Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Blora

Tanggapi Kebijakaan Mendag, Pedagang di Pasar Blora Ingin Harga Minyak Goreng Diturunkan

Pedagang di Pasar Sido Makmur bernama Nur faizah (47) ingin harga minyak goreng diturunkan.

Penulis: ahmad mustakim | Editor: sujarwo

TRIBUNJATENG.COM, BLORA – Pedagang di Pasar Sido Makmur bernama Nur faizah (47) menginginkan harga minyak goreng diturunkan.

Sebelumnya Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Muhammad Lutfi resmi menetapkan harga minyak goreng kemasan Rp 14.000 per liter pada Rabu, 19 Januari 2022, baik kemasan plastik maupun kemasan jeriken.

Hal itu berlaku di seluruh wilayah Indonesia.

“Menurut saya masih mahal, dulu seliter 12 ribu, kalau 14 masih kemahalan,” ucap Faizah saat ditemui tribunjateng di lapaknya Pasar Sido Makmur, Jumat (21/01/2022).

Nur faizah mengaku mengetahui kebijakan tersebut dari televisi.

“Saya tahu di tv, pak Jokowi kan mengumumkan. Sini masih 28 per liter, 2 liter pokoknya 45 ribu,” ujarnya.

Ibu dua anak ini mengungkapkan dengan kebijakan ini merasa keberatan.

“Kalau orang kecil gini ya mas, masih keberatan lah, pendapatan sedikit di bagi banyak, umpama beli beras tidak jadi, minyak nya mahal,” keluhnya.

Dirinya mengatakan harga salah satu tempat grosirnya masih seperti harga yang di pasar.

“Saya pengennya turun mas, tapi kan dari pusatnya (grosir) dulu, ini kan dagangan dari grosir,” ujar dia.

Dirinya berharap untuk harga diturunkan lagi. Supaya bisa beli beras, telur. Kalau harga minyak mahal mau beli yang lain tidak bisa. 

“Warga yang tidak punya semakin susah. Mau beli, tempe tidak jadi, minyaknya saja mahal. Saya merasakan betul, apalagi ini masih masa paceklik, mau beli beras masih pikir pikir. Yang penting berasnya,” tandasnya.

“Saya inginnya minyak turun jadi 10 ribu. Kalau tidak ya 12 lah,” imbuhnya.

Pedagaang yang sudah brdagaang hamper 20 tahun ini mengungkapkan masih menjual 20 ribu per liter (minyak di jabah).

“Harga minyak mahal, berasnya 10k, telur mahal. Itu sudah berapa mas? Belum LPGnya. Itu saja sudah 20k, padahal pemasukan tidak sampai segitu. Entek (habis) nganggur, mosok makan tidak pakai lauk. Orang kecil mas,” keluhnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved