Berita Jepara

Mengenal Tradisi Prasah di Jepara: Penyerahan Seekor Kerbau ke Pengantin Perempuan

Video itu terekam seekor kerbau yang diarak oleh puluhan orang di Desa Guwosobokerto.

Penulis: Muhammad Yunan Setiawan | Editor: sujarwo

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Sebuah video berdurasi 30 detik beredar di linimasa Twitter. Dalam video itu terekam seekor kerbau yang diarak oleh puluhan orang, di Desa Guwosobokerto, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara.

Prosesi arak-arakan itu menarik perhatian banyak orang. Sepanjang pinggir jalan dipadati banyak warga yang menonton.

Ternyata, itu tak sekadar arak-arakan semata.

Warga setempat mengenal itu sebagai tradisi Prasah.

Petinggi (baca: Kepala Desa) Guwosobokerto, Suwargi mengatakan, prosesi arakan-arakan itu berlangsung pada Rabu (15/12/2021).

Ada salah satu warganya yang menjalankan tradisi Prasah, yakni penyerahan seekor kerbau kepada pengantin perempuan.

Menurutnya, tradisi tersebut sudah berlangsung sejak lama, warisan nenek moyang.

Hanya dua desa yang menjalankan tradisi itu, yakni Desa Sidigede dan Desa Guwosobokerto.

"Prasah itu artinya seserahan. Seserahan berupa hewan kerbau. Rata-rata hewan kerbau jantan yang bagus. Harganya kisaran minimal Rp 40 juta hingga Rp 50 juta," kata dia saat ditemui Tribun Jateng, Jumat (17/12/2021).

Saat proses penyerahan, kata dia, kerbau akan diarak dan digiring oleh sejumlah orang dari rumah pengantin laki-laki ke rumah pengantin perempuan.

Sisi keseruan dari prosesi tradisi ini, lanjutnya, saat kerbau marah. Semakin kerbau marah, semakin seru tontonan arak-arakan Prasah ini.

Penonton pun akan semakin tertarik.

"Tradisi itu sampai saat ini masih dilaksanakan, tapi tidak semua orang bisa. Hanya kalangan orang mampu saja," terang Suwargi.

Menurutnya, setiap gelaran Prasah setidaknya membutuhkan uang kurang lebih Rp 100 juta.

Selain untuk membeli seekor kerbau dengan kualitas prima, si punya hajat juga harus menyiapkan hal lain.

Hal demikian yang membuat tradisi Prasah semakin langka dan setiap ada prosesi itu langsung menjadi sasaran warga desa.

Tak hanya warga desa setempat, orang-orang dari desa lain juga tertarik menontonnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved