Minggu, 10 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jakarta

Polemik Banyak Orang Berduit Minta Gratisan Karantina Seusai Perjalanan Luar Negeri

Aturan karantina bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang pulang dari luar negeri terus menuai polemik, bersamaan dengan keterbatasan

Tayang:
TRIBUNNEWS/CECEP BURDANSYAH
Petugas medis memberikan penanganan kepada pasien di RS Darurat Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Jumat (1/5/2020). Wisma Atlet Kemayoran telah dialihfungsikan menjadi RS Darurat Covid-19, setelah pandemi Virus Corona mendera Indonesia. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Aturan karantina bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang pulang dari luar negeri terus menuai polemik, bersamaan dengan keterbatasan tempat karantina gratis yang disediakan pemerintah, dan tarif hotel untuk karantina yang dinilai mahal.

Komandan Satgas Udara Covid-19 Bandara Soekarno-Hatta, Letkol Agus Listiono menyebut, ada 50-60 wisatawan per hari yang memaksa dimasukkan ke Wisma Atlet untuk karantina setelah kepulangannya dari luar negeri.

Pada Selasa (21/12) lalu, tercatat sebanyak 57 wisatawan yang dimasukkan ke Wisma Atlet. Para wisatawan dari luar negeri yang memaksa menjalani karantina kesehatan di Wisma Atlet beralasan tidak memiliki uang.

"Alasannya uang, rata-rata itu (wisatawan minta karantina di Wisma Atlet-Red) tidak punya uang," katanya, dalam rekam suara, Rabu (22/12).

Padahal, menurut dia, mereka yang meminta untuk karantina secara gratis bertolak belakang dengan penampilannya atau latar belakang perjalanannya di luar negeri.

"Dari segala penampilan glamor dan sebagainya, itu bisa ke luar negeri, jalan-jalan.

Dilihat dari paspornya, dilihat dari penampilan, itu berhak (karantina) di hotel, bukan karantina di wisma.

Kalau menurut kami, melihat dengan kenyataan yang ada bisa ke luar negeri, harusnya bisa bayar hotel," jelasnya, dilansir dari Kompas.com.

Agus pun tak memiliki solusi untuk wisatawan yang mengaku tidak memiliki duit dan meminta untuk karantina di Wisma Atlet.

Saat ditanya apakah diizinkannya para wisatawan untuk karantina di Wisma Atlet adalah bentuk pelonggaran, Agus membantah hal itu.

Ia berujar, hal itu karena dirinya khawatir disebut arogan, sehingga mengizinkan para wisatawan karantina di wisma.

"Bukan ada kelonggaran. Mau tidak mau. Saya dibilang tidak manusiawi. Nanti saya sebagai petugas dibilang arogan," ucapnya.

Karena tidak ada solusi, Agus mengaku terpaksa memasukkan penumpang dari luar negeri ke Wisma Atlet untuk menjalani karantina kesehatan dengan syarat mereka ditempatkan di akhir antrean.

"Saya memiliki antisipasinya. Dia saya sendirikan, saya kelompokkan, untuk mengikuti jalur setelah yang berhak ke wisma. Dia yang paling terakhir untuk saya kirim ke Wisma (Atlet)," sambungnya.

Menurut dia, banyak wisatawan, terutama WNI, yang tak memahami aturan soal kelompok yang berhak menjalani karantina kesehatan di Wisma Atlet.

Tak sedikit di antara mereka yang memaksa untuk dikarantina di Wisma Atlet.

"Banyak wisatawan khususnya WNI yang tidak memahami siapa saja yang boleh ke wisma. Namun, dia memaksakan diri ke wisma," ujar Agus.

Padahal, dalam Ketentuan soal karantina kesehatan tersebut tercantum dalam surat edaran (SE) Satgas Covid-19 Nomor 25 Tahun 2021.

Dalam aturan itu jelas bahwa penumpang dari luar negeri yang bukan pekerja migran Indonesia, pelajar, atau aparatur sipil negara (ASN), wajib melakukan karantina kesehatan di hotel yang berbayar.

Siapkan kamar

Adapun, Koordinator Hotel Repatriasi, Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Vivi Herlambang mengatakan, saat ini, pihaknya telah menyiapkan 16.588 kamar dari 135 hotel di Jabodetabek untuk karantina mandiri bagi pelaku perjalanan yang kembali dari luar negeri.

Menurut dia, dari jumlah tersebut, sebanyak 9.322 kamar, atau 56,19 persen sudah terisi. "Sehingga masih ada 43 persen lagi yang masih bisa (tersedia) atau 7.266 kamar. Jadi jangan khawatir. Kalau jumlah kamar kami menyediakan," ," terangnya, dalam diskusi secara virtual melalui kanal YouTube BNPB, Kamis (23/12).

Vivi mengungkapkan, harga hotel karantina dari bintang 2 sampai bintang 5, dan luxury selama 9 malam 10 hari bervariasi. Ia menyebut, biaya hotel karantina tersebut sudah termasuk makan tiga kali sehari, laundry, PCR dua kali, tenaga kesehatan, transportasi dari bandara dan kamar.

Ia mencontohkan, untuk hotel bintang 2 dengan tarif Rp 6,75 juta dengan biaya maksimal Rp 7,24 juta.

"Bintang 3 dengan tarif Rp 7,74 juta, maksimalnya Rp 9,175 juta. Kemudian, bintang 4 tarifnya Rp 9,2 juta, maksimal Rp 11,4 juta; bintang 5 tarifnya Rp 12,4 juta sampai Rp 16 juta, sedangkan hotel luxury yang di atas bintang 5 itu tarifnya dari Rp 17 juta sampai Rp 21 juta," paparnya.

Vivi menyarankan masyarakat yang akan melakukan perjalanan ke luar negeri untuk melakukan reservasi hotel karantina terlebih dahulu, sehingga saat kembali ke Tanah Air sudah memiliki tempat karantina.

"Jadi bapak ibu bisa langsung pesan kamar pesan untuk karantina di laman https://quarantinehotelsjakarta.com," ujarnya. (Kompas.com/Tribunnews)

Baca juga: Apa Dampaknya Bila Pemerintah Hapus Premium dan Pertalite?

Baca juga: Hotline Semarang : Pak Kapan Vaksinasi untuk Siswa MI?

Baca juga: Ganjar Pranowo Nilai Mbah Minto Bisa Menghibur dan Menginspirasi

Baca juga: Pelaku Tabrak Lari yang Membuang Korban di Banyumas Ditangkap, Keluarga Korban Beri Tanggapan

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved