Polisi Sebut Kelompok Ekstremis dan Radikal di Belakang Aksi Protes Kazakhstan

Kementerian Dalam Negeri Kazakstan melaporkan lebih dari 200 orang telah ditangkap terkait aksi protes yang diwarnai kerusuhan itu.

Editor: Vito
AFP
Pengunjuk rasa mengepung gedung administrasi dan kantor wali kota di kota terbesar Kazakhstan, Almaty, Rabu (5/1). Demonstrasi besar yang dipicu kenaikan kenaikan harga energi di negara Asia Tengah berakhir lepas kendali dengan terjadinya kerusuhan. 

TRIBUNJATENG.COM, ALMATY - Kepala Polisi Kazakhstan, Kanat Taimerdenov dalam sebuah pernyataan mengatakan, kelompok ekstremis dan radikal berada di belakang aksi protes. Ia menambahkan, para demonstran merusak dan menjarah toko-toko.

Garda nasional dan pasukan militer telah bergabung dengan polisi untuk mengamankan kota, kata Taimerdenov. Kementerian Dalam Negeri Kazakstan melaporkan lebih dari 200 orang telah ditangkap terkait aksi protes yang diwarnai kerusuhan itu.

Delapan petugas polisi dan personel penjaga nasional tewas dalam kerusuhan di berbagai wilayah negara itu, menurut outlet lokal Kazakhstan Tengrinews.kz. Dikatakan juga, 317 petugas dan personel terluka, mengutip layanan pers Kementerian Dalam Negeri.

Selain aksi demonstrasi, bentrokan juga pecah di sejumlah wilayah dekat Almaty. Bandara Almaty termasuk satu objek yang menjadi sasaran penyerangan massa di tengah aksi demonstrasi besar yang mengguncang Kazakhstan.

Presiden Tokayev, dalam pidatonya pada Rabu (5/1) malam, yang disiarkan di saluran-saluran televisi negara, mengatakan, akan melakukan segala kemungkinan untuk melindungi kepentingan penduduk ibu kota, penduduk Almaty dan kota-kota lain yang telah menjadi korban agresi teroris.

Dia menekankan bahwa momen ini adalah momen yang sangat sulit dalam sejarah negara. "Banyak hal yang harus dipelajari, bagaimana itu terjadi dan mengapa. Tetapi yang utama sekarang adalah melindungi negara kita, melindungi warga negara kita," jelas Tokayev.

Sebelumnya pada hari yang sama, dalam sebuah pesan yang dibagikan di antara media Rusia, Tokayev mengatakan: "Ada kematian dan korban luka. Situasi mengancam keamanan semua penduduk Almaty, dan itu tidak dapat ditoleransi."

Bentrokan juga terjadi antara pasukan keamanan dan demonstran, yang menuntut diakhirinya lonjakan harga bahan bakar hingga dua kali lipat, gara-gara pemerintah mencabut aturan pembatasan harga BBM maksimal. Media lokal juga melaporkan, tempat tinggal Tokayev di ibu kota dibakar.

Pemerintahan Perdana Menteri Askar Mamin telah mengundurkan diri, dan Tokayev sudah mengumumkan keadaan darurat di Almaty.

Ia juga memberlakukan jam malam dan membatasi akses ke kota. Kazakstan juga menerapkan kembali batasan sementara harga maksimal LPG. Tindakan darurat diperluas ke seluruh negeri.

Pada tanggal 1 Januari lalu, pemerintah menaikkan harga bahan bakar gas cair (LPG) yang digunakan untuk kendaraan bermotor hingga dua kali lipat. Langkah itu memicu demonstrasi berulang di Almaty dan ibu kota Nursultan.

Meskipun kerusuhan dipicu oleh kenaikan harga BBM, ada tanda-tanda tuntutan politik yang lebih luas di negara yang masih di bawah bayang-bayang tiga dekade pemerintahan Nazarbayev.

Nazarbayev mengundurkan diri sebagai presiden pada 2019, tetapi mempertahankan otoritas sebagai ketua partai yang berkuasa dan kepala dewan keamanan yang punya otoritas sangat luas.

Para demonstran pada Rabu (5/1), dilaporkan masuk ke kantor walikota di Almaty, kota terbesar di Kazakstan. Menurut situs berita Zakon, para demonstran masuk dengan membawa tongkat dan tameng.

Polisi menembakkan granat kejut dan gas air mata ke arah kerumunan saat orang-orang menerobos barikade di jalan. (Tribunnews)

 

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved