanya.
Tak ketinggalan para relawan bersama polisi dan tentara menyumbangkan tenaga membantu proses evakuasi dan melayani pengungsi. Terima kasih sebesar-besarnya kita haturkan atas kepedulian mereka.
Di sisi lain, aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih terus berlangsung. Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Pos Pengamatan Gunung Api Semeru periode Jumat pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, masih teramati adanya lava yang keluar dari kawah.
Karena alam memiliki daulatnya sendiri, tentu saja erupsi gunung berapi tak bisa dicegah. Upaya yang bisa dan harus dilakukan adalah menghindarkan jatuhnya banyak korban.
Tak berlebihan jika pemerintah berikhtiar sekuat tenaga agar jumlah korban erupsi bisa diminimalkan. Jadi tak ada anak-anak yang menjadi yatim-piatu atau orangtua yang kehilangan putra-putrinya meski kehendak itu tak terwujud kali ini.
Dari sudut itu, kita bisa menilai betapa pentingnya manajemen pencegahan dan penanggulangan bencana yang paripurna. Dimulai dari pengelolaan risiko, tanggap darurat hingga pemulihan.
Terlebih kita tahu, Indonesia memang tak banyak bisa mengelak dari berbagai risiko bencana alam. Posisi geografis negeri kita terletak di ujung pergerakan tiga lempeng dunia, yaitu Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/abduh-imanulhaq-atau-aim-wartawan-tribun-jateng_20170825_072028.jpg)