Berita Kudus
Pijar Park Kudus Buktikan Pengembangan Wisata Desa Bisa Berhasil Dikembangkan
Pemerintah Kabupaten Kudus komitmen mendukung ekonomi kerakyatan melalui sektor pariwisata yang dikembangkan di desa-desa.
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: moh anhar
Para pedagang kaki lima itu umumnya menjajakan kuliner khas lereng Muria, yaitu gethuk nyimut dan kopi Muria. Harganya pun ramah di kantong.
Kata Yusuf, setiap menu yang dijual di sana harganya di bawah Rp 10 ribu.
Keberadaan Pijar Park adalah satu di antara keberhasilan sektor pariwisata yang dikambangkan oleh masyarakat desa.
Pengelolaannya melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan bekerja sama dengan Perhutani melalui perjanjian kerja sama (PKS).
Dari situ kemudian hasil dari penjualan tiket dibagi menjadi dua, yakni 70 persen untuk LMDH dan sisanya untuk Perhutani.
"Pembagian itu dilakukan setelah dikurangi asuransi untuk pengunjung," kata dia.
Baca juga: Netizen Semarang Cibir Desain Tulisan Lapangan Pancasila di Simpanglima, Ini Fakta Asal-usulnya
Baca juga: Terus Bertambah, Korban Pesta Miras di Cepu Blora Jadi Enam Orang
Semakin pesatnya Pijar Park, dalam waktu dekat akan diluncurkan fasilitas baru berupa homestay yang berada di pohon. Yusuf menyebutnya runah pohon. Fasikitas tersebut bisa segera dinikmati pengunjung.
"Ada fasilitas TV, ada juga air panasnya. Kalau AC tidak ada, kan di sini sudah adem," kata dia.
Ke depan, Pijar pengelolaannya akan menjadi wewenang badan usaha milik desa. Keuntungan dari pengelolaannya agar bisa masuk ke dalam kas desa. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Pijar-Park-kudus-201.jpg)