Sabtu, 9 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Grobogan

Sebarkan Virus Gemar Membaca sampai Tulang-Tulang Retak: Kisah Yulianto dan Boneka Pustaka Bergerak

Kondisi tubuh yang melemah akibat sakit, ditambah kecelakaan lalu-lintas yang dialami, menjadikan 2019 sebagai tahun yang berat bagi Yulianto (31).

Tayang:
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG/MAZKA HAUZAN NAUFAL
Yulianto (31), pencetus Boneka Pustaka Bergerak, menunjukkan boneka tangannya yang bernama Mumun dan sertifikat apresiasi Satu Indonesia Awards Tingkat Provinsi Jawa Tengah bidang Pendidikan yang diberikan oleh PT Astra International. 

Di sisi lain, Yulianto juga semakin giat dengan Boneka Pustaka Bergerak-nya.

Dia rutin menggelar lapak-lapak baca di tiap penjuru Grobogan.

Sampai suatu hari di pertengahan 2019, dia menerima kabar buruk.

Ia dinyatakan mengidap suatu penyakit yang membuat daya tahan tubuhnya melemah.

“Ketahuan waktu donor darah. Saya memang rutin donor. Sudah berjalan 12 tahun. Kabar itu membuat saya depresi,” ungkap Yulianto.

Sempat dirundung kesedihan luar biasa.

Niat baik dan optimisme Yulianto menjadi penyelamat.

Dia ikhlas menerima nasibnya harus menjalani pengobatan seumur hidup.

“Saya menerima harus minum obat seumur hidup, yang penting bisa bermanfaat bagi banyak orang. Saya lanjutkan kegiatan saya,” tutur dia.

Saat semangatnya mulai bangkit kembali itulah, justru cobaan berat berikutnya menimpa Yulianto.

Dalam perjalanan menuju lokasi lapak baca, dia mengalami kecelakaan lalu-lintas.

Dia berupaya menghindari bus yang mengerem mendadak sampai sepeda motor yang ia kendarai terjatuh. Tulang lengan dan tempurung lututnya retak.

Selama dua bulan ia tidak bisa beraktivitas normal.

Namun, sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Meski tulang-tulangnya retak dan ia tak bisa menggerakkan kaki, Yulianto tetap mencari cara agar aktivitas literasi tetap “bergerak”.

Sambil tetap membuka lebar pintu Rumah Baca Bintang, Yulianto lalu menginisiasi empat simpul pustaka lainnya. Keempatnya ialah Rumah Baca Mulya Utama di Desa Dempel Kecamatan Karangrayung, Taman Baca Lurung Ceria di Desa Welahan Kecamatan Karangrayung, Padepokan Ayom Ayem di Desa Godan Kecamatan Tawangharjo, dan Teras Baca Rejosari di Desa Rejosari Kecamatan Grobogan.

Kelima simpul pustaka yang diinisiasi Yulianto itu memiliki penanggung jawab masing-masing dan terbuka bagi siapa saja.

Mendekatkan buku bacaan pada siapa pun yang haus ilmu pengetahuan, tanpa membedakan latar belakangnya.

“Selama pintunya terbuka, siapa pun boleh datang dan membaca secara gratis. Di Rumah Baca Bintang yang juga tempat tinggal saya ini bahkan orang boleh pinjam dan bawa pulang buku sebanyak-banyaknya,” tutur dia.

Baca juga: Menhub Minta Gerbang Tol Kalikangkung Menjadi Perhatian Saat Arus Balik di Jateng

Baca juga: Ratusan Warga Binaan Rutan Salatiga Ikuti Kegiatan Belajar Menghafal Alquran

Kepala Desa Sumberjosari, Sumondo, mengapresiasi Yulianto dan gerakan literasinya. Menurut dia, apa yang dilakukan Yulianto bisa memajukan desa.

“Sebab desa bisa maju dimulai dari gemar membaca, terutama bagi anak. Anak harus dibiasakan membaca sejak dini. Seperti di Jepang yang budaya membacanya bagus,” ujar dia.

Sumondo yakin, seperti halnya Yulianto yang yakin bahwa semua anak bisa menjadi “bintang” dengan gemar membaca. Keyakinan itu jugalah yang melatarbelakanginya memilih nama Rumah Baca Bintang. (*)

 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved