Selasa, 21 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tuding Aksi Teroris, Presiden Kazakhstan Minta Bantuan Aliansi Keamanan

pelaku yang disebut sebagai teroris merebut bandara Almaty, termasuk lima pesawat, dan berperang dengan militer di luar kota.

Editor: Vito
Abduaziz MADYAROV / AFP
Petugas polisi anti huru hara menghalau pengunjuk rasa di jalanan pusat kota Almaty, Rabu (5/1/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, ALMATY - Bandara Almaty termasuk satu objek yang menjadi sasaran penyerangan massa di tengah aksi demonstrasi besar yang mengguncang Kazakhstan.

Layanan pers bandara Almaty mengatakan kepada outlet lokal Orda.kz, "ada sekitar 45 penyerang berada di bandara" pada Rabu (5/1) malam. "Petugas bandara mengevakuasi penumpang sendiri," tambah mereka, melansir CNN.

Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev dalam pidato televisi nasional pada Rabu (5/1), mengatakan, ia akan mengambil alih Dewan Keamanan negara itu.

Dalam pidato televisi kedua, Presiden Kazakh meminta bantuan dari aliansi militer yang terdiri dari negara-negara pasca-Soviet, setelah pelaku yang disebut sebagai teroris merebut bandara Almaty, termasuk lima pesawat, dan berperang dengan militer di luar kota.

"Kelompok teroris menyita fasilitas infrastruktur besar, khususnya di bandara Almaty, lima pesawat, termasuk pesawat asing. Almaty telah diserang, dihancurkan, dan dirusak," katanya.

Tokayev mengatakan, sejumlah fasilitas infrastruktur di kota itu juga rusak. Dia menuduh para pengunjuk rasa merusak sistem negara, dan mengeklaim banyak dari mereka telah menerima pelatihan militer di luar negeri.

Delapan petugas polisi dan personel penjaga nasional tewas dalam kerusuhan di berbagai wilayah negara itu, menurut outlet lokal Kazakhstan Tengrinews.kz. Dikatakan juga, 317 petugas dan personel terluka, mengutip layanan pers Kementerian Dalam Negeri.

Selain aksi demonstrasi, bentrokan juga pecah di sejumlah wilayah dekat Almaty. Polisi menuduh kelompok ekstremis dan radikal berada di belakang aksi protes.

Menurut kantor berita negara Kazinform, Tokayev meminta kepala Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO), yang meliputi Rusia, Belarus, dan Kirgistan, untuk membantu memadamkan kerusuhan.

Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, yang juga menjabat sebagai ketua CSTO, menuturkan, aliansi tersebut setuju mengirimkan pasukan perdamaian mereka ke Kazakhstan.

Kabar ini dikonfirmasi oleh sekretariat CSTO, Kamis (6/1). Badan itu menyampaikan, pasukan terjun payung Rusia telah dikerahkan ke Kazakhstan sebagai bagian dari pasukan perdamaian yang mereka janjikan sebelumnya.

Badan ini juga menyatakan bahwa tugas utama pasukan perdamaian ini ialah untuk melindungi fasilitas negara dan militer Kazakhstan, pun juga menolong pasukan hukum dan ketertiban negara itu.

Aliansi militer yang dipimpin Rusia mengatakan, akan mengirim pasukan penjaga perdamaian untuk menstabilkan kondisi negara, dan menyalahkan protes massa pada campur tangan pihak luar.

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengutuk kerusuhan tersebut dan meminta pengunjuk rasa dan pihak berwenang untuk menahan diri. AS menyebut Kazakstan sebagai "mitra yang berharga".

AS juga membantah tuduhan Rusia bahwa Washington telah memicu pecahnya kerusuhan. Juru Bicara Gedung Putih, Jen Psaki menyatakan, tuduhan itu "benar-benar salah". (Kompas.com/CNNIndonesia.com/Tribunnews)

 

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved