Berita Grobogan
Sebarkan Virus Gemar Membaca sampai Tulang-Tulang Retak: Kisah Yulianto dan Boneka Pustaka Bergerak
Kondisi tubuh yang melemah akibat sakit, ditambah kecelakaan lalu-lintas yang dialami, menjadikan 2019 sebagai tahun yang berat bagi Yulianto (31).
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: moh anhar
“Orang bilang minat baca warga Indonesia rendah. Tapi saya yakin permasalahannya adalah karena kurang meratanya distribusi buku dan kurangnya pembinaan minat baca,” ujar dia.
Berbekal keyakinan tersebut, Yulianto yang mengaku bersifat pemalu ini memutar otak. Dia lalu terpikir menggunakan boneka untuk mendongengkan buku cerita di depan anak-anak.
“Saya dulu pustakawan di sebuah SMP swasta. Awal 2018 saya berhenti dari pekerjaan. Lalu belajar mendongeng di Sanggar Cergam Kak Kempho Semarang. Setelah itu saya berkeliling ke pelosok-pelosok Grobogan membawa buku dan boneka,” kisah Yulianto.
Sejak saat itu, mengendarai sepeda motor matic-nya, Yuli menggendong buku-buku dan boneka ke pelosok-pelosok daerah.
Menerjang banjir, menerobos hutan, dan melintasi jalan setapak, dia bercerita dan membacakan buku di hadapan anak-anak.
Dari sekolah ke sekolah, dari TPQ ke TPQ.
Sepeda motornya sampai berkali-kali masuk bengkel karena kerap melalui medan ekstrem.
“Waktu itu belum ada Nana dan Mumun. Saya masih pakai boneka biasa yang saya beri nama Kam-Kam. Pakai boneka ini justru membantu saya mengatasi sifat saya yang pemalu. Jadi lebih mudah membuat anak tertarik dengan buku,” jelas dia.
Gerakan literasi Yulianto ini akhirnya dilirik oleh Nirwan Ahmad Arsuka, pendiri Pustaka Bergerak Indonesia.
Dia lalu diminta membuat boneka khusus sebagai ikon. Akhirnya lahirlah Nana, yang membawanya bertemu dengan Najwa Shihab.
Lalu belakangan lahir pula Mumun yang lebih berorientasi tradisional.
Cobaan Berat Tak Jadi Halangan
Setelah bergabung dengan Pustaka Bergerak Indonesia, aktivitas literasi Yulianto memiliki jangkauan lebih luas. Hal itu membuatnya lebih bersemangat.
Bersama rekan-rekan satu pergerakan, ia pernah mendapat donasi sepeda motor dan buku senilai puluhan juta rupiah dari Deutsche Bank.
Pada saat yang sama, pertengahan 2018, terjadi gempa besar di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Akhirnya donasi tersebut dikirimkan ke sana.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Boneka-Pustaka-Bergerak-30-12-2021-1.jpg)